Puisi: Lambang (Karya Yudhistira A.N.M. Massardi)

Puisi “Lambang” karya Yudhistira A.N.M. Massardi merupakan kritik sosial yang tajam terhadap sistem besar yang bergerak atas nama simbol dan ...
Lambang

Satu terbunuh
Raksasa berkaki delapan dibangunkan
Berjuta jiwa digerakkan. Dipacu maju

Hari sangat sibuk
Berkeringat dan gempar

Keletihan tak ada arti
Penderitaan tak perlu dikeluhkan
(tak ada yang sempat mendengar)

Raksasa bangkit menggetarkan negeri
Kedelapan kakinya kukuh
Membenamkan seluruh keluh

Jutaan suara tak bergema
Roda-roda diputar
Mesin-mesin menderu
Lambang-lambang terus diproduksi!

Mei, 1980

Sumber: Rudi Jalak Gugat (1982)

Analisis Puisi:

Puisi “Lambang” karya Yudhistira A.N.M. Massardi menghadirkan gambaran metaforis tentang kekuatan besar yang digerakkan oleh satu peristiwa. Dengan diksi singkat, padat, dan penuh tekanan, puisi ini memancarkan kritik sosial terhadap sistem yang massif, mekanistik, dan cenderung menenggelamkan suara individu.

Tema

Tema puisi ini adalah kekuasaan sistem kolektif yang besar dan mekanistik yang mengorbankan suara serta penderitaan individu.

Puisi ini bercerita tentang satu kematian (“Satu terbunuh”) yang justru membangunkan “raksasa berkaki delapan”. Raksasa itu menggerakkan berjuta jiwa dan memacu mereka maju.

Hari menjadi sibuk, gempar, dan penuh kerja keras. Namun, di tengah pergerakan besar itu, keletihan dan penderitaan individu tidak lagi berarti. Tidak ada yang sempat mendengar keluh kesah. Roda-roda diputar, mesin-mesin menderu, dan lambang-lambang terus diproduksi.

Puisi ini menggambarkan situasi ketika peristiwa tragis atau momentum tertentu dimanfaatkan untuk menggerakkan kekuatan besar—baik itu kekuatan politik, ideologi, industri, atau propaganda.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap sistem atau kekuasaan yang menggunakan simbol dan mobilisasi massa untuk menutupi realitas penderitaan individu.

“Raksasa berkaki delapan” dapat dimaknai sebagai metafora negara, rezim, ideologi, atau mesin industri yang memiliki banyak kaki penopang—institusi, aparat, atau struktur kekuasaan. Delapan kaki yang kukuh melambangkan stabilitas sekaligus dominasi.

Produksi “lambang-lambang” menyiratkan penciptaan simbol-simbol kekuasaan atau propaganda yang terus digulirkan, sementara jutaan suara justru tidak bergema. Ada kontras tajam antara mobilisasi besar dan hilangnya suara personal.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa tegang, gempar, dan mekanistik, dengan nuansa kritik yang dingin dan tajam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini dapat dipahami sebagai berikut:
  • Waspadai sistem besar yang mengorbankan suara individu demi simbol dan citra.
  • Jangan biarkan penderitaan manusia tenggelam dalam gemuruh mesin dan propaganda.
  • Refleksikan makna di balik simbol-simbol yang diproduksi secara masif.
Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih kritis terhadap kekuatan kolektif yang tampak heroik namun mungkin menyembunyikan ironi.

Puisi “Lambang” karya Yudhistira A.N.M. Massardi merupakan kritik sosial yang tajam terhadap sistem besar yang bergerak atas nama simbol dan kekuatan kolektif. Melalui metafora raksasa dan mesin, penyair memperlihatkan bagaimana individu dan penderitaannya dapat tenggelam dalam gemuruh produksi simbolik. Puisi ini menjadi pengingat agar manusia tetap peka terhadap suara-suara kecil di tengah dominasi kekuasaan yang masif.

Yudhistira ANM Massardi
Puisi: Lambang
Karya: Yudhistira A.N.M. Massardi

Biodata Yudhistira A.N.M. Massardi
  • Yudhistira A.N.M. Massardi (nama lengkap Yudhistira Andi Noegraha Moelyana Massardi) lahir pada tanggal 28 Februari 1954 di Karanganyar, Subang, Jawa Barat.
  • Yudhistira A.N.M. Massardi dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1980-1990-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.