Puisi: O, Suara Itu (Karya D. Zawawi Imron)

Puisi “O, Suara Itu” karya D. Zawawi Imron mengajarkan tentang pentingnya kesadaran diri—mengakui ketidaksempurnaan sebagai bagian dari perjalanan ...

O, Suara Itu

ingin kudengar beritamu o, senyap!
karena aku ditunggu gunung emas
setelah rindu rimbun bertunas
setelah duri-duri kuremas

o, suara itu
nanti dulu!
selagi aku tak utuh

1975

Sumber: Bulan Tertusuk Lalang (1982)

Analisis Puisi:

Puisi “O, Suara Itu” karya D. Zawawi Imron merupakan sajak pendek yang padat makna dan bernuansa spiritual. Dengan diksi yang sederhana namun simbolik, puisi ini menghadirkan pergulatan batin antara kerinduan, harapan, dan kesiapan diri dalam menghadapi sesuatu yang agung—entah itu panggilan hidup, cinta, atau bahkan panggilan Ilahi.

Kekuatan puisi ini terletak pada intensitas emosionalnya yang terkandung dalam baris-baris singkat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penantian dan kesiapan batin. Penyair menampilkan sosok aku lirik yang ingin mendengar suatu “suara,” tetapi menyadari bahwa dirinya belum utuh.

Tema lain yang dapat ditangkap adalah perjalanan spiritual dan proses pemurnian diri sebelum mencapai sesuatu yang bernilai tinggi, yang diisyaratkan melalui simbol “gunung emas.”

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang ingin mendengar kabar dari “senyap” dan “suara itu,” tetapi ia meminta penundaan:

“o, suara itu
nanti dulu!
selagi aku tak utuh”

Penyair merasa sedang berada dalam proses. Ia menyebut “rindu rimbun bertunas” dan “duri-duri kuremas,” yang menunjukkan adanya perjuangan dan penyucian diri sebelum mencapai “gunung emas.”

“Gunung emas” dapat dimaknai sebagai tujuan luhur—kebahagiaan, keberhasilan, atau pencerahan spiritual—yang menunggu setelah perjuangan selesai.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa setiap panggilan besar dalam hidup membutuhkan kesiapan. “Suara” bisa dimaknai sebagai panggilan takdir, suara hati, atau bahkan suara Tuhan.

Keinginan untuk menunda mendengar suara itu menunjukkan kesadaran bahwa diri belum sempurna atau belum siap. Ini menyiratkan pentingnya proses pembentukan diri sebelum menerima tanggung jawab atau anugerah besar.

Frasa “setelah duri-duri kuremas” menandakan bahwa rasa sakit dan rintangan adalah bagian dari proses menuju kematangan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini hening, reflektif, dan penuh kerinduan. Kata “senyap” dan seruan “o” menghadirkan nuansa lirih dan kontemplatif.

Ada perpaduan antara harapan (gunung emas, rindu bertunas) dan kerendahan hati (aku belum utuh).

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Secara implisit, amanat puisi ini adalah bahwa manusia perlu mempersiapkan diri sebelum menerima panggilan besar dalam hidup. Tidak semua hal harus disambut tergesa-gesa; ada proses pertumbuhan yang harus dijalani. Puisi ini juga mengajarkan tentang pentingnya kesadaran diri—mengakui ketidaksempurnaan sebagai bagian dari perjalanan menuju keutuhan.

Puisi “O, Suara Itu” karya D. Zawawi Imron merupakan sajak reflektif tentang penantian dan kesiapan diri. Puisi ini menghadirkan kedalaman spiritual dalam bentuk yang ringkas. Melalui pengakuan “selagi aku tak utuh,” penyair menegaskan bahwa keutuhan bukanlah kondisi instan, melainkan hasil dari perjuangan, rindu, dan kesadaran diri.

Puisi D. Zawawi Imron
Puisi: O, Suara Itu
Karya: D. Zawawi Imron

Biodata D. Zawawi Imron:
  • D. Zawawi Imron (biasa disapa Cak Imron) adalah salah satu penyair ternama di Indonesia, ia lahir di desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti tanggal kelahirannya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.