Pendulum
Dosa apakah yang dilakukan orang-orang Yahudi
sehingga mereka dibunuhi dan dibakar hidup-hidup
Semenjak Musa, mereka menjadi buronan
yang terpencar dan menderita
Di Rusia dan di Jerman mereka orang-orang terhina
Dosa apakah yang dilakukan orang-orang Palestina
sehingga mereka dihalau dari rumah-rumahnya
yang tenteram
Dibantai orang-orang Israel dan diajar bagaimana
menjadi barbar
Dosa apakah yang dilakukan orang-orang Vietnam
dan orang-orang Bihari
dan orang-orang Asia di Afrika
dan orang-orang Islam di Philipina
Dosa apakah yang dilakukan manusia di seluruh dunia
sehingga mereka tak lagi berbahagia
Dunia kita adalah lukisan abstrak
yang semakin dipertegas garis-garisnya
dengan darah
Patung-patung Michael Angelo tidak lagi mempesona
karena telah berobah imaji kita tentang manusia
Dosa apakah yang telah kita lakukan
sehingga tak lagi kita diami dunia dalam damai purba
Dosa apakah yang telah kita lakukan
sehingga kita ternganga
memandang anak-anak kita menatapkan mata mereka
seperti serigala
yang siap mencakar dan mengunyah jantung kita
dengan lahapnya
Pendulum itu berdentam-dentam juga
Bolak-balik. Tak ada yang bisa menahannya
Kalau aku ingatkan tentang Saladin ketika ia kembali
memasuki Palestina
engkau akan tertawa dengan penuh curiga
Kalau aku berkhotbah di atas mimbar tentang hidup suci
engkau juga akan jijik
Begitulah seterusnya
sampai kita dengarkan dentam pendulum itu
untuk terakhir kalinya
Sumber: Horison (November-Desember, 1978)
Analisis Puisi:
Puisi “Pendulum” karya Mochtar Pabottingi merupakan refleksi tajam tentang sejarah kekerasan dan tragedi kemanusiaan. Dengan mengajukan pertanyaan retoris berulang—“Dosa apakah yang dilakukan…”—penyair menggugat nurani kolektif manusia. Puisi ini bergerak dari fakta sejarah menuju renungan moral yang mendalam tentang peradaban yang terus berayun antara kekerasan dan kemunafikan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah tragedi kemanusiaan dan siklus kekerasan dalam sejarah dunia. Selain itu, puisi ini mengangkat tema hilangnya nurani serta kegagalan manusia menjaga kedamaian.
Puisi ini bercerita tentang berbagai kelompok manusia yang mengalami penindasan dan pembantaian: orang Yahudi yang dibunuhi sejak masa penganiayaan di Eropa, orang Palestina yang terusir dari tanahnya, orang Vietnam, Bihari, komunitas Asia di Afrika, hingga umat Islam di Filipina. Semua dirangkum dalam satu pertanyaan besar: dosa apa yang membuat manusia saling menghancurkan?
Penyair kemudian memperluas cakupan pertanyaan itu kepada seluruh umat manusia. Dunia digambarkan sebagai “lukisan abstrak” yang ditegaskan oleh garis-garis darah. Imaji tentang anak-anak yang menatap seperti serigala menandakan rusaknya imajinasi kemanusiaan generasi berikutnya.
Pada bagian akhir, metafora “pendulum” menjadi pusat makna: sejarah kekerasan terus berayun, berdentam tanpa henti, dan manusia tampak tak berdaya menghentikannya.
Makna Tersirat
Puisi ini adalah kritik terhadap siklus balas dendam dan kekerasan yang tak pernah benar-benar selesai. Pendulum melambangkan pergerakan sejarah yang terus berayun dari satu ekstrem ke ekstrem lain—dari korban menjadi pelaku, dari tertindas menjadi penindas.
Rujukan pada Saladin dan khotbah tentang hidup suci menunjukkan ironi: ketika nilai moral atau teladan sejarah diangkat, masyarakat justru merespons dengan sinisme dan kecurigaan. Hal ini menyiratkan krisis kepercayaan dan hilangnya otoritas moral dalam peradaban modern.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini intens, getir, dan penuh kegelisahan. Nada retoris yang berulang membangun tekanan emosional. Ada kemarahan yang tertahan, sekaligus keputusasaan terhadap nasib dunia yang terus berdarah.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk bercermin dan mengoreksi diri sebagai umat manusia. Penyair menegaskan bahwa kekerasan bukan sekadar kesalahan pihak tertentu, melainkan kegagalan kolektif menjaga kemanusiaan.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa tanpa kesadaran moral yang mendalam, pendulum sejarah akan terus berdentam hingga akhirnya membawa kehancuran yang lebih besar.
Imaji
Puisi ini memanfaatkan imaji yang kuat dan konfrontatif:
Imaji visual
- “dibunuhi dan dibakar hidup-hidup”
- “dihalau dari rumah-rumahnya”
- “garis-garisnya dengan darah”
- “anak-anak … seperti serigala”
Imaji auditori
- “Pendulum itu berdentam-dentam juga”
Imaji simbolik
- “lukisan abstrak” sebagai gambaran dunia yang kacau dan tak lagi harmonis.
Imaji-imaji ini mempertegas kesan brutal dan menyayat.
Majas
Beberapa majas yang dominan dalam puisi ini antara lain:
Metafora
- “Dunia kita adalah lukisan abstrak” sebagai simbol kekacauan moral.
- “Pendulum” sebagai lambang siklus sejarah dan kekerasan.
Repetisi
- Pengulangan frasa “Dosa apakah yang dilakukan…” menegaskan tekanan moral dan retoris.
Simile
- “anak-anak kita menatapkan mata mereka seperti serigala” untuk menggambarkan dehumanisasi.
Ironi
- Ketika nilai suci disampaikan, respons yang muncul justru kecurigaan dan jijik.
Puisi “Pendulum” adalah puisi protes yang menggugat nurani kemanusiaan. Mochtar Pabottingi menyusun pertanyaan-pertanyaan retoris untuk menyoroti tragedi sejarah dan kegagalan moral global. Melalui metafora pendulum, puisi ini menegaskan bahwa kekerasan akan terus berulang jika manusia tidak menghentikan ayunannya dengan kesadaran, empati, dan tanggung jawab bersama.
Karya: Mochtar Pabottingi
Biodata Mochtar Pabottingi:
- Mochtar Pabottingi lahir pada tanggal 17 Juli 1945 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
