Puisi: Menunggu (Karya Ook Nugroho)

Puisi “Menunggu” karya Ook Nugroho mengingatkan bahwa hidup seharusnya dijalani dengan ketulusan, sebab pada akhirnya manusia hanya akan dikenang ...
Menunggu

Kematian menciptakan kerepotan
Mendadak di rumah kontrakan
Kami yang kecil
Kursi-kursi plastik diajarkan
Di teras yang sempit itu
Panganan seadanya
Dipesan tergesa dari warung
Di dekat-dekat situ juga
Ada juga yang memasang tenda
Menggantung neon pucat
Pada kusam sepasang pojoknya
Di antara raut tetangga
Yang berpura duka
Nyata masih ada menyembul
Salam tulus mengelus
Berhembus di dada nembus
Sampai jauh malam
Mereka terus mengobrol
Berkerumun di kolong tenda itu
Sabar menantikan
Tiba jenazah saya
Besok dikuburkan

2013

Sumber: Tempo (Minggu, 26 Juli 2015)

Analisis Puisi:

Puisi “Menunggu” karya Ook Nugroho menghadirkan ironi yang tajam melalui peristiwa kematian. Dengan gaya naratif yang lugas dan detail keseharian yang konkret, penyair menggambarkan suasana rumah duka di kontrakan sederhana. Namun, kekuatan utama puisi ini terletak pada sudut pandang tak terduga: penyair yang menantikan kedatangan jenazahnya sendiri.

Tema

Tema puisi ini adalah kematian dan ironi sosial dalam ritual duka. Penyair menyoroti bagaimana kematian sering kali menghadirkan kepura-puraan sekaligus ketulusan dalam waktu yang bersamaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini terletak pada kritik sosial terhadap ritual kematian. Kematian disebut “menciptakan kerepotan”, menunjukkan bahwa peristiwa sakral itu juga membawa kesibukan administratif dan sosial.

Detail seperti kursi plastik, warung dekat rumah, dan neon pucat menegaskan realitas kelas sosial yang sederhana. Di sisi lain, frasa “raut tetangga yang berpura duka” mengungkap kepalsuan dalam relasi sosial, sementara “salam tulus” menunjukkan bahwa ketulusan tetap ada di tengah kepura-puraan.

Sudut pandang orang pertama yang sudah menjadi jenazah dapat dimaknai sebagai refleksi eksistensial: setelah mati, manusia mungkin hanya menjadi pusat kerumunan sementara, sebelum akhirnya dilupakan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini ironis dan satiris, namun tetap realistis. Ada nuansa getir yang muncul dari kesederhanaan suasana dan pengakuan jujur tentang kepura-puraan sosial.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa kematian membuka tabir relasi sosial yang sebenarnya. Di saat duka, terlihat mana empati yang tulus dan mana yang sekadar formalitas. Puisi ini juga mengingatkan bahwa hidup seharusnya dijalani dengan ketulusan, sebab pada akhirnya manusia hanya akan dikenang melalui sikap dan relasinya dengan sesama.

Puisi “Menunggu” karya Ook Nugroho menghadirkan potret realistis dan ironis tentang kematian dalam ruang sosial yang sederhana. Melalui detail konkret dan sudut pandang tak terduga, penyair menyampaikan kritik halus terhadap kepura-puraan, sekaligus mengakui adanya ketulusan. Puisi ini menjadi refleksi bahwa di balik ritual kematian, tersingkap wajah asli hubungan manusia—antara formalitas sosial dan empati yang sejati.

Ook Nugroho
Puisi: Menunggu
Karya: Ook Nugroho

Biodata Ook Nugroho:
  • Ook Nugroho lahir pada tanggal 7 April 1960 di Jakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.