Puisi: Mengapa (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi “Mengapa” karya Slamet Sukirnanto merupakan refleksi spiritual yang mendalam tentang ketidakpuasan dan kesombongan manusia.
Mengapa

Mengapa kita merasa kurang puas terhadap semua
yang terjadi di hadapan kita, apa kita telah lupa
dan terlena oleh buaian atau hanya termakan
oleh kesesatan sementara yang kalau kita mau
menyadari itu hanyalah pikiran semu belaka,
janganlah timbul perasaan yang sebenarnya
tidak perlu kita ikuti karena dapat saja
menjadi suatu kesalahan yang sangat fatal.

Di atas bumi dan langit, dan seluruh isinya,
luar dan dalam, dan tak terbaca tanda-tandanya,
hanyalah milik Allah! Rahasianya milik Allah!
Jangan angkuh manusia! Jangan angkuh kita
semua! Berserah diri! Itulah sesungguhnya kodrat kita!
Untuk memerangi kegelapan dan mengusir yang ruwet
dalam batin kita! Untuk menyalakan cahaya!
Cahaya dari semua cahaya di alam semesta.

Benih bisa tumbuh, bayi menjadi dewasa,
Yang lahir dan mati, daun kering berguguran,
buah membusuk dan pohon-pohon raksasa bisa
kering meranggas tegak di atas bumi, inilah gejala!
Bacalah! Bacalah! Kebesaran Tuhanmu
yang telah menguraikan kebesaran-Nya!
Sejak zaman purba, sejak zaman sebelum ini
semua hadir di mana-mana makhluk Allah telah bertasbih
kepada Sang Pencipta. Maha Pencipta!

Jakarta, 1992-1993

Sumber: Gergaji (2001)

Analisis Puisi:

Puisi “Mengapa” karya Slamet Sukirnanto merupakan sajak reflektif-religius yang mempertanyakan kegelisahan manusia modern. Ditulis di Jakarta pada 1992–1993, puisi ini memadukan nada introspektif dengan seruan spiritual yang kuat. Penyair mengajak pembaca melakukan evaluasi diri, menyadari keterbatasan manusia, dan kembali pada kesadaran ketuhanan.

Tema

Tema puisi ini adalah kegelisahan eksistensial manusia dan ajakan untuk kembali berserah diri kepada Tuhan.

Puisi ini bercerita tentang pertanyaan mendasar: mengapa manusia sering merasa tidak puas terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya. Penyair menyoroti kemungkinan bahwa ketidakpuasan itu lahir dari kelalaian, kesesatan pikiran, atau perasaan yang semu.

Selanjutnya, puisi menegaskan bahwa seluruh alam semesta adalah milik Allah. Manusia diingatkan agar tidak angkuh dan menyadari kodratnya untuk berserah diri. Dalam bagian akhir, penyair menghadirkan contoh-contoh gejala alam—benih tumbuh, bayi dewasa, daun gugur, pohon meranggas—sebagai tanda kebesaran Tuhan yang seharusnya dibaca dan direnungkan.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap sikap angkuh dan ketidakpuasan manusia yang lupa akan keterbatasannya. Ketidakpuasan bukan semata persoalan eksternal, tetapi persoalan batin yang ruwet dan gelap.

Seruan untuk “menyalakan cahaya” menyiratkan upaya pencerahan spiritual. Alam semesta diposisikan sebagai kitab terbuka yang memuat tanda-tanda kebesaran Tuhan. Manusia diminta untuk membaca dan memahami tanda-tanda itu sebagai jalan menuju kesadaran dan ketenangan batin.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa kontemplatif, religius, dan penuh kesadaran spiritual. Ada nada peringatan sekaligus ajakan untuk merenung secara mendalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini antara lain:
  • Jangan larut dalam ketidakpuasan dan kesombongan.
  • Sadari bahwa manusia memiliki keterbatasan dan harus berserah diri kepada Tuhan.
  • Bacalah tanda-tanda alam sebagai manifestasi kebesaran Ilahi.
  • Perangi kegelapan batin dengan cahaya kesadaran spiritual.
Puisi ini menegaskan bahwa ketenangan hidup hanya dapat dicapai melalui kerendahan hati dan kedekatan kepada Sang Pencipta.

Puisi “Mengapa” karya Slamet Sukirnanto merupakan refleksi spiritual yang mendalam tentang ketidakpuasan dan kesombongan manusia. Dengan menghadirkan tanda-tanda alam sebagai bukti kebesaran Tuhan, penyair mengajak pembaca untuk kembali berserah diri, menyalakan cahaya kesadaran, dan menemukan ketenangan dalam pengakuan atas keterbatasan diri.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Mengapa
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.