Analisis Puisi:
Puisi "Menghitung Tasbih" karya Gunoto Saparie membawa kita ke dalam momen spiritual yang lembut dan mendalam, di mana penciptaannya yang indah membangkitkan refleksi tentang kehidupan sehari-hari dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa.
Pemandangan dan Suasana Magrib yang Menyentuh Hati: Puisi ini membuka dengan gambaran suasana magrib yang sarat makna. Pencitraan cahaya purnama yang menyinari kaca jendela musala menciptakan suasana yang tenang dan suci. Ini memberikan nuansa kehadiran spiritual yang kental, membangkitkan perasaan ketenangan dan kehormatan terhadap waktu salat.
Menghitung Tasbih sebagai Ritual Spiritual: Tasbih di sini tidak hanya diartikan sebagai gerakan fisik menghitung biji tasbih, tetapi juga sebagai simbol ritual spiritual. Menghitung tasbih, tahlil, tahmid, dan meniti halaman-halaman Quran adalah representasi dari hubungan yang terus-menerus dengan Tuhan. Penciptaan atmosfir ini mengajak pembaca untuk meresapi kedalaman dan keintiman dalam beribadah.
Penggambaran Sepi dan Kegelapan Malam: Deskripsi sepi yang mungkin mengendap di luar dan malam yang semakin kelam menambah dimensi mistis dalam puisi. Pada titik ini, penyair mungkin ingin menekankan keheningan spiritual yang dapat ditemui ketika seseorang merenungi hubungan dengan Yang Maha Kuasa di tengah kesunyian malam.
Lukisan Kaligrafi yang Menggeletar: Permainan kata "lukisan kaligrafi yang menggeletar" menciptakan gambaran visual tentang kelembutan dan keindahan kaligrafi yang disertai dengan getaran yang hampir seperti getaran hati yang penuh pengabdian dan rasa syukur. Ini menandakan kehadiran spiritual yang tidak dapat diukur dengan kata-kata.
Sujud di Sajadah dan Doa Penghabisan: Sujud di sajadah dan doa penghabisan menjadi puncak spiritual dalam puisi ini. Saat menyentuh tanah dengan kepala dalam sujud, seseorang merasakan kedekatan dan ketaatan pada Tuhan. Doa penghabisan adalah penutup yang penuh harap dan permohonan ampunan, menciptakan lengkungan spiritual dalam perjalanan beribadah.
Kelengkapan dan Kesejahteraan melalui Talkin: Ketika angin bangkit dan penyair menggenapkan talkin, terasa adanya harapan dan keselarasan dengan alam semesta. Talkin di sini dapat diartikan sebagai keharmonisan dengan alam dan pencapaian kelengkapan dalam beribadah, sejalan dengan irama alam yang diiringi oleh angin.
Puisi "Menghitung Tasbih" karya Gunoto Saparie membawa pembaca ke dalam suasana yang penuh spiritualitas. Dengan menggambarkan momen-momen dalam ibadah sehari-hari, penyair mampu menghadirkan kelembutan dan keintiman dalam hubungan dengan Tuhan. Puisi ini mengajak kita untuk merenung, meresapi, dan menghargai setiap detik dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari perjalanan spiritual kita.
Karya: Gunoto Saparie
Gunoto Saparie. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), dan Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).
Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).
Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), dan Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta. Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah.
