Puisi: Pejalan Padang Pasir (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Puisi “Pejalan Padang Pasir” karya Dorothea Rosa Herliany menghadirkan lanskap simbolik yang kuat—padang pasir sebagai ruang perjalanan batin yang ...
Pejalan Padang Pasir

andaikan tepi jarak itu kau, ingin aku
memikul kaki-kaki onta, agar tak terkekeh
para pejalan renta. dan kita ulur detik dan
abad, sampai usai nafas lelah tak usai-usai.

lalu, dalam sunyi, aku tempuh
waktu, kiamat itulah kematian kata-kata.
ia yang enggan menerima segala kebisingan
makna.

namun taring menjeratku. bagai serangga
aku menggeliat ditusuk racun laba-laba.
tak berdaya. menatap engkau yang menari
di mata liar dan kilat taring. jarak itulah
fatamorgana yang mengecohku.

1994

Sumber: Nikah Ilalang (1995)

Analisis Puisi:

Puisi “Pejalan Padang Pasir” karya Dorothea Rosa Herliany menghadirkan lanskap simbolik yang kuat—padang pasir sebagai ruang perjalanan batin yang sunyi, keras, dan penuh ilusi. Dengan gaya yang padat metafora, puisi ini menggambarkan pergulatan antara hasrat mendekat dan jarak yang terus menjauh.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan batin, keterasingan, dan ilusi dalam pencarian makna atau cinta. Puisi ini juga menyinggung keterbatasan manusia dalam menghadapi jarak—baik secara fisik maupun eksistensial.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang melakukan perjalanan di padang pasir—sebuah ruang simbolik yang luas dan sunyi. Ia ingin mencapai “kau” yang berada di “tepi jarak”, bahkan rela memikul beban berat (“kaki-kaki onta”) agar perjalanan itu tetap berlangsung.

Namun perjalanan ini tidak mudah. Waktu terasa memanjang tanpa akhir, dan kelelahan tidak pernah benar-benar selesai. Dalam kesunyian, penyair menghadapi kehampaan makna—bahkan kata-kata seolah mati.

Pada bagian akhir, perjalanan berubah menjadi ancaman: penyair terjerat, seperti serangga dalam perangkap, tidak berdaya menghadapi ilusi yang menipunya. Sosok “kau” yang diharapkan justru menjadi bagian dari fatamorgana—sesuatu yang tampak nyata tetapi tidak bisa diraih.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini mengarah pada ketidakpastian dalam pencarian makna hidup atau cinta.

Padang pasir melambangkan kehidupan yang keras dan kosong, sementara “jarak” menjadi simbol keterpisahan yang sulit dijembatani.

Fatamorgana menegaskan bahwa apa yang dikejar manusia sering kali hanya ilusi—harapan yang tampak dekat, tetapi sebenarnya tidak dapat digapai.

Kematian kata-kata menunjukkan krisis makna: ketika bahasa tidak lagi mampu menjelaskan pengalaman batin yang ekstrem.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa sunyi, tegang, dan mencekam, dengan nuansa eksistensial yang kuat. Ada perasaan lelah, terjebak, dan kehilangan arah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan bahwa:
  • Pencarian makna atau cinta tidak selalu berujung pada kepastian.
  • Manusia sering kali terjebak dalam ilusi yang diciptakannya sendiri.
  • Kesadaran akan keterbatasan diri penting untuk memahami realitas hidup.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji simbolik:
  • Imaji visual: “padang pasir”, “onta”, “fatamorgana”, “serangga terjerat”.
  • Imaji kinestetik: “memikul”, “menggeliat”, “menempuh waktu”.
  • Imaji taktil: “ditusuk racun”, “taring menjerat”.
Imaji-imaji ini memperkuat kesan perjalanan yang berat dan penuh ancaman.

Majas

Beberapa majas yang dominan dalam puisi ini:
  • Metafora: “jarak”, “padang pasir”, “kematian kata-kata”.
  • Simile (perbandingan): “bagai serangga”.
  • Simbolisme: fatamorgana sebagai ilusi harapan.
  • Personifikasi: makna yang “enggan menerima kebisingan”.
Puisi “Pejalan Padang Pasir” adalah puisi yang menggambarkan perjalanan eksistensial manusia dalam mencari sesuatu yang mungkin tidak pernah benar-benar ada. Dengan simbol padang pasir dan fatamorgana, puisi ini menegaskan bahwa tidak semua yang terlihat dapat dimiliki—dan dalam proses itu, manusia harus menghadapi kesunyian, ilusi, serta keterbatasannya sendiri.

Dorothea Rosa Herliany
Puisi: Pejalan Padang Pasir
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Biodata Dorothea Rosa Herliany:
  • Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
  • Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.