Puisi: Nikah Bulan (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Puisi “Nikah Bulan” karya Dorothea Rosa Herliany menegaskan bahwa cinta bukanlah tindakan melukai, melainkan keberanian untuk mendekap meski dalam ...
Nikah Bulan

kutemukan untukmu, bulan yang runtuh
dalam kolam. kutemukan memeluk ranjang
--wajah yang terlipat, dan terpatah
pendar air di permukaan.
(sedang kau dalam menunggu, sendirian
menghitung getar waktu).

suara yang purba itu, siapa
memanggil-manggil namamu?
jarak pun terlipat antara genang kolam
dan awan yang sembunyikan bulan.
tinggal suara yang kabur di dasar kolam,
merahasiakan suara-suara.

kutemukan untukmu, Kekasih!
sebab lebih dekat mendekapmu,
ketimbang menikam agar lebih luka.

1986

Sumber: Nikah Ilalang (1995)

Analisis Puisi:

Puisi “Nikah Bulan” karya Dorothea Rosa Herliany menghadirkan suasana liris yang intim dan simbolik. Diksi yang digunakan cenderung padat, metaforis, dan sarat lapisan makna. Puisi ini tidak hanya mengisahkan relasi dua sosok, tetapi juga menyiratkan pergulatan batin, kerinduan, dan pilihan antara cinta atau luka.

Tema

Tema puisi ini adalah cinta yang kompleks—antara kerinduan, kesunyian, dan pilihan untuk memeluk daripada melukai.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menemukan “bulan yang runtuh” sebagai persembahan simbolik bagi kekasihnya. Di dalamnya terdapat suasana penantian, jarak, dan suara-suara yang samar. Pada akhirnya, puisi ini menegaskan pilihan cinta sebagai tindakan mendekap, bukan menyakiti.

Tema cinta dalam puisi ini tidak sederhana atau romantis secara konvensional, melainkan penuh refleksi dan pergulatan emosional.

Makna Tersirat

Secara literal, puisi ini menghadirkan citra bulan, kolam, suara purba, dan jarak yang terlipat. Namun, makna di dalamnya jauh lebih dalam.
  • “Bulan yang runtuh dalam kolam” dapat dimaknai sebagai harapan atau keindahan yang jatuh dan terpantul dalam kesadaran batin.
  • “Wajah yang terlipat, dan terpatah” menyiratkan luka emosional atau kerentanan.
  • “Jarak pun terlipat” menggambarkan kedekatan batin yang mampu menembus jarak fisik.
Larik terakhir menjadi kunci makna:

“lebih dekat mendekapmu, ketimbang menikam agar lebih luka.”

Di sini tersirat pilihan etis dalam cinta—bahwa mencintai berarti memilih merangkul, bukan melukai, meskipun ada potensi konflik atau rasa sakit.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa sunyi, intim, dan reflektif. Terdapat kesan kesepian dalam penantian (“menghitung getar waktu”), tetapi juga kehangatan yang muncul di akhir melalui ungkapan kasih.

Nuansa keseluruhan puisi cenderung melankolis, namun tidak gelap; justru mengarah pada perenungan dan kedewasaan emosional.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa cinta sejati menuntut kelembutan dan pilihan sadar untuk tidak menyakiti. Dalam hubungan, selalu ada kemungkinan konflik, tetapi kedewasaan terletak pada kemampuan untuk memeluk, bukan menyerang. Puisi ini juga mengajarkan bahwa jarak dan kesunyian bukanlah penghalang jika batin tetap terhubung.

Puisi “Nikah Bulan” karya Dorothea Rosa Herliany adalah puisi simbolik yang mendalam tentang cinta dan pilihan batin. Puisi ini menegaskan bahwa cinta bukanlah tindakan melukai, melainkan keberanian untuk mendekap meski dalam kerentanan.

Dorothea Rosa Herliany
Puisi: Nikah Bulan
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Biodata Dorothea Rosa Herliany:
  • Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
  • Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.