Puisi: Murat (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi “Murat” karya Slamet Sukirnanto menjadi refleksi tentang tanggung jawab kolektif dan semangat juang dalam situasi sosial yang memanas.
Murat

Datanglah segera
Jangan kau tunda
Jakarta bara sedang menyala
Jangan berpangku tangan
Jangan malas.
Jangan hanya pesta makan-makan
Pengembara yang patah sayap
Bawalah Hang Tuah
Bawalah Hang Kasturi
Murat! Datanglah, datang!

Johor Bahru, 16 Maret 2001

Sumber: Gergaji (2001)

Analisis Puisi:

Puisi “Murat” karya Slamet Sukirnanto merupakan sajak seruan yang bernada politis dan heroik. Ditulis di Johor Bahru pada 16 Maret 2001, puisi ini menghadirkan panggilan mendesak kepada sosok bernama Murat di tengah situasi genting yang digambarkan sebagai “Jakarta bara sedang menyala.” Dengan gaya imperatif dan repetitif, penyair membangun atmosfer urgensi dan perlawanan.

Tema

Tema puisi ini adalah seruan perjuangan dan tanggung jawab moral di tengah situasi krisis sosial atau politik.

Puisi ini bercerita tentang panggilan kepada Murat untuk segera datang dan tidak menunda tindakan, karena Jakarta digambarkan sedang “menyala” seperti bara api.

Penyair melarang sikap pasif: jangan berpangku tangan, jangan malas, jangan larut dalam pesta. Ada gambaran “pengembara yang patah sayap” yang menunjukkan kondisi lemah atau terpuruk. Dalam seruan itu, disebut pula nama tokoh legendaris Melayu seperti Hang Tuah dan Hang Kasturi sebagai simbol keberanian dan kesetiaan.

Seruan “Murat! Datanglah, datang!” menjadi klimaks emosional puisi—panggilan untuk bangkit dan bertindak.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap sikap apatis di tengah krisis. “Jakarta bara sedang menyala” bukan hanya gambaran literal, tetapi simbol keadaan bangsa yang sedang genting.

Sosok Murat bisa dimaknai sebagai representasi generasi muda, pemimpin, atau siapa pun yang memiliki tanggung jawab moral. Penyebutan Hang Tuah dan Hang Kasturi menyiratkan harapan akan hadirnya keberanian, kesetiaan, dan semangat kepahlawanan dalam menghadapi situasi sulit.

“Pengembara yang patah sayap” menjadi simbol bangsa atau individu yang kehilangan arah dan daya, yang memerlukan kepemimpinan dan keberanian untuk bangkit.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa mendesak, tegang, dan penuh semangat perlawanan. Nada imperatif menciptakan energi yang kuat dan retoris.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah:
  • Jangan bersikap pasif dalam menghadapi krisis sosial.
  • Bangkitlah dengan keberanian dan tanggung jawab moral.
  • Teladani semangat kepahlawanan dalam memperjuangkan kebenaran.
Puisi ini mengajak pembaca untuk aktif terlibat dalam memperbaiki keadaan, bukan sekadar menjadi penonton.

Imaji

  • Imaji visual: “Jakarta bara sedang menyala” menghadirkan gambaran kota dalam kobaran api.
  • Imaji simbolik: pengembara patah sayap sebagai lambang keterpurukan; tokoh legenda sebagai simbol heroisme.
  • Imaji gerak: seruan “Datanglah segera” menekankan aksi dan mobilisasi.

Majas

  • Metafora: “Jakarta bara sedang menyala” sebagai simbol krisis.
  • Repetisi: pengulangan “Jangan” dan “Datanglah” memperkuat nada desakan.
  • Alusi: penyebutan Hang Tuah dan Hang Kasturi sebagai rujukan historis-legendaris.
  • Hiperbola: gambaran bara menyala untuk menegaskan kondisi genting.
Puisi “Murat” adalah sajak seruan yang menegaskan pentingnya keberanian dan keterlibatan aktif dalam menghadapi krisis. Dengan simbol api, pengembara patah sayap, serta alusi pada tokoh kepahlawanan Melayu, Slamet Sukirnanto membangun pesan bahwa saat genting menuntut tindakan, bukan kelengahan. Puisi ini menjadi refleksi tentang tanggung jawab kolektif dan semangat juang dalam situasi sosial yang memanas.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Murat
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.