Puisi: Mengukur Kota (Karya Muhammad Haji Salleh)

Puisi “Mengukur Kota” karya Muhammad Haji Salleh menghadirkan pengalaman batin yang kompleks—antara kedekatan, keterasingan, dan keterikatan yang ...

Mengukur Kota

kuukur kotamu dengan sepiku.
kukenalimu seperti kukenali diriku
dengan dekat dan benci.

bata murung membina gedung
memanjat tahun
dan melangkah manusia.

tapi, tanpa pilihan
kucantum hidupku
kepada jiwa pahitmu.

Ann Arbor, Oktober 1981

Sumber: Horison (Januari, 1987)

Analisis Puisi:

Puisi “Mengukur Kota” karya Muhammad Haji Salleh merupakan refleksi singkat namun padat tentang relasi manusia dengan ruang urban. Dengan bahasa yang ekonomis, puisi ini menghadirkan pengalaman batin yang kompleks—antara kedekatan, keterasingan, dan keterikatan yang tak terhindarkan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan manusia dalam kehidupan kota. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema relasi ambivalen—antara cinta dan benci—terhadap lingkungan tempat hidup.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mencoba “mengukur” kota bukan dengan alat fisik, melainkan dengan perasaan sepi. Kota dikenali secara intim, bahkan disamakan dengan cara penyair mengenali dirinya sendiri—dekat, tetapi juga penuh penolakan.

Gambaran kota hadir melalui elemen fisik seperti bata, gedung, dan waktu yang terus berjalan bersama manusia. Namun, pada akhirnya, penyair menyadari bahwa ia tidak memiliki pilihan selain melekatkan hidupnya pada kota tersebut, meskipun kota itu terasa pahit.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini mengarah pada ketergantungan manusia terhadap ruang yang justru mengasingkannya.

Kota bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga entitas yang membentuk identitas sekaligus menghadirkan konflik batin.

Frasa “kuukur kotamu dengan sepiku” menunjukkan bahwa pengalaman hidup di kota sering kali diukur melalui kesunyian dan jarak emosional, bukan kebahagiaan.

Sementara itu, keterpaksaan untuk “mencantum hidup” pada kota menegaskan bahwa manusia sering kali terikat pada sistem yang tidak sepenuhnya ia cintai.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa sunyi, getir, dan reflektif. Ada nuansa keterasingan yang kuat, namun juga keintiman yang tidak bisa dilepaskan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan bahwa:
  • Kehidupan kota tidak selalu memberikan kebahagiaan, tetapi sering menghadirkan kesepian.
  • Manusia perlu menyadari relasinya dengan lingkungan tempat ia hidup, termasuk konflik batin yang muncul.
  • Dalam keterikatan yang tidak ideal sekalipun, manusia tetap harus menemukan cara untuk bertahan.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang sederhana namun efektif:
  • Imaji visual: “bata murung”, “gedung memanjat tahun”.
  • Imaji kinestetik: “melangkah manusia”.
  • Imaji emosional: “sepi”, “jiwa pahit”.
Imaji-imaji ini memperkuat kesan kota sebagai ruang fisik sekaligus psikologis.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
  • Metafora: “mengukur kota dengan sepi”, “jiwa pahit kota”.
  • Personifikasi: “bata murung”, “gedung memanjat tahun”.
  • Paradoks: mengenali kota seperti diri sendiri, tetapi dengan rasa benci.
  • Simbolisme: kota sebagai lambang kehidupan modern dan kompleksitas manusia.
Puisi “Mengukur Kota” adalah puisi yang menggambarkan pengalaman urban secara jujur dan reflektif. Dengan pendekatan yang minimalis, puisi ini berhasil menunjukkan bahwa di balik hiruk-pikuk kota, terdapat kesunyian yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern.

Muhammad Haji Salleh
Puisi: Mengukur Kota
Karya: Muhammad Haji Salleh

Biodata Muhammad Haji Salleh:
  • Muhammad Haji Salleh (Prof. Dr. Muhammad bin Haji Salleh) lahir pada tanggal 26 Maret 1942 di Taiping, Perak, Malaysia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.