Puisi: Marabencana (Karya Mohammad Diponegoro)

Puisi “Marabencana” karya Mohammad Diponegoro merupakan bentuk puitisasi dari Surah Al-Qāri‘ah dalam Al-Qur’an. Penyair mentransformasikan ...
Marabencana
(Puitisasi terjemahan al-Qur'an: Al-Qari'ah)

Marabencana!
kautahu apakah marabencana?
dan betapa ngeri marabencana?
kapan manusia bagai belalang tersara-bara
dan segunung bagai bulu terbancau-bilau
maka siapa berat timbangannya
ia akan hidup kesenangan
dan siapa ringan amalnya
Hawiah jadi ibunya
dan kautahu apakah Hawiah?
api panas membakar ganas!

Sumber: Kabar dari Langit (1988)

Analisis Puisi:

Puisi “Marabencana” karya Mohammad Diponegoro merupakan bentuk puitisasi dari Surah Al-Qāri‘ah dalam Al-Qur’an. Penyair mentransformasikan terjemahan makna ayat ke dalam struktur puitik yang padat, ritmis, dan penuh daya retoris. Kata “marabencana” sendiri merujuk pada peristiwa dahsyat—hari kiamat—yang mengguncangkan seluruh tatanan kehidupan.

Puisi ini tidak hanya menghadirkan gambaran kehancuran kosmik, tetapi juga menggarisbawahi dimensi eskatologis tentang perhitungan amal manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah hari kiamat dan pengadilan akhir atas amal manusia. Puisi ini mengangkat tema kehancuran besar (katastrofe kosmik) yang diikuti oleh penimbangan amal sebagai penentu nasib akhir manusia. Tema lain yang menyertainya adalah pertanggungjawaban moral dan konsekuensi spiritual.

Puisi ini bercerita tentang peristiwa marabencana—hari yang mengguncangkan manusia dan alam semesta. Penyair membuka dengan pertanyaan retoris:

“Marabencana!
kautahu apakah marabencana?
dan betapa ngeri marabencana?”

Struktur ini menegaskan kedahsyatan peristiwa yang melampaui imajinasi biasa. Gambaran kehancuran diperjelas melalui citraan:

“kapan manusia bagai belalang tersara-bara
dan segunung bagai bulu terbancau-bilau”

Manusia digambarkan seperti belalang yang beterbangan tanpa arah, sedangkan gunung—simbol kekokohan—menjadi ringan seperti bulu. Setelah kehancuran kosmik itu, tibalah fase penimbangan amal:

“maka siapa berat timbangannya
ia akan hidup kesenangan
dan siapa ringan amalnya
Hawiah jadi ibunya”

Puisi berakhir dengan penegasan tentang Hawiah, yang dijelaskan sebagai:

“api panas membakar ganas!”

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah peringatan tentang kefanaan dunia dan kepastian hari pembalasan. Kehancuran alam bukan sekadar peristiwa fisik, tetapi simbol runtuhnya segala kepastian duniawi.

Perbandingan manusia dengan belalang menyiratkan kelemahan dan ketidakberdayaan manusia di hadapan kuasa Ilahi. Sementara gunung yang “bagai bulu” menegaskan bahwa sesuatu yang paling kokoh sekalipun akan hancur.

Istilah “Hawiah jadi ibunya” mengandung makna metaforis bahwa neraka menjadi tempat kembali bagi mereka yang ringan amalnya—sebuah ungkapan yang kuat secara teologis.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini sangat mencekam, dahsyat, dan penuh ancaman. Repetisi pertanyaan retoris serta penggunaan tanda seru memperkuat nada peringatan dan kegentingan.

Ada atmosfer apokaliptik yang terasa kuat: dunia diguncang, manusia tercerai-berai, dan api neraka membayangi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini jelas: manusia harus menyadari bahwa setiap amal akan diperhitungkan. Kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan akhirat adalah tempat penentuan nasib yang kekal. Puisi ini mengajak pembaca untuk memperberat timbangan amal kebaikan dan menjauhi perbuatan yang dapat menjerumuskan pada kebinasaan.

Puisi “Marabencana” karya Mohammad Diponegoro merupakan puitisasi yang kuat dari Surah Al-Qāri‘ah. Puisi ini menghadirkan peringatan yang tegas tentang konsekuensi moral kehidupan. Karya ini menunjukkan bagaimana teks religius dapat ditransformasikan menjadi ekspresi puitik yang tetap mempertahankan daya spiritual dan dramatiknya.

Puisi: Marabencana
Puisi: Marabencana
Karya: Mohammad Diponegoro

Biodata Mohammad Diponegoro:
  • Mohammad Diponegoro lahir di Yogyakarta, pada tanggal 28 Juni 1928.
  • Mohammad Diponegoro meninggal dunia di Yogyakarta, pada tanggal 9 Mei 1982 (pada usia 53 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.