Pengembara
biru restumu, ibu!
warna tahi tembaga di wajah langitku
telah hikmati langkahku
yang suam-suam kuku
ada rantau hendak kuputar
dalam mataku
di sudut dusun yang sepi
kujumpai seorang petani
duhai, ibu!
matanya
bentangi paras tanah derita
dan langit biru
melas hatinya
buah siwalan muda diperam di laut darah
— pengembara!
pada kota-kota yang hendak kaujelajah
mengombak sedu, ya
di sanalah aku
ibu!
betapa panas
seratus kota
di hatiku berkobar
1964
Sumber: Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996)
Analisis Puisi:
Puisi “Pengembara” karya D. Zawawi Imron menghadirkan pergulatan batin seorang anak yang hendak merantau, tetapi tetap terikat kuat oleh restu dan figur ibu. Dengan bahasa yang puitis dan simbolik, penyair membangun lanskap emosional tentang perjalanan, kerinduan, serta tanggung jawab sosial yang menyertai langkah seorang pengembara.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup (pengembaraan) yang dilandasi restu ibu serta kesadaran sosial terhadap penderitaan rakyat kecil. Pengembaraan dalam puisi ini bukan sekadar perpindahan fisik dari desa ke kota, melainkan juga perjalanan batin dan pencarian makna hidup.
Kata pembuka:
biru restumu, ibu!
langsung menegaskan bahwa restu ibu menjadi fondasi spiritual perjalanan penyair.
Makna Tersirat
Puisi ini berkaitan dengan tanggung jawab moral seorang perantau. Restu ibu (“biru restumu”) dapat dimaknai sebagai simbol kemurnian niat dan legitimasi batin. Sementara itu, gambaran petani dengan “paras tanah derita” menunjukkan kesadaran sosial penyair terhadap ketimpangan dan penderitaan.
Ungkapan:
buah siwalan muda diperam di laut darah
menyiratkan penderitaan yang dipendam lama, mungkin juga pengorbanan atau luka sejarah yang tidak tampak di permukaan.
Pengembara dalam puisi ini tidak hanya mencari pengalaman pribadi, tetapi juga membawa beban empati dan tanggung jawab terhadap mereka yang tertinggal di kampung halaman.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini bercampur antara haru, reflektif, dan penuh semangat yang tertahan. Pada bagian awal, suasana terasa intim dan lembut melalui sapaan berulang kepada ibu:
duhai, ibu!ibu!
Namun, menjelang akhir, suasana berubah menjadi lebih panas dan bergolak:
betapa panasseratus kotadi hatiku berkobar
Perubahan ini menunjukkan dinamika emosi: dari keteduhan restu ibu menuju gejolak batin seorang pengembara.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa dalam setiap pengembaraan hidup, seseorang tidak boleh melupakan asal-usul, restu orang tua, dan penderitaan sesama.
Puisi ini mengingatkan bahwa:
- Restu ibu adalah kekuatan moral dalam perjalanan hidup.
- Pengembaraan harus dibarengi empati sosial.
- Keberhasilan di kota tidak boleh memutus hubungan dengan akar budaya dan kemanusiaan.
Seorang pengembara sejati bukan hanya penjelajah ruang, melainkan juga penjaga nilai dan nurani.
Puisi “Pengembara” karya D. Zawawi Imron menghadirkan perpaduan antara spiritualitas, kerinduan, dan kesadaran sosial. Puisi ini bukan sekadar kisah perjalanan fisik, tetapi perjalanan nurani yang selalu kembali pada ibu dan tanah asalnya.

Puisi: Pengembara
Karya: D. Zawawi Imron
Biodata D. Zawawi Imron:
- D. Zawawi Imron lahir pada tanggal 1 Januari 1945 di desa Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.