Puisi: Lelaki Tua dan 6 Potong Dagingnya (Karya Oka Rusmini)

Puisi “Lelaki Tua dan 6 Potong Dagingnya” karya Oka Rusmini mengingatkan pada periode krisis nasional menjelang runtuhnya Orde Baru, ketika ...
Lelaki Tua dan 6 Potong Dagingnya

Kota-kota jadi abu
bangkai-bangkai tertanam di dinding-dinding pucat
lelaki itu tetap duduk
sebuah upacara besar dilakukan sambil mendekap 6 potong dagingnya yang menjelma jadi buas
mirip anjing-anjing lapar yang menggigit rupiah, gedung-gedung bertingkat, tumbuhan, binatang
(mereka juga melahap seluruh benda-benda hidup di bumi ini)
"perempuanku mati 2 potong dagingku meletuskan api merubuhkan pagar penjagaku"

Lelaki tua itu melepasnya
amarahnya, seperti kanak-kanak yang kehilangan gundu
diam-diam dibukanya sayapnya
anjing-anjing mulai mendekat berharap menjadi penjaganya sambil sesekali ikut melahap seluruh benda hidup milik rakyatnya
Anjing-anjing itu menjadi penjaga
mereka menari di layar TV
ketika lelaki tua itu memberi mereka nama
"jaga 6 potong dagingku, telah kuselamatkan bumi dari rajam sejarah hitam"

Denpasar, 12 Mei 1998

Sumber: Haluan Kepri (Minggu, 15 Januari 2017)

Analisis Puisi:

Puisi “Lelaki Tua dan 6 Potong Dagingnya” karya Oka Rusmini ditulis dalam konteks sosial-politik yang genting. Tanggal 12 Mei 1998 mengingatkan pada periode krisis nasional menjelang runtuhnya Orde Baru, ketika kekerasan, kerusuhan, dan gejolak ekonomi melanda berbagai kota di Indonesia. Latar ini penting untuk memahami intensitas simbolik dalam puisi.

Puisi ini menghadirkan kritik sosial yang tajam melalui metafora dan simbol yang keras serta satir.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kekuasaan yang korup dan destruktif, serta kekerasan struktural terhadap rakyat. Puisi ini juga mengangkat tema tentang kerakusan, pengkhianatan terhadap amanat rakyat, dan manipulasi kekuasaan melalui citra dan media.

Selain itu, ada dimensi tema tentang kehancuran moral dan sosial dalam sebuah rezim yang sedang runtuh.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang seorang “lelaki tua” yang memeluk “6 potong dagingnya” yang menjelma menjadi buas seperti “anjing-anjing lapar”. Daging-daging itu menggigit “rupiah, gedung-gedung bertingkat, tumbuhan, binatang,” bahkan “seluruh benda-benda hidup di bumi ini.”

Gambaran tersebut menunjukkan kekuatan destruktif yang dilepaskan oleh sosok lelaki tua. Ketika “perempuanku mati,” dua potong dagingnya “meletuskan api merubuhkan pagar penjagaku.” Ada indikasi kekacauan yang dipicu oleh kehilangan legitimasi atau simbol tertentu.

Anjing-anjing yang semula buas kemudian menjadi penjaga dan “menari di layar TV,” seolah-olah kekuasaan direproduksi melalui media dan propaganda.

Makna Tersirat

Puisi ini sangat politis. “Lelaki tua” dapat ditafsirkan sebagai simbol penguasa yang telah lama berkuasa. “6 potong daging” dapat dimaknai sebagai unsur-unsur kekuatan yang menopang kekuasaan—bisa berupa institusi, kroni, aparat, atau struktur ekonomi-politik.

“Anjing-anjing lapar” melambangkan aparatus kekuasaan atau elite yang rakus, yang menggerogoti sumber daya negara (“rupiah, gedung-gedung bertingkat”). Frasa “menari di layar TV” menyiratkan manipulasi citra publik melalui media massa.

Baris:

“telah kuselamatkan bumi dari rajam sejarah hitam”

mengandung ironi. Penguasa mengklaim diri sebagai penyelamat, padahal realitas menunjukkan kehancuran (“Kota-kota jadi abu”).

Puisi ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap narasi resmi kekuasaan yang menutupi kekerasan dengan klaim heroik.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini gelap, brutal, dan penuh kemarahan terpendam. Citra “bangkai-bangkai tertanam di dinding-dinding pucat” menciptakan atmosfer horor sosial. Ada kesan apokaliptik—kota menjadi abu, kehidupan dilahap.

Namun di balik kekerasan itu, terdapat nada satir dan sinis, terutama ketika anjing-anjing “menari di layar TV.” Kekuasaan tampil seperti pertunjukan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Secara implisit, amanat puisi ini adalah kritik terhadap kekuasaan yang menyimpang dari kepentingan rakyat. Puisi ini mengingatkan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kerakusan dan manipulasi pada akhirnya menghancurkan kehidupan itu sendiri. Ada pula pesan agar masyarakat waspada terhadap propaganda dan simbol-simbol penyelamatan palsu yang dikonstruksi oleh penguasa.

Puisi “Lelaki Tua dan 6 Potong Dagingnya” merupakan karya yang sarat kritik sosial dan politik. Melalui simbol “lelaki tua,” “6 potong daging,” dan “anjing-anjing,” Oka Rusmini membangun alegori tentang kekuasaan yang rakus dan manipulatif pada masa krisis.

Puisi ini menjadi refleksi puitik atas sejarah kelam dan dinamika kekuasaan yang meninggalkan “kota-kota jadi abu.”

Oka Rusmini
Puisi: Lelaki Tua dan 6 Potong Dagingnya
Karya: Oka Rusmini

Biodata Oka Rusmini:
  • Oka Rusmini lahir di Jakarta pada tanggal 11 Juli 1967.
© Sepenuhnya. All rights reserved.