Pengantin Lautan
Akulah nelayan di laut lepas
Menginap bertahun-tahun berkasur karang
Berselimut ombak berbantal sepi
Aku sudah tenteram di sini
Meniduri sepi berkali-kali
Menciumi sepi berganti-ganti
Aku sudah bahagia di sini
Di laut lepas bercinta denganmu
Tak kenal perih tak dengar rintih
Kecuali desahmu yang bergema di hati
Di laut lepas aku terus bernyanyi
Menerjang lengang menuju Matahari
Di pantai-pantai kalian memanggil
Dan aku menutup seluruh pintu
Tak ada jendela yang masih terbuka
Dan aku mengunci semuanya
Aku sudah bahagia di sini
Tanpa kapal tanpa pantai tanpa rindu
Bersetubuh denganMu selama-lamanya
Yogya, 1988
Sumber: Horison (April, 1989)
Analisis Puisi:
Puisi “Pengantin Lautan” karya M. Nasruddin Anshoriy Ch menghadirkan lanskap laut sebagai ruang simbolik yang kaya makna. Melalui sudut pandang seorang “nelayan di laut lepas”, penyair membangun pengalaman eksistensial yang tidak sekadar bercerita tentang kehidupan maritim, tetapi juga perjalanan spiritual dan penyatuan batin yang mendalam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah penyatuan spiritual dan pencapaian kebahagiaan batin melalui pengasingan diri. Laut lepas menjadi simbol ruang kebebasan dan kedalaman jiwa, sementara “Mu” (dengan huruf kapital) mengindikasikan entitas transenden, yang dapat ditafsirkan sebagai Tuhan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah tentang transformasi batin dan penyatuan dengan Yang Ilahi. Beberapa unsur simbolik penting:
- Laut lepas → ruang kebebasan spiritual dan kedalaman jiwa.
- Sepi → kondisi kontemplatif yang justru membawa ketenteraman.
- Pantai → dunia sosial, keterikatan, dan panggilan duniawi.
- “Mu” → representasi Tuhan atau entitas spiritual tertinggi.
Ungkapan seperti “Bersetubuh denganMu selama-lamanya” bukanlah makna biologis, melainkan simbol intensitas penyatuan rohani. Dalam tradisi sufistik, metafora cinta dan persetubuhan sering digunakan untuk menggambarkan kedekatan hamba dengan Tuhan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini adalah:
- Kebahagiaan sejati tidak selalu ditemukan dalam keramaian, melainkan dalam kedalaman batin.
- Kesendirian dapat menjadi jalan menuju pemahaman diri dan spiritualitas.
- Manusia perlu berani menutup “pintu” dunia untuk membuka ruang batin yang lebih luas.
Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali makna kebahagiaan dan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa.
Puisi "Pengantin Lautan" merupakan karya yang menampilkan perjalanan batin menuju penyatuan spiritual. Melalui simbol laut, sepi, dan penyatuan dengan “Mu”, penyair menghadirkan refleksi tentang kebahagiaan yang lahir dari pelepasan duniawi. Puisi ini tidak sekadar menggambarkan kehidupan seorang nelayan, tetapi menjadi alegori perjalanan jiwa manusia dalam mencari makna, ketenangan, dan cinta yang abadi.
Karya: M. Nasruddin Anshoriy Ch
Biodata M. Nasruddin Anshoriy Ch:
- M. Nasruddin Anshoriy Ch (biasa dipanggil Gus Nas) lahir pada tanggal 4 Mei 1965 di Yogyakarta.
- Ia menulis artikel, puisi, kolom, dan resensi buku di berbagai media, termasuk di antaranya Horison, Sinar Harapan, Prisma, Pelita, Amanah, Panji Masyarakat dan Kompas.
