Puisi: Langgar Tua di Pantai Juwana (Karya Iman Budhi Santosa)

Puisi “Langgar Tua di Pantai Juwana” karya Iman Budhi Santosa mengingatkan bahwa kerja keras dan ibadah bukan dua hal yang terpisah, melainkan ...
Langgar Tua di Pantai Juwana

Azan dan ombak bergandengan
menyongsong malam. Bertahun merangkai
kisah kelapa dan lidi, sambil bertapa
meneruskan hikayat santri
pantai utara pulau Jawa

Papan dan bambu, genting dan kayu
pasir sampai detik waktu
saling berikrar, supaya pantai mendengar
belajar dan memuji

Di sini Juwana. Angin sejenak reda
laut hilang suara
ketika maghrib mendarat, dan cuaca
menggandeng nelayan-nelayan
berjamaah di bawah lampu minyak temaram
sebelum kembali menjadi ikan
menerima asin garam
rumah kedua
di lautan

1997

Sumber: Dunia Semata Wayang (2005)

Analisis Puisi:

Puisi “Langgar Tua di Pantai Juwana” karya Iman Budhi Santosa menghadirkan potret kehidupan religius masyarakat pesisir pantai utara Jawa. Dengan latar langgar sederhana di tepi laut, penyair memadukan suara azan, ombak, nelayan, dan anak-anak mengaji menjadi satu kesatuan harmoni spiritual dan kultural.

Tema

Tema puisi ini adalah harmoni antara religiusitas dan kehidupan masyarakat pesisir.

Puisi ini bercerita tentang sebuah langgar tua di Pantai Juwana yang menjadi pusat aktivitas spiritual masyarakat. Azan dan ombak digambarkan bergandengan menyongsong malam, seolah suara alam dan suara ibadah berpadu dalam satu irama.

Langgar itu telah bertahun-tahun merangkai kisah kelapa dan lidi—simbol kesederhanaan dan tradisi—serta meneruskan hikayat santri di pesisir utara Jawa.

Bangunan yang terbuat dari papan, bambu, genting, dan kayu menjadi saksi anak-anak mengaji, belajar, dan memuji Tuhan. Saat maghrib tiba, angin dan laut seakan hening. Nelayan berjamaah di bawah lampu minyak temaram sebelum kembali ke laut—“rumah kedua”—untuk menerima asin garam kehidupan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa spiritualitas tumbuh subur dalam kesederhanaan. Langgar tua bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol keteguhan iman yang menyatu dengan alam dan tradisi.

Azan yang bergandengan dengan ombak melambangkan keselarasan antara manusia, Tuhan, dan alam. Nelayan yang kembali menjadi “ikan” menyiratkan totalitas hidup mereka yang lebur dengan laut, sekaligus kepasrahan terhadap takdir.

Puisi ini juga merekam identitas budaya pantai utara Jawa, di mana agama, kerja, dan alam saling bertaut erat.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini tenang, khusyuk, dan hangat. Ada nuansa sakral yang lembut ketika maghrib mendarat dan nelayan berjamaah di bawah cahaya lampu minyak.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya menjaga tradisi, kesederhanaan, dan kebersamaan dalam kehidupan beragama. Puisi ini juga mengingatkan bahwa kerja keras dan ibadah bukan dua hal yang terpisah, melainkan saling melengkapi dalam kehidupan sehari-hari.

Puisi “Langgar Tua di Pantai Juwana” karya Iman Budhi Santosa adalah potret puitik kehidupan religius masyarakat pesisir Jawa. Dengan perpaduan citraan alam dan aktivitas ibadah, penyair menampilkan harmoni antara azan dan ombak, antara kerja dan doa.

Langgar tua menjadi simbol ketahanan tradisi di tengah kerasnya kehidupan laut. Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat keindahan spiritual dalam kesederhanaan dan kebersamaan masyarakat pesisir.

Iman Budhi Santosa
Puisi: Langgar Tua di Pantai Juwana
Karya: Iman Budhi Santosa

Biodata Iman Budhi Santosa:
  • Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
  • Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.