Lingsir
jejak atas pasir
diusir deras arus air
maut bergulir
matahari pun lingsir
dan kau berkata:
apa yang tersisa di rongga dada
selain kata, selain cahaya, atau kelam?
langit redup seperti warna hutan
dalam kabut
barangkali dulu
seseorang pernah datang
ke ranjangmu. Datang
dengan berkuntum
bunga teratai
dan mungkin setelah itu:
ia berkemah di balik dastermu
berselancar di ombak tubuhmu
dan kau tak kuasa menolaknya?
ya, memang: maut menggilir
dan hari bergulir. Lalu detik jam
dalam tubuhmu kian lemah suaranya
aku dengar. Adakah ia serupa tanda
bahwa matahari yang lingsir
tak lagi menggelar fajar
sebab ia meledak sudah
di langit yang lain, di luar kata
yang diburu para penyair.
aku tahu ada yang ingin
kau katakan, sebelum subuh
sehening batu: di tebing
kalbumu yang curam
2005
Sumber: Angsana (2007)
Analisis Puisi:
Puisi “Lingsir” karya Soni Farid Maulana menghadirkan refleksi mendalam tentang kefanaan, waktu, tubuh, dan kematian. Dengan diksi yang padat dan metaforis, penyair membangun suasana kontemplatif yang menyentuh wilayah eksistensial manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kefanaan hidup dan kesadaran akan kematian. Kata “maut” yang berulang, serta frasa “matahari pun lingsir” (matahari yang condong atau hampir tenggelam), menjadi simbol kuat tentang akhir perjalanan—baik perjalanan hidup, cinta, maupun keberadaan itu sendiri.
Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang tubuh, kenangan, dan relasi intim yang terikat oleh waktu. Ada nuansa refleksi terhadap pengalaman masa lalu yang kini hanya tersisa sebagai gema dalam kesadaran.
Makna Tersirat
Puisi ini berkaitan dengan kesadaran eksistensial: bahwa hidup, cinta, dan tubuh pada akhirnya tunduk pada hukum waktu. Jejak kehidupan manusia mudah terhapus, sebagaimana jejak di pasir yang tersapu arus.
“Matahari yang lingsir” dapat ditafsirkan sebagai simbol usia yang menua atau kehidupan yang menuju senja. Ketika disebutkan bahwa matahari “tak lagi menggelar fajar”, itu menyiratkan kemungkinan akhir yang final—kematian sebagai batas yang tak bisa dinegosiasikan.
Ledakan matahari “di langit yang lain” dapat dimaknai sebagai perpindahan eksistensi—kemungkinan kehidupan lain, keabadian dalam dimensi berbeda, atau sekadar metafora tentang ketiadaan yang tak terjangkau bahasa.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung muram, hening, dan kontemplatif. Imaji seperti:
- “langit redup seperti warna hutan / dalam kabut”
- “sebelum subuh sehening batu”
- “di tebing kalbumu yang curam”
membangun atmosfer kesunyian yang pekat dan penuh perenungan. Ada rasa getir, kehilangan, sekaligus penerimaan yang lirih terhadap takdir waktu.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Secara implisit, amanat puisi ini adalah ajakan untuk menyadari kefanaan hidup dan menghargai waktu yang terus berjalan. Tidak ada yang abadi—baik cinta, gairah tubuh, maupun kehidupan itu sendiri. Puisi ini juga seolah mengingatkan bahwa kata-kata memiliki keterbatasan. Bahkan penyair pun “memburu” kata untuk menjelaskan sesuatu yang pada akhirnya melampaui bahasa—yakni kematian dan misteri keberadaan.
Puisi “Lingsir” karya Soni Farid Maulana merupakan refleksi puitik tentang waktu, tubuh, cinta, dan kematian. Melalui metafora yang kuat dan imaji yang tajam, penyair menghadirkan kesadaran bahwa segala sesuatu akan bergulir menuju akhir. Kata-kata berusaha menangkap makna, tetapi pada akhirnya ada wilayah sunyi—“sebelum subuh sehening batu”—yang hanya bisa dirasakan, bukan dijelaskan. Puisi ini menempatkan manusia dalam lanskap kefanaan yang indah sekaligus getir, mengajak pembaca merenungi jejak hidup yang mungkin suatu saat akan terhapus, namun tetap bermakna selama ia ada.
Puisi: Lingsir
Karya: Soni Farid Maulana
Biodata Soni Farid Maulana:
- Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
- Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
