Puisi: Nyanyian Pemberang (Karya D. Zawawi Imron)

Puisi “Nyanyian Pemberang” karya D. Zawawi Imron menghadirkan potret manusia yang bergulat dengan dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.

Nyanyian Pemberang

keraguanlah, nama anak bumi di rimba-rimba
lahir sebelum salju, hidup berdarah api
kausaksikan
burung manyar penjelmaanku
disuapi alam dengan prahara
setelah langit dilipat
jadi serbet di atas meja

musim semi memang datang padaku
memperanakkan kabut
sekodi pisau kubuat kipas
tangan terluka dan wajahmu makin tak jelas

dengan darah ini
aku makin pasrah dengan kehinaan
seekor elang terbang
bersayap keberanian

Sumber: Segugus Percakapan Cinta di Bawah Matahari (2017)

Analisis Puisi:

Puisi “Nyanyian Pemberang” karya D. Zawawi Imron merupakan ungkapan emosional yang kuat tentang pergulatan batin, kemarahan, dan keberanian. Dengan gaya bahasa yang simbolik dan intens, puisi ini menggambarkan konflik dalam diri manusia yang berada di antara keraguan, penderitaan, dan semangat untuk bangkit.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pergolakan batin dan semangat perlawanan terhadap keadaan hidup yang keras.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang hidup dalam kondisi penuh keraguan dan penderitaan. Ia menggambarkan dirinya sebagai bagian dari alam yang keras, “hidup berdarah api”, dan mengalami berbagai tekanan serta konflik batin.

Dalam perjalanan tersebut, ia menghadapi luka, kehilangan kejelasan, dan kehinaan, namun pada akhirnya tetap menemukan keberanian yang dilambangkan melalui sosok elang yang terbang bebas.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa di balik penderitaan dan keraguan, manusia memiliki potensi keberanian untuk bangkit dan melawan keadaan.

Simbol “burung manyar” dan “elang” menunjukkan transformasi diri—dari kondisi lemah dan penuh tekanan menuju kekuatan dan keberanian. Sementara itu, “langit dilipat jadi serbet” menggambarkan runtuhnya harapan atau idealisme.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa gelap, penuh gejolak, dan emosional, namun di bagian akhir muncul nuansa optimisme dan keberanian.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat diambil adalah bahwa penderitaan dan keraguan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju kekuatan dan keberanian. Puisi ini juga mengajak pembaca untuk tidak menyerah pada keadaan, meskipun hidup terasa berat dan penuh luka.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji yang kuat dan dramatis, seperti:
  • “hidup berdarah api”
  • “langit dilipat jadi serbet”
  • “sekodi pisau kubuat kipas”
  • “tangan terluka”
  • “elang terbang bersayap keberanian”
Imaji tersebut menciptakan kesan visual dan emosional yang mendalam.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “darah api” sebagai simbol penderitaan intens.
  • Personifikasi: alam yang seolah memberi makan dan membentuk penyair.
  • Hiperbola: “langit dilipat jadi serbet” untuk menegaskan kehancuran.
  • Simbolisme: elang sebagai lambang keberanian dan kebebasan.
Puisi “Nyanyian Pemberang” karya D. Zawawi Imron menghadirkan potret manusia yang bergulat dengan dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Dengan bahasa yang kuat dan penuh simbol, puisi ini menegaskan bahwa dari luka dan keraguan, dapat lahir keberanian untuk terbang lebih tinggi.

Puisi D. Zawawi Imron
Puisi: Nyanyian Pemberang
Karya: D. Zawawi Imron

Biodata D. Zawawi Imron:
  • D. Zawawi Imron (biasa disapa Cak Imron) adalah salah satu penyair ternama di Indonesia, ia lahir di desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti tanggal kelahirannya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.