Puisi: Metafora Mata Hutan Mahang (Karya Wahyu Prasetya)

Puisi “Metafora Mata Hutan Mahang” karya Wahyu Prasetya menyiratkan bahwa manusia pada akhirnya akan berhadapan dengan dirinya sendiri dalam ruang ...
Metafora Mata Hutan Mahang

Aku mulai menyukai tatapan mata mistik dari balik belukar
Berada disekitar tepian atau tengah hutan yang menarikku kearahnya
Haribaan hijau kelam telah menelan seluruh bayang bayang
Dan burung burung segala warna memecahkan dirinya dibalik kabut
Kita kembali menukik dalam langkah ragu ke arah jurang lain
Menemukan kembali gema kosong dan nada nada berat bebatuan
Sebelum malam yang selalu menghilangkan jejak menujumu

Mungkin ribuan lebih dengung atau gumam serangga menyeru
Membangunkan irama aneh menciptakan labirin waktu berulang
Sulur duri yang nampak seperti ular panjang, melintang ke udara
Seolah memintaku mengulang gairah awal di hari lain
Tak ada api untuk memandang dirimu sendiri saat ini
Karena lolongan panjang yang menyeretmu lebih dalam
Kedasar palung angin lembah tanpa penjuru
Helai demi helai daun yang berjatuhan mengobarkan cahaya senyap
Menandai batas angin dan maut di setiap persimpangan
Gerak mati
Diam mati
Masuklah kedalam bejana kebisuan yang terbentang
Pada ceruk hitam pekat, simpanlah namaku, nama kita sekejap
Saatnya untuk memejamkan mata, hidup menapak perlahan
Celah pohonan merah hitam, langit lebih dekat
Mendekap gedebur gelombang hutan baka,
Meledakkannya antara dada dan kepala

Base Camp Sikuy, 2014

Sumber: Malang Post (Minggu, 7 Desembe2014)

Analisis Puisi:

Puisi “Metafora Mata Hutan Mahang” karya Wahyu Prasetya menghadirkan lanskap hutan yang tidak sekadar sebagai latar fisik, melainkan sebagai ruang batin yang penuh simbol, misteri, dan pergulatan eksistensial. Melalui bahasa yang padat metafora dan imaji yang kuat, penyair membawa pembaca menyusuri pengalaman yang cenderung gelap, reflektif, dan kontemplatif.

Tema

Tema utama puisi ini berkaitan dengan perjalanan batin manusia dalam menghadapi ketidakpastian, ketakutan, dan kesunyian, yang dilambangkan melalui hutan sebagai ruang metaforis. Selain itu, terdapat pula tema tentang kehilangan arah, pencarian makna, serta kedekatan dengan kematian atau kehampaan.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan seseorang yang memasuki hutan yang penuh misteri, baik secara harfiah maupun simbolik. Hutan tersebut seolah memiliki “mata” yang mengawasi dan menarik subjek lirik semakin dalam. Dalam perjalanan itu, ia menghadapi berbagai elemen alam yang terasa hidup dan mengancam—kabut, jurang, suara serangga, hingga kegelapan malam—yang menggambarkan kondisi batin yang kacau, ragu, dan tersesat.

Perjalanan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mengarah pada penyelaman ke dalam diri sendiri, hingga mencapai titik keheningan total yang digambarkan sebagai “bejana kebisuan”.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini dapat ditafsirkan sebagai berikut:
  • Hutan melambangkan alam bawah sadar atau kehidupan yang penuh ketidakpastian.
  • Mata hutan merepresentasikan kesadaran, pengawasan, atau bahkan rasa bersalah yang terus mengintai.
  • Perjalanan menuju jurang dan kegelapan menggambarkan proses menghadapi ketakutan terdalam atau krisis eksistensial.
  • Kebisuan dan kematian bukan hanya akhir, tetapi juga bentuk transformasi atau penerimaan terhadap kenyataan hidup.
Puisi ini menyiratkan bahwa manusia pada akhirnya akan berhadapan dengan dirinya sendiri dalam ruang sunyi yang tak terhindarkan.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang dominan dalam puisi ini adalah mencekam, gelap, dan penuh misteri, dengan nuansa kontemplatif yang kuat. Ada juga sentuhan melankolis dan reflektif, terutama ketika subjek lirik mulai menerima kondisi yang dihadapinya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini antara lain:
  • Manusia perlu berani menghadapi sisi terdalam dirinya, termasuk ketakutan dan kehampaan.
  • Kehidupan bukan hanya tentang terang, tetapi juga tentang menavigasi kegelapan dan ketidakpastian.
  • Dalam kesunyian dan kebisuan, seseorang dapat menemukan bentuk pemahaman baru tentang diri dan eksistensinya.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji, terutama:
  • Imaji visual: “belukar”, “kabut”, “daun berjatuhan”, “ceruk hitam pekat” menciptakan gambaran hutan yang hidup dan suram.
  • Imaji auditif: “dengung atau gumam serangga”, “lolongan panjang”, “gema kosong” memperkuat suasana mencekam.
  • Imaji kinestetik: “menukik dalam langkah ragu”, “menyeretmu lebih dalam” memberi kesan gerakan yang intens dan tidak stabil.

Majas

Beberapa majas yang dominan dalam puisi ini meliputi:
  • Metafora: “mata hutan”, “bejana kebisuan”, “labirin waktu”.
  • Personifikasi: hutan seolah memiliki mata dan kemampuan menarik atau menelan.
  • Simile (perbandingan): “sulur duri yang nampak seperti ular panjang”.
  • Hiperbola: penggambaran suasana yang dilebihkan untuk memperkuat kesan dramatis.
Puisi “Metafora Mata Hutan Mahang” merupakan karya yang kuat dalam eksplorasi simbol dan suasana. Dengan pendekatan metaforis yang intens, Wahyu Prasetya menghadirkan pengalaman membaca yang bukan hanya visual, tetapi juga psikologis. Puisi ini mengajak pembaca untuk masuk ke dalam “hutan” batin mereka sendiri—sebuah ruang di mana ketakutan, kesunyian, dan makna hidup saling berkelindan.

Wahyu Prasetya
Puisi: Metafora Mata Hutan Mahang
Karya: Wahyu Prasetya

Biodata Wahyu Prasetya:
  • Eko Susetyo Wahyu Ispurwanto (akrab dipanggil Pungky) lahir pada tanggal 5 Februari 1957 di Malang, Jawa Timur.
  • Wahyu Prasetya meninggal dunia pada hari Rabu tanggal 14 Februari 2018 (pada umur 61).
© Sepenuhnya. All rights reserved.