Pagi di Rimba
ricau unggas, dan daun basah
angin mengipas wangi rimba, waktu
sampai memetik hari, semburat cahaya
dalam kantuk nafas, memanjati matahari
kelabu, pulang kepada kelam
tangan-tangan terkulai, mengusik miang rimba
maut menggesek setiap ranting
dengarlah suaranya berjalin dengan setiap suara
terimakasih,
pagi yang bersuka
Sumber: Horison (November, 1985)
Analisis Puisi:
Puisi “Pagi di Rimba” karya Ajamuddin Tifani menghadirkan lanskap alam yang tampak tenang di permukaan, tetapi menyimpan dinamika kehidupan dan kematian di dalamnya. Melalui larik-larik yang padat dan metaforis, penyair memperlihatkan bagaimana pagi di rimba bukan hanya tentang keindahan, melainkan juga tentang siklus eksistensi.
Tema
Tema puisi ini adalah siklus kehidupan di alam yang memadukan keindahan dan kefanaan.
Puisi ini bercerita tentang suasana pagi di tengah rimba. Ricau unggas, daun basah, dan angin yang mengipas wangi hutan membentuk lanskap alami yang hidup. Cahaya pagi memanjati matahari, sementara waktu seolah “memetik hari”.
Namun, di balik suasana segar tersebut, muncul kesadaran akan sisi lain rimba: “maut menggesek setiap ranting”. Ada ketegangan antara kehidupan yang bersuara dan kematian yang mengintai.
Puisi ditutup dengan ungkapan “terimakasih, pagi yang bersuka”, seolah menjadi refleksi syukur atas keberlangsungan hidup meskipun berada di tengah ancaman kefanaan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kehidupan selalu berjalan berdampingan dengan kematian. Pagi yang identik dengan harapan dan kebaruan ternyata juga mengandung potensi kehancuran.
Rimba melambangkan dunia atau kehidupan itu sendiri: indah, liar, dan penuh risiko. Ungkapan terima kasih pada pagi menunjukkan penerimaan atas kenyataan bahwa hidup dan maut adalah bagian dari satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa keindahan alam tidak steril dari ancaman, dan justru di situlah makna hidup menjadi lebih dalam.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini ambivalen: segar dan cerah di awal, lalu perlahan berubah menjadi mencekam dan kontemplatif. Ada perpaduan antara rasa syukur dan kesadaran akan kefanaan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini adalah agar manusia menghargai setiap pagi—setiap awal—karena kehidupan adalah anugerah yang berjalan seiring dengan risiko kematian. Puisi ini juga menyiratkan pentingnya kesadaran ekologis: bahwa rimba adalah ruang hidup yang memiliki keseimbangan alami yang harus dijaga.
Puisi “Pagi di Rimba” karya Ajamuddin Tifani merupakan refleksi puitik tentang harmoni dan ketegangan dalam alam. Melalui perpaduan citraan yang hidup dan simbolisme yang kuat, penyair memperlihatkan bahwa pagi bukan hanya awal yang cerah, melainkan juga pengingat akan siklus hidup dan mati.
Puisi ini mengajak pembaca untuk mensyukuri setiap momen kehidupan sekaligus menyadari keterbatasan eksistensi manusia di tengah semesta.
Puisi: Pagi di Rimba
Karya: Ajamuddin Tifani
Biodata Ajamuddin Tifani:
- Ajamuddin Tifani lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 23 September 1951.
- Ajamuddin Tifani meninggal dunia di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 6 Mei 2002.
