Puisi: Mawar dan Nenek Tua (Karya D. Zawawi Imron)

Puisi “Mawar dan Nenek Tua” karya D. Zawawi Imron mengajarkan pentingnya kasih sayang, kesetiaan, dan penghargaan terhadap orang tua sebelum ...

Mawar dan Nenek Tua


nenek tua, nenek renta
ia punya jambangan
dan mawar yang gemetar

ia tanam mawar itu
buat anaknya yang mengembara
sejak kecil mula
hanyalah anak satu-satunya
tempat menyerahkan hari tua
lemah dan nyawa
sampai kini ditunggunya
tak kunjung datang
lagi ditunggunya
tapi tak kunjung pulang

ketika seorang malaikat
menghampirinya
untuk menyerahkannya kepada bumi
masih disiramnya mawar itu
dengan airmatanya

1967

Sumber: Jalan Hati Jalan Samudra (2010)

Analisis Puisi:

Puisi “Mawar dan Nenek Tua” karya D. Zawawi Imron merupakan sajak yang sarat emosi dan simbolisme tentang kasih sayang, kesetiaan, serta penantian seorang ibu (nenek) terhadap anaknya. Dengan bahasa sederhana namun penuh daya getar, puisi ini menghadirkan gambaran batin yang dalam tentang cinta yang tak pernah padam meskipun waktu terus berjalan.

Tema

Tema puisi ini adalah kasih sayang seorang ibu/nenek dan penantian yang panjang terhadap anak yang pergi merantau.

Puisi ini bercerita tentang seorang nenek tua yang hidup dalam kesepian sambil merawat mawar di jambangannya. Mawar tersebut ia tanam untuk anak satu-satunya yang telah lama mengembara sejak kecil.

Sang nenek terus menunggu kepulangan anaknya, meskipun waktu terus berlalu tanpa kepastian. Penantian itu berlangsung hingga akhir hayatnya. Bahkan ketika malaikat datang menjemputnya, ia masih menyiram mawar dengan air mata—menandakan cinta dan harapan yang tidak pernah putus.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kesetiaan cinta seorang ibu yang tidak terhapus oleh waktu maupun ketiadaan. Mawar menjadi simbol harapan, cinta, dan ingatan yang terus dirawat meskipun kenyataan menunjukkan ketidakpastian.

“Anak yang mengembara” dapat dimaknai sebagai jarak emosional maupun fisik yang memisahkan keluarga. Sementara air mata yang menyiram mawar menunjukkan bahwa kasih sayang seorang ibu tetap hidup bahkan menjelang kematian.

Puisi ini juga menyiratkan kritik halus terhadap anak yang melupakan orang tua yang telah menua dalam penantian.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa haru, pilu, dan penuh kesedihan yang lembut, dengan nuansa kesetiaan dan kegetiran penantian.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini antara lain:
  • Jangan melupakan orang tua yang telah berkorban dan menunggu kita.
  • Kasih sayang ibu adalah cinta yang tulus dan tidak pernah berakhir.
  • Hargai waktu dan kebersamaan sebelum semuanya terlambat.

Imaji

  • Imaji visual: nenek tua, jambangan, mawar gemetar, air mata yang menyiram bunga.
  • Imaji perasaan: kesepian, penantian, dan kerinduan mendalam.
  • Imaji simbolik: mawar sebagai lambang cinta dan harapan yang terus hidup.

Majas

  • Personifikasi: “mawar yang gemetar” memberikan sifat manusia pada bunga.
  • Simbolisme: mawar sebagai simbol cinta ibu dan penantian.
  • Hiperbola: penantian yang terus berlangsung hingga ajal datang menegaskan intensitas emosi.
  • Metafora: air mata sebagai bentuk perawatan terakhir terhadap harapan.
Puisi “Mawar dan Nenek Tua” karya D. Zawawi Imron adalah potret menyentuh tentang cinta seorang ibu yang tak pernah padam. Melalui simbol mawar dan penantian panjang, puisi ini mengajarkan pentingnya kasih sayang, kesetiaan, dan penghargaan terhadap orang tua sebelum semuanya terlambat.

Puisi D. Zawawi Imron
Puisi: Mawar dan Nenek Tua
Karya: D. Zawawi Imron

Biodata D. Zawawi Imron:
  • D. Zawawi Imron (biasa disapa Cak Imron) adalah salah satu penyair ternama di Indonesia, ia lahir di desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti tanggal kelahirannya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.