Puisi: Laguna (Karya Soni Farid Maulana)

Puisi “Laguna” karya Soni Farid Maulana mengajak pembaca untuk menyelami perasaan terdalam—tentang kehilangan, kesunyian, dan proses menerima ...
Laguna

Akhirnya warna sepi
Dengan telunjuk gemetar aku torehkan
Pada sehampar pasir putih.
Seperti sediakala aku kembali mendengar
Lambak dan ombak yang mendesir dan berdebur
Ke pantai dan pesisir.
Adakah Jiwa yang luka di situ semacam
Bangkai tongkang, ketika nyala matamu yang diharap;
Hanya gelap bersambung gelap datang berulang?

Matahari menumpahkan tinta merah ke bumi
Burung-burung camar nyaris lenyap di udara
Pada sebongkah karang di tepi pantai
Aku temukan nasib hitam,
Juga maut yang berpuluh tahun lalu
Mengguratkan karat ajal pada jantung, hati,
Dan juga saluran nafasku yang kerap tersengal
Setiap menghirup gas beracun dilepas kata-kata
Yang kau ucap dengan mata terpejam,
Menolak cahaya.

Ya. Musik dan lagu telah
Memisah kita memang. Di pantai ini
Sinar matahari tinggal sekedip lilin
Bagai pasang surut lautan bahagia dan derita
Datang dan pergi. Bagai bangkai karang
Dan tripang berlumut, apa pun maknanya jiwaku
Dijilat ombak dan lambak yang mendesir
Dan berdebur ke pantai dan pesisir
Sebelum gelap tiba di situ

1990

Sumber: Kita Lahir Sebagai Dongengan (2000)

Analisis Puisi:

Puisi “Laguna” karya Soni Farid Maulana menghadirkan lanskap pantai yang indah sekaligus muram. Melalui perpaduan citraan alam dan emosi batin, puisi ini menjadi ruang refleksi tentang kehilangan, luka, dan kenangan yang terus datang seperti gelombang laut.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesunyian, luka batin, dan kenangan yang tak kunjung hilang.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di tepi pantai, berhadapan dengan laut dan kenangan masa lalu. Ia menorehkan “warna sepi” di pasir, seolah mencoba merekam atau meluapkan perasaannya.

Suara ombak yang datang dan pergi mengiringi ingatan akan seseorang yang pernah dekat, namun kini hanya menyisakan luka. Penyair juga merasakan dampak dari kata-kata yang menyakitkan, yang diibaratkan seperti racun yang mengganggu napas dan hidupnya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kenangan dan luka emosional dapat terus hidup dalam diri seseorang, bahkan ketika waktu telah berlalu.

Laut dan ombak menjadi simbol dari perasaan yang datang berulang—tidak pernah benar-benar hilang. “Matahari menumpahkan tinta merah” dapat dimaknai sebagai penderitaan atau luka yang membekas, sementara “gelap bersambung gelap” menunjukkan keputusasaan yang terus berlanjut.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa melankolis, sunyi, dan penuh kepedihan, dengan nuansa reflektif yang mendalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat diambil adalah bahwa manusia perlu menghadapi dan memahami luka batinnya, meskipun kenangan tersebut terasa menyakitkan. Puisi ini juga mengingatkan bahwa hidup terdiri dari pasang surut—bahagia dan derita yang datang silih berganti.

Imaji

Puisi ini sangat kaya akan imaji yang kuat, antara lain:
  • Imaji visual: pasir putih, karang, burung camar, matahari merah.
  • Imaji suara: ombak yang “mendesir dan berdebur”.
  • Imaji perasaan: sepi, luka, sesak napas.
  • Imaji suasana: pantai menjelang gelap.
Imaji tersebut membangun suasana yang hidup sekaligus emosional.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “warna sepi”, “tinta merah” sebagai simbol emosi.
  • Personifikasi: ombak yang seolah “menjilat” jiwa.
  • Simbolisme: laut sebagai lambang perasaan yang terus berulang.
  • Perbandingan (simile): “bagai pasang surut lautan” untuk menggambarkan perubahan emosi.
Puisi “Laguna” karya Soni Farid Maulana merupakan refleksi mendalam tentang luka dan kenangan yang terus hidup dalam diri manusia. Dengan latar alam yang puitis dan simbolik, puisi ini mengajak pembaca untuk menyelami perasaan terdalam—tentang kehilangan, kesunyian, dan proses menerima kenyataan hidup.

Soni Farid Maulana
Puisi: Laguna
Karya: Soni Farid Maulana

Biodata Soni Farid Maulana:
  • Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
  • Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.