Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi: Mitologi Kata (Karya Ahmad Nurullah)

Puisi “Mitologi Kata” karya Ahmad Nurullah mengingatkan bahwa bahasa memiliki tanggung jawab moral. Kata seharusnya menjadi medium kebenaran, bukan ..
Mitologi Kata

Di dalam kata-katamu yang indah
kutemukan sarang ular: ia melingkar
mengerami telur-telurnya
di bawah sisik-sisiknya yang berkilau
bak permata

Bila di Taman Firdaus zaman Adam
ular gemar melingkar di batang pohon khuldi
Sekarang ular punya tempat sembunyi lebih nyaman:
kata-kata

Sebab, lebih licin dibanding pohon khuldi
kata bisa menjelma apa saja:
Hari ini seonggok sarung
Besok baju tentara

"Apa kabar, Kawan?" tanyanya, ceria
Aku tersenyum. "Baik," jawabku
Diam-diam aku menyusup ke dalam kata-katanya:
Astaga! Ada jutaan ular melingkar di situ

Usai Waktu Penciptaan
Kata-kata telah bergeser dari peran dasarnya:
Ia bukan lagi Perawan Suci yang bertugas
menggendong Alam Semesta.

Jakarta, 2003

Sumber: Setelah Hari Keenam (2011)

Analisis Puisi:

Puisi “Mitologi Kata” karya Ahmad Nurullah merupakan refleksi kritis tentang bahasa dan kekuatannya. Penyair tidak memandang kata sebagai medium netral, melainkan sebagai entitas yang dapat menyembunyikan bahaya, manipulasi, bahkan pengkhianatan. Dengan simbol ular dan rujukan mitologis, puisi ini menghadirkan kritik tajam terhadap penyalahgunaan bahasa.

Tema

Tema utama puisi ini adalah dekonstruksi makna bahasa dan bahaya manipulasi kata. Puisi ini menyoroti bagaimana kata-kata yang tampak indah dapat menyimpan niat tersembunyi atau bahkan racun yang mematikan.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang menemukan “sarang ular” di dalam kata-kata indah seseorang. Ular tersebut melingkar dan mengerami telur-telurnya—simbol ancaman yang tersembunyi dan siap menetas.

Penyair kemudian merujuk pada kisah Adam di Taman Firdaus, di mana ular identik dengan godaan dan tipu daya. Namun kini, ular tidak lagi bersembunyi di pohon khuldi, melainkan dalam “kata-kata”. Bahasa menjadi medium baru untuk menyembunyikan tipu daya.

Pada bagian akhir, puisi menegaskan bahwa kata telah bergeser dari fungsi sucinya. Ia bukan lagi “Perawan Suci” yang menggendong alam semesta, melainkan sarana yang bisa diselewengkan.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap retorika kosong, propaganda, atau bahasa yang dipakai untuk menipu. Kata-kata bisa berubah wujud—“Hari ini seonggok sarung / Besok baju tentara”—menunjukkan fleksibilitas sekaligus kelicikan bahasa.

Ular menjadi metafora kejahatan atau kebohongan yang bersembunyi di balik keindahan diksi. Bahkan percakapan sederhana seperti “Apa kabar, Kawan?” dapat menyimpan maksud tersembunyi.

Puisi ini juga mengandung kritik sosial-politik: bahasa dapat dipakai untuk membungkus kekuasaan, menyamarkan kekerasan, atau mengubah makna sesuai kepentingan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung sinis, waspada, dan penuh kecurigaan. Pada awalnya terasa kekaguman terhadap “kata-kata indah”, tetapi segera berubah menjadi kegelisahan ketika ditemukan “jutaan ular” di dalamnya.

Ada nuansa ironis dan getir, terutama ketika penyair menyadari bahwa bahasa telah kehilangan kesuciannya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah agar pembaca bersikap kritis terhadap bahasa. Jangan mudah terpesona oleh keindahan kata tanpa memahami maksud di baliknya. Puisi ini juga mengingatkan bahwa bahasa memiliki tanggung jawab moral. Kata seharusnya menjadi medium kebenaran, bukan alat manipulasi.

Puisi “Mitologi Kata” adalah puisi reflektif yang membongkar mitos kesucian bahasa. Melalui simbol ular dan rujukan mitologis, penyair menunjukkan bahwa kata-kata dapat menyembunyikan racun dan kepentingan.

Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih waspada terhadap bahasa—baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam wacana sosial dan politik. Kata bukan sekadar bunyi atau tulisan; ia adalah kekuatan yang bisa membangun atau menghancurkan.

Ahmad Nurullah
Puisi: Mitologi Kata
Karya: Ahmad Nurullah

Biodata Ahmad Nurullah:
  • Ahmad Nurullah (penulis puisi, cerpen, esai, dan kritik sastra) lahir pada tanggal 10 November 1964 di Sumenep, Madura, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.