Puisi: Madah Merah (Karya Nirwan Dewanto)

Puisi “Madah Merah” karya Nirwan Dewanto mengingatkan bahwa dalam relasi manusia, selalu ada misteri yang tak sepenuhnya dapat dipecahkan—“alismu ...
Madah Merah

Terlalu dekat kau ke lumbung padi
sehingga rambutmu tak kilau lagi.
Terlalu pagi mungkin kauminta aku
mengunggah sembilu ke tepian dagu.

Terlalu gabah kutampi bebayangmu,
terlalu payah kautenggang lingkar nyiru.
Tapi tengah hari alismu tetap teka-teki
meski terengah lidahku ke ujung nyanyi.

Layu tanganku seperti kembang sepatu
tak lagi terperam di sebarang rambutmu.
Pada payudaramu bibirku akan lupa,
pada ani-ani buku jarimu berutang luka.

Lempang pematang oleh mata dara,
terbang kiambang oleh mara buah ara,
tapi tak lagi menjulai malai jantungku
sebab sembunyi darahmu ke pucuk meru.

2006

Sumber: Jantung Lebah Ratu (2008)

Analisis Puisi:

Puisi “Madah Merah” karya Nirwan Dewanto merupakan sajak liris yang padat simbol dan metafora. Diksi yang digunakan cenderung arkais dan agraris—seperti “lumbung padi”, “gabah”, “nyiru”, “ani-ani”, “pematang”, dan “kiambang”—yang membangun lanskap pedesaan sekaligus menghadirkan lapisan makna sensual dan eksistensial.

Judul “Madah Merah” sendiri menyiratkan sebuah nyanyian (madah) tentang gairah, darah, atau hasrat—yang di dalam puisi ini tampil dalam bentuk simbolik dan tidak langsung.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta dan hasrat yang mengalami ketegangan, jarak, atau ketidaksampaian. Cinta tidak digambarkan secara romantik sentimental, melainkan sebagai energi yang rumit, bahkan menyakitkan.

Tema lain yang mengemuka adalah relasi tubuh dan alam—bagaimana tubuh manusia diparalelkan dengan elemen agraris dan lanskap pedesaan.

Makna Tersirat

Puisi ini berkaitan dengan dinamika hasrat yang tidak selalu berujung kepuasan. Kedekatan fisik atau emosional tidak menjamin pemahaman batin.

Simbol agraris seperti “ani-ani” (alat panen) dan “gabah” mengisyaratkan proses menuai—namun yang dituai bukan hanya cinta, melainkan juga luka. Ungkapan:

“pada ani-ani buku jarimu berutang luka”

menyiratkan bahwa dalam relasi tersebut terdapat konsekuensi dan pengorbanan.

“Darahmu ke pucuk meru” dapat dimaknai sebagai gairah atau vitalitas yang menjauh ke tempat tinggi—menjadi sesuatu yang sulit diraih. Dengan demikian, puisi ini berbicara tentang cinta yang intens tetapi juga problematik.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung muram, penuh ketegangan, dan melankolis. Ada nuansa sensual yang kuat, tetapi juga terasa getir dan letih.

Nada puisi tidak meledak-ledak, melainkan tertekan dan reflektif, seolah-olah penyair menyadari keterbatasannya dalam menjangkau sang kekasih.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Secara implisit, amanat puisi ini adalah bahwa cinta dan hasrat bukanlah pengalaman yang sederhana. Kedekatan bisa melahirkan luka, dan gairah bisa berubah menjadi jarak. Puisi ini juga mengingatkan bahwa dalam relasi manusia, selalu ada misteri yang tak sepenuhnya dapat dipecahkan—“alismu tetap teka-teki.”

Puisi “Madah Merah” karya Nirwan Dewanto merupakan sajak yang padat metafora dan simbol agraris untuk menggambarkan dinamika cinta yang kompleks. Puisi ini menghadirkan pengalaman membaca yang intens dan reflektif.

Sajak ini tidak menawarkan romantisme sederhana, melainkan menampilkan cinta sebagai proses panen yang kadang menyisakan luka—sebuah madah yang merah oleh gairah sekaligus darah.

Nirwan Dewanto
Puisi: Madah Merah
Karya: Nirwan Dewanto

Biodata Nirwan Dewanto:
  • Nirwan Dewanto lahir pada tanggal 28 September 1961 di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.