Puisi: Naik-Naik (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi “Naik-Naik” karya Slamet Sukirnanto dapat dibaca sebagai kritik terhadap kekuasaan tiranik serta refleksi bahwa ketidakadilan—baik nyata ...
Naik-Naik

Naik
Naik
Naik

        angin tak ada lagi
        sepi bukan lagi seperti di bumi

Menginjak
Pipi Tuhan!
Sang maha tidak adil!
Sang maha tidak adil!

Titah seorang tiran
Badai menyimak kelam
Hujan yang menyiksa
Kejutan-kejutan batinmu
Menunggu yang tidak diharapkan.

Naik

Naik

Naik

Tuhan:

Engkau hendak sembunyi di mana
Ini! Pisau untukmu!

Sumber: Horison (September, 1974)

Analisis Puisi:

Puisi “Naik-Naik” karya Slamet Sukirnanto merupakan sajak yang bernuansa protes dan pergolakan batin. Dengan struktur repetitif dan diksi yang keras, puisi ini menghadirkan ekspresi kemarahan, pemberontakan, dan pertanyaan terhadap otoritas—baik kekuasaan duniawi maupun simbol ketuhanan.

Puisi ini bergerak dalam intensitas emosional yang tinggi, memadukan unsur spiritual, politik, dan eksistensial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pemberontakan terhadap kekuasaan dan ketidakadilan. Puisi ini juga mengangkat tema krisis spiritual dan kekecewaan mendalam terhadap sistem atau otoritas yang dianggap tidak adil.

Puisi ini bercerita tentang gerakan “naik” yang berulang-ulang, seolah menggambarkan ambisi, pemberontakan, atau eskalasi konflik. Pada bagian awal, suasana digambarkan tanpa angin dan tanpa kesunyian seperti di bumi—menandakan situasi yang ganjil atau di luar kewajaran.

Larik “Menginjak / Pipi Tuhan!” serta seruan “Sang maha tidak adil!” menunjukkan bentuk tudingan atau gugatan terhadap keadilan ilahi. Di sisi lain, hadir pula “Titah seorang tiran”, yang bisa dibaca sebagai kritik terhadap kekuasaan manusia yang otoriter.

Puisi ditutup dengan pertanyaan retoris yang tajam:

“Engkau hendak sembunyi di mana / Ini! Pisau untukmu!”

Bagian ini mempertegas nada konfrontatif dan ekstrem.

Makna Tersirat

Puisi ini dapat dibaca sebagai simbol kemarahan manusia terhadap ketidakadilan yang dirasakan, baik dalam ranah sosial-politik maupun spiritual.

Repetisi “Naik” menyiratkan eskalasi emosi atau ambisi yang tak terkendali. Tuduhan terhadap “Sang maha tidak adil” bisa dipahami bukan sebagai penolakan literal terhadap Tuhan, melainkan sebagai ekspresi metaforis atas rasa frustrasi manusia ketika menghadapi penderitaan.

“Titah seorang tiran” menyiratkan bahwa ketidakadilan sering lahir dari kekuasaan yang sewenang-wenang. Sementara “pisau” menjadi simbol agresi, perlawanan, atau ancaman terhadap otoritas.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini tegang, gelap, dan penuh kemarahan. Terdapat nuansa pemberontakan dan kegelisahan yang intens. Ritme pengulangan kata “Naik” memperkuat kesan mendesak dan dramatis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini dapat dimaknai sebagai peringatan akan bahaya ambisi dan kemarahan yang melampaui batas. Ketika manusia merasa tertindas, kemarahan dapat berubah menjadi sikap destruktif. Puisi ini juga dapat dibaca sebagai kritik terhadap kekuasaan tiranik serta refleksi bahwa ketidakadilan—baik nyata maupun yang dipersepsikan—dapat memicu krisis iman dan pemberontakan batin.

Puisi “Naik-Naik” karya Slamet Sukirnanto adalah sajak yang sarat emosi dan kritik. Puisi ini menempatkan pembaca dalam ketegangan antara ambisi, kemarahan, dan pencarian keadilan—sebuah refleksi tajam tentang bagaimana manusia merespons rasa tidak adil dalam hidupnya.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Naik-Naik
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.