Puisi: Melintasi Selat Sunda (Karya F. Rahardi)

Puisi "Melintasi Selat Sunda" karya F. Rahardi menyampaikan pesan agar manusia tidak terjebak dalam imajinasi utopis yang mengabaikan hukum alam ...
Melintasi Selat Sunda

Awan comulus hitam
gugusan para kampret
bergerak dalam derap
lagu-lagu mars
Semangat
nyali
harapan-harapan
bahkan impian
semua menggumpal dalam suasana
tegangan tinggi
jutaan volt.

Menurut mimpi para kampret itu
pulau Sumatera adalah kampung-kampung kecil
seperti suasana desa Citeureup
pada zaman Hindia Belanda
hutan-hutan masih perawan kencur
dengan burung enggang
macan
ular
dan lapisan serangga
yang tebal di udara
dengan arus yang deras
para kampret tinggal santai
mengangakan mulut
lalu macam-macam serangga gurih
dan empuk itu
mengalir lancar masuk mulut
lalu tinggal menelan begitu saja
tak perlu ada usaha
tak perlu ada kerja
semua sudah tersedia
lengkap dan alami.
Sumatera adalah Eden
yang nyaman dan abadi
dan pernah ditinggali
nenek moyang manusia
Adam dan Hawa

Gugusan comulus kampret itu
melintas di atas Cilegon
di Barat sana tampak comulus beneran.

"Itu Selat Sunda
kalau selat itu kita seberangi
sampailah sudah kita di Sumatera
mari kita nyanyi teman-teman."
"Hidup Sumatera, hidup Sumatera."
"Gua yang besar dan adem
di atas bukit-bukit kapur
dengan Tobing-Tobing
yang Manurung
penuh Pohan-Pohan
yang Singarimbun
Parangin-angin bertiup Sitorus
ke arah Hutabarat
ada Rajagugguk
ada Sinaga
Itulah Sumatera
Hidup Sumatera."

Syahdan
gunung Anak Krakatau
yang mungil dan nongol
di selat Sunda itu
tampak lagi rewel
dia batuk-batuk
menyemburkan pasir-pasir pijar
pemandangan bagus sekali
dari kejauhan para kampret
terkagum-kagum

"Apa itu kawan?
Kok seperti kembang api di saat lebaran
Apa itu tungku pandai besi tukang bikin golok?"
"Bukan kawan
itu gunung api lagi meletus
itu berbahaya
kita mesti menjauhinya."
"Ya kita agak ke arah utara saja."
Gugusan kampret itu pun memutar haluan
agak ke arah utara
di atas pelabuhan Merak
awan Comulus beneran makin tebal
kapal-kapal merapat di dermaga
perahu-perahu nelayan ngumpet
di balik teluk.

"Kok cuaca begini jelek
Teman-teman?"
"Ya kita agak turun saja
sekalian sarapan serangga laut."
"Mana ada serangga laut?"
"Tapi ini memang musim barat."
"Ya, tapi kita harus terus."
Gugusan kampret itu pun
nekad nyemplung menyeberangi
selat Sunda
yang sedang kumat sangarnya.
Pada saat itu
kebetulan Nyai Roro Kidul
yang menguasai Laut Selatan
sedang mengirim anak cucunya
para jin dan peri parahyangan
untuk mengaduk-aduk Selat Sunda
anak Krakatau juga makin ngambek
berton-ton pasir dan kerikil
dan uap panas disemprotkannya ke langit
para kampret oleng
angin
petir
badai
ledakan Krakatau
menghajar gugusan kampret itu
jadi cerai berai
ada yang langsung nyungsep lalu
dicaplok hiu
ada yang diangkat sampai
ketinggian 10 ribu meter
lalu dijatuhkan di Lebak
banyak juga yang dibanting-banting
sampai remuk
lalu sekalian digiling dan
ditaburkan di ladang-ladang singkong
di Lampung sebagai pupuk organik
hanya sebagian kecil saja dari rombongan itu
yang dapat selamat
dan berhasil menepi di daratan Sumatera.

Sumber: Migrasi Para Kampret (1993)

Analisis Puisi:

Puisi “Melintasi Selat Sunda” Karya F. Rahardi merupakan puisi naratif-satiris yang memadukan unsur alam, mitologi, sejarah, dan kritik sosial. Dengan gaya penceritaan yang dramatik dan penuh ironi, penyair menggambarkan sekelompok “kampret” yang bermimpi menyeberangi Selat Sunda menuju Sumatera yang mereka anggap sebagai “Eden” — tanah yang subur, nyaman, dan serba tersedia.

Puisi ini panjang dan detail, namun menyimpan sindiran tajam terhadap mentalitas instan dan angan-angan utopis tanpa perhitungan realitas.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap sikap serakah, mentalitas instan, dan utopia yang dibangun atas mimpi tanpa kerja keras. Selain itu, terdapat tema petualangan dan benturan antara harapan dengan realitas alam yang keras. Puisi ini juga mengangkat tema kesombongan kolektif yang berujung pada kehancuran.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang gugusan kampret (kelelawar) yang hendak menyeberangi Selat Sunda menuju Sumatera. Dalam imajinasi mereka, Sumatera adalah surga yang kaya dan serba mudah: serangga melimpah, alam perawan, dan kehidupan tanpa kerja keras.

Mereka membayangkan Sumatera sebagai Eden yang nyaman dan abadi. Dengan semangat dan nyanyian penuh gairah, mereka melintas dari wilayah Cilegon menuju Selat Sunda. Namun, perjalanan itu tidak berjalan mulus. Anak Krakatau meletus, badai datang, mitologi Nyai Roro Kidul disebut sebagai penguasa laut yang mengaduk selat, dan cuaca memburuk.

Akibatnya, rombongan kampret itu porak-poranda. Banyak yang mati, tercabik badai, atau menjadi santapan hiu. Hanya sebagian kecil yang berhasil selamat dan mencapai Sumatera.

Makna Tersirat

Puisi ini sangat kuat sebagai kritik sosial. Kampret dapat dimaknai sebagai simbol kelompok yang terbuai mimpi tentang kemakmuran tanpa kerja keras. Sumatera digambarkan sebagai tanah impian yang seolah menyediakan segalanya tanpa usaha.

Namun, realitas alam — diwakili oleh gunung meletus, badai, dan laut ganas — menjadi simbol kenyataan hidup yang tidak bisa ditaklukkan dengan semangat kosong dan nyanyian semata. Penyair seolah menegaskan bahwa mimpi tanpa perhitungan dan kerja keras hanya akan berujung pada kehancuran.

Rujukan pada mitologi dan legenda juga mempertegas bahwa alam dan sejarah memiliki kekuatan yang tak bisa diremehkan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini dinamis dan dramatis. Pada awalnya terasa penuh semangat dan euforia, terutama ketika para kampret menyanyikan pujian terhadap Sumatera.

Namun, suasana berubah menjadi tegang dan mencekam saat badai, letusan Anak Krakatau, serta amukan laut menghancurkan rombongan itu. Di bagian akhir, suasana menjadi tragis dan ironis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa mimpi dan harapan harus dibarengi dengan kesadaran akan realitas dan risiko. Tidak ada “Eden” yang bisa dicapai tanpa usaha dan kesiapan menghadapi tantangan. Puisi ini juga menyampaikan pesan agar manusia tidak terjebak dalam imajinasi utopis yang mengabaikan hukum alam dan kenyataan sosial. Kesombongan dan kenekatan sering kali membawa petaka.

Puisi "Melintasi Selat Sunda" karya F. Rahardi adalah puisi naratif yang sarat kritik sosial dan simbolisme. Melalui tema perjalanan dan utopia, makna tersirat tentang bahaya kesombongan dan mimpi instan, suasana dramatis, serta penggunaan imaji dan majas yang kaya, puisi ini menjadi refleksi tajam tentang hubungan manusia dengan alam, sejarah, dan ambisi.

Puisi ini menegaskan bahwa perjalanan menuju “tanah impian” selalu mengandung risiko, dan hanya mereka yang benar-benar siaplah yang mampu bertahan.

F. Rahardi
Puisi: Melintasi Selat Sunda
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.