Sumber: Buli-Buli Lima Kaki (2010)
Analisis Puisi:
Puisi “Lazar” karya Nirwan Dewanto merupakan teks liris yang padat, reflektif, dan sarat rujukan religius. Judulnya merujuk pada figur Lazarus dalam tradisi Kristen—tokoh yang dibangkitkan dari kematian oleh Yesus (Yeshua). Namun, alih-alih merayakan kebangkitan, puisi ini justru menghadirkan perspektif yang paradoksal: subjek lirik menolak direnggut dari kematian.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kematian sebagai pilihan eksistensial, bukan sekadar takdir biologis. Kematian tidak diposisikan sebagai tragedi, melainkan sebagai sesuatu yang hendak “dimiliki” secara sadar:
“Aku tengah berusaha memilikinya.”
Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema relasi manusia dengan Tuhan, terutama dalam konteks kuasa ilahi atas hidup dan mati. Ada ketegangan antara kehendak manusia dan intervensi transendental.
Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada dalam kematian—di dalam “mausoleum” dan “kafan”—yang berbicara kepada sosok bernama Yeshua (Yesus). Ia meminta agar pintu makam ditutup kembali dan menolak cahaya dari luar.
Dalam narasi Alkitab, Lazarus dibangkitkan oleh Yesus. Namun dalam puisi ini, suara Lazar justru memohon agar kematian tidak direnggut darinya. Ia tidak ingin dibangkitkan. Ia menolak terang dan memilih tetap berada dalam sejuknya kafan.
Puisi ini membalik kisah kebangkitan menjadi monolog eksistensial tentang hak atas kematian.
Makna Tersirat
Puisi ini dapat dibaca sebagai kritik atau perenungan terhadap konsep keselamatan. Jika dalam doktrin religius kebangkitan adalah anugerah, dalam puisi ini kebangkitan justru terasa seperti perampasan.
Baris:
“Yeshua, bukanlah aku juru selamatmu.”
mengandung ironi yang kuat. Secara teologis, Yesus adalah juru selamat. Namun di sini, Lazar menegaskan bahwa kebangkitannya bukan demi menyelamatkan Yeshua atau membenarkan mukjizat-Nya. Ada semacam penolakan untuk dijadikan simbol.
Puisi ini dapat dimaknai sebagai pernyataan tentang otonomi eksistensial: manusia ingin memiliki bahkan kematiannya sendiri, tanpa dijadikan alat bagi narasi besar—agama, sejarah, atau kuasa ilahi.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung hening, gelap, dan kontemplatif. Nuansa makam dan kafan menghadirkan atmosfer sunyi yang intim. Namun kesunyian ini bukan ketakutan, melainkan ketenangan:
“Dalam kafan yang mulai terasa sejuk ini”
Kata “sejuk” memberi kesan damai, bukan ngeri. Kematian digambarkan sebagai ruang privat yang justru diganggu oleh “terang di luar sana”.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Secara implisit, amanat puisi ini adalah refleksi tentang hak individu atas hidup dan mati. Puisi ini mengajak pembaca mempertanyakan asumsi bahwa hidup selalu lebih baik daripada mati, atau bahwa keselamatan selalu harus diterima. Ada juga pesan tentang subjektivitas: setiap pengalaman—bahkan kematian—memiliki dimensi personal yang tidak selalu sejalan dengan narasi umum atau keyakinan kolektif.
Puisi “Lazar” karya Nirwan Dewanto merupakan reinterpretasi radikal atas kisah kebangkitan Lazarus. Dengan bahasa yang ringkas namun sarat makna, puisi ini menempatkan kematian sebagai ruang otonom yang ingin dipertahankan oleh subjek lirik.
Puisi ini mengajak pembaca merenungkan pertanyaan mendasar: apakah hidup selalu lebih utama daripada kematian, dan siapakah yang berhak menentukan batas antara keduanya?
Biodata Nirwan Dewanto:
- Nirwan Dewanto lahir pada tanggal 28 September 1961 di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
