Puisi: Parthenon (Karya Saini KM)

Puisi “Parthenon” karya Saini KM mengingatkan bahwa sikap individualistis yang menolak “penopang lain” dapat menghambat pembangunan nilai baru yang ..
Parthenon

Sia-sia. Betapapun mata khayal mencoba
membangun kembali kemegahan kuil dari puing-puing ini,
perang dan gempa bumi menetapkan
bahwa abad-pualam para dewa telah pergi.

Pergi. Segala mambang jelita dan pangeran cendekia,
dengan kapal penghabisan telah angkat sauh
dari Laut Aegea ke Negeri Kenangan. Tinggal kita
terpencar-pencar di pantai waktu.

Mengembara mencari dewata baru, namun tak mampu
mempersembahkan iman kanak-kanak yang murni; tak mampu
mendirikan Parthenon baru, karena menolak setiap pilar
setiap penopang lain, kecuali tangan dan kaki sendiri.

1968

Sumber: Horison (Juni, 1970)

Analisis Puisi:

Puisi “Parthenon” karya Saini KM merupakan refleksi filosofis tentang runtuhnya kejayaan masa lalu dan kegamangan manusia modern dalam mencari nilai-nilai baru. Parthenon—kuil kuno di Athena yang menjadi simbol peradaban Yunani klasik—dijadikan metafora besar untuk membicarakan keruntuhan spiritual dan krisis keimanan.

Puisi ini berbicara dalam nada elegiak, menyiratkan kesadaran bahwa manusia hidup di antara puing-puing sejarah.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keruntuhan peradaban dan krisis spiritual manusia modern. Tema lainnya adalah pencarian makna di tengah hilangnya keyakinan lama serta ketidakmampuan membangun kembali “kuil” nilai yang utuh.

Puisi ini bercerita tentang usaha sia-sia manusia untuk membangun kembali kemegahan masa lalu dari puing-puing kehancuran. Penyair menyebut perang dan gempa bumi sebagai penyebab runtuhnya “abad-pualam para dewa”.

Para dewa, mambang jelita, dan pangeran cendekia telah pergi “ke Negeri Kenangan”, meninggalkan manusia modern yang “terpencar-pencar di pantai waktu”.

Dalam keadaan itu, manusia mengembara mencari “dewata baru”, tetapi tidak lagi memiliki “iman kanak-kanak yang murni”. Mereka ingin membangun Parthenon baru, namun menolak setiap pilar dan penopang selain diri sendiri.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap modernitas yang kehilangan fondasi spiritual dan kolektif. Runtuhnya Parthenon melambangkan runtuhnya sistem nilai lama yang sakral.

“Pantai waktu” menyiratkan kondisi manusia yang terombang-ambing dalam sejarah, tanpa arah pasti. Keengganan menerima “pilar” dan “penopang” lain menunjukkan individualisme ekstrem yang membuat manusia tak mampu membangun peradaban baru yang kokoh.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa tanpa iman atau keyakinan yang tulus, peradaban hanya menjadi reruntuhan simbolik.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini muram, reflektif, dan elegiak. Ada kesan kehilangan besar terhadap kejayaan masa lalu. Nada yang digunakan tenang tetapi sarat kesadaran tragis—bahwa kemegahan itu telah pergi dan tak mudah dihidupkan kembali.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah bahwa peradaban membutuhkan fondasi nilai dan keyakinan bersama. Tanpa itu, manusia hanya akan hidup di antara puing-puing sejarah. Puisi ini juga mengingatkan bahwa sikap individualistis yang menolak “penopang lain” dapat menghambat pembangunan nilai baru yang kokoh dan bermakna.

Puisi “Parthenon” karya Saini KM merupakan refleksi mendalam tentang runtuhnya kejayaan masa lalu dan kegelisahan manusia modern dalam mencari nilai baru. Puisi ini menegaskan bahwa membangun “Parthenon baru” bukan sekadar soal fisik atau rasionalitas, melainkan tentang menemukan kembali fondasi iman dan nilai yang mampu menyangga peradaban.

Puisi Saini KM
Puisi: Parthenon
Karya: Saini KM

Biodata Saini KM:
  • Nama lengkap Saini KM adalah Saini Karnamisastra.
  • Saini KM lahir pada tanggal 16 Juni 1938 di Kampung Gending, Desa Kota Kulon, Sumedang, Jawa Barat.
  • Saini KM dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1970-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.