Puisi: Padang Tak Berangin (Karya D. Zawawi Imron)

Puisi “Padang Tak Berangin” karya D. Zawawi Imron mengajak pembaca memasuki ruang batin yang sunyi, tempat manusia berhadapan dengan rahasia ...

Padang Tak Berangin

Kelelawar masih menunggu rebah cahaya
usah kita bertanya!
rahasia toh akan tiba
di padang-padang suara.

Di sana sebatang pohon siwalan
yang tumbuh dipupuk doa
berbunga terompet-terompet sukma.

Aku senang sekali datang ke sana
membawa secawan airmata
untuk matahari yang angkuh itu
agar dapat bercermin diri.

Pohon siwalan itu telah bersujud
rerumputan juga bersujud
matahari menjerit, hujan darah
hujan darah dari matanya
kidung pun jadi kekal
oleh alunan rahasia.

        la senyumla aitu lilla
        ya amrasul kalimastutupak.

Karena kita membalas surat dari sorga
keramahan pun mendesir
dari ombak-ombak persemaian.

Pada selembar daun lalang
lamat-lamat sebuah nilai.

1978

Sumber: Ketika Hitam Dikatakan Putih dan Sajak Tetap Bersuara (2017)

Analisis Puisi:

Puisi “Padang Tak Berangin” karya D. Zawawi Imron menghadirkan nuansa religius dan kontemplatif yang kuat. Dengan bahasa simbolik dan penuh metafora, penyair mengajak pembaca memasuki ruang batin yang sunyi, tempat manusia berhadapan dengan rahasia kehidupan, alam, dan Sang Pencipta.

Tema

Tema utama puisi ini adalah spiritualitas, perenungan hidup, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang berada di suatu “padang tak berangin”—sebuah ruang simbolik yang sunyi dan penuh makna. Di tempat itu, berbagai fenomena alam seperti kelelawar, pohon siwalan, matahari, dan hujan darah menjadi bagian dari pengalaman spiritual yang mendalam.

Penyair tampak datang dengan kesadaran penuh, membawa “secawan airmata” sebagai simbol pengorbanan atau keikhlasan, dan menyaksikan peristiwa-peristiwa simbolik yang mengarah pada pemahaman akan rahasia kehidupan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa rahasia kehidupan dan ketuhanan tidak dapat dipahami melalui logika semata, melainkan melalui pengalaman batin yang dalam dan penuh keikhlasan.

Simbol seperti “padang tak berangin” menggambarkan kondisi hening, tempat manusia bisa merenung. “Pohon siwalan yang dipupuk doa” melambangkan kehidupan yang tumbuh dari spiritualitas, sementara “matahari menjerit” bisa dimaknai sebagai kesadaran atau ego yang tersentuh oleh kebenaran.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa hening, mistis, sakral, dan penuh perenungan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat diambil adalah bahwa manusia perlu mendekatkan diri pada nilai-nilai spiritual dan merenungi makna kehidupan secara mendalam. Puisi ini juga mengajak untuk tidak terburu-buru mencari jawaban, karena “rahasia” akan datang dengan sendirinya pada waktu yang tepat.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji simbolik dan visual, seperti:
  • “kelelawar menunggu rebah cahaya”.
  • “pohon siwalan berbunga terompet sukma”.
  • “matahari menjerit, hujan darah”.
  • “secawan airmata”.
Imaji tersebut menciptakan suasana yang kuat dan mendalam, meskipun bersifat abstrak.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: “matahari menjerit”, “kelelawar menunggu”.
  • Metafora: “secawan airmata”, “hujan darah”.
  • Simbolisme: padang, pohon siwalan, dan matahari sebagai lambang spiritual.
Puisi “Padang Tak Berangin” karya D. Zawawi Imron merupakan karya yang kaya akan makna spiritual dan simbolik. Dengan pendekatan yang tidak langsung dan penuh misteri, puisi ini mengajak pembaca untuk merenung lebih dalam tentang kehidupan, ketuhanan, dan rahasia yang hanya dapat dipahami melalui keheningan batin.

Puisi D. Zawawi Imron
Puisi: Padang Tak Berangin
Karya: D. Zawawi Imron

Biodata D. Zawawi Imron:
  • D. Zawawi Imron (biasa disapa Cak Imron) adalah salah satu penyair ternama di Indonesia, ia lahir di desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti tanggal kelahirannya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.