Puisi: Menyala (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi “Menyala” karya Slamet Sukirnanto merekam tragedi kebakaran hutan sebagai luka panjang Nusantara dan menegaskan bahwa keserakahan manusia ...
Menyala

Ketika api menyala. Seakan-akan
Belantara Tiwikrama!

Ke mana pergi semua satwa
Berteduh di mana/bersemayam di mana
Apakah engkau semua baik-baik saja!

Udara ternyata bukan lagi milikmu
Semua telah digadaikan kepada bencana!

Tanda. Tanda. Belantara Tiwikrama
Bersama kabut tebal asap
Di dalamnya bertahta azab!

Nusantara yang jelita
Lukamu semakin parah
100 tahun pasti belum sudah
Mendandani kembali kehijauan
Dan semua tatanan hutan dan tanah

Penyangga kehadiran manusia
Di lembah, perbukitan dan bumi jelaga
Karena setan-setan keserakahan

Merajalela di sana! Di antara semak dan belukar
Lebih dari ular dan biawak atau badak dan harimau ganas
Makhluk terkutuk. Agaknya juling matanya
Tak mampu membedakan secara benar

Derita kiri kanan dan gaung sayup kelaparan
Engkau bagian dari mimpi buruk dekat pagi
Batinmu selalu terpuruk
Bersama kesatwaanmu!

Ketika api menyala. Seakan-akan
Belantara Tiwikrama. Tapi bagaimanapun juga
Secara khusus kuucapkan selamat Engkau yang teraniaya
Karena ketabahanmu
Dan segala tertawakalanmu
Aku bersamamu selalu!

Jakarta, 15-17 November 1997

Sumber: Gergaji (2001)

Analisis Puisi:

Puisi “Menyala” karya Slamet Sukirnanto merupakan respons puitik terhadap tragedi kebakaran hutan yang melanda Indonesia pada dekade 1990-an. Dengan metafora kuat dan nada profetik, puisi ini menghadirkan kritik ekologis sekaligus ratapan atas kerusakan alam yang disebabkan oleh keserakahan manusia.

Tema

Tema puisi ini adalah kerusakan lingkungan akibat keserakahan manusia serta penderitaan ekologis yang ditimbulkannya.

Puisi ini bercerita tentang kebakaran hutan besar yang melahap “Belantara Tiwikrama”, menyebabkan satwa kehilangan habitat, udara tercemar asap, dan Nusantara yang indah berubah menjadi luka panjang. Penyair menggambarkan alam sebagai korban dari “setan-setan keserakahan” yang merajalela di antara semak dan belukar.

Tiwikrama sendiri dapat dipahami sebagai simbol kedahsyatan atau perubahan besar yang dahsyat—dalam konteks ini, perubahan akibat api yang meluas dan tak terkendali.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik keras terhadap praktik eksploitasi hutan dan kerakusan manusia yang menggadaikan alam demi kepentingan ekonomi atau kekuasaan.

Baris “Udara ternyata bukan lagi milikmu / Semua telah digadaikan kepada bencana!” menyiratkan bahwa bahkan unsur paling mendasar bagi kehidupan—udara—telah dirampas oleh sistem yang destruktif. Alam tidak hanya terbakar secara fisik, tetapi juga secara moral dan spiritual.

Puisi ini juga mengandung solidaritas terhadap korban—baik manusia maupun satwa—yang teraniaya akibat bencana tersebut.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa muram, getir, penuh keprihatinan, sekaligus mengandung nada kemarahan moral. Namun di bagian akhir, muncul nada empatik dan penguatan: “Aku bersamamu selalu!”

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan adalah perlunya kesadaran ekologis dan penolakan terhadap keserakahan yang merusak keseimbangan alam. Penyair mengingatkan bahwa pemulihan alam membutuhkan waktu sangat panjang (“100 tahun pasti belum sudah”), sehingga manusia harus bertanggung jawab atas tindakannya.

Puisi ini juga mengajak pembaca untuk berpihak pada yang teraniaya—alam dan makhluk hidup di dalamnya.

Imaji

  • Imaji visual: “kabut tebal asap”, “bumi jelaga”, “semak dan belukar”.
  • Imaji auditif: “gaung sayup kelaparan” memberi kesan suara penderitaan yang jauh namun nyata.
  • Imaji simbolik: “Belantara Tiwikrama” sebagai lambang kedahsyatan kehancuran.
  • Imaji emosional: “Nusantara yang jelita / Lukamu semakin parah” menggambarkan luka kolektif bangsa.

Majas

  • Metafora: “Belantara Tiwikrama” untuk menggambarkan kedahsyatan kebakaran; “setan-setan keserakahan” sebagai lambang sifat rakus manusia.
  • Personifikasi: “Nusantara yang jelita / Lukamu semakin parah” memberi sifat manusia pada tanah air.
  • Hiperbola: “100 tahun pasti belum sudah” untuk menegaskan lamanya proses pemulihan.
  • Repetisi: pengulangan “Ketika api menyala” memperkuat tekanan dramatik.
  • Simbolisme: api sebagai lambang kehancuran; asap sebagai simbol krisis ekologis dan moral.
Puisi “Menyala” karya Slamet Sukirnanto adalah elegi ekologis sekaligus kritik sosial yang tajam. Puisi ini merekam tragedi kebakaran hutan sebagai luka panjang Nusantara dan menegaskan bahwa keserakahan manusia menjadi akar kehancuran. Dengan bahasa yang penuh daya simbolik, puisi ini menempatkan alam bukan sekadar latar, melainkan subjek yang teraniaya—dan membutuhkan solidaritas serta pertobatan manusia.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Menyala
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.