Peniti Tali
Terlalu segera tepuk tangan membahana, memalingkan aku dari
badai sandi yang menuntun langkah lambai kakiku.
Terlalu lancip sepatunya, ujar seorang nyonya. Ia melihat dengan
jantungnya, jantungnya belaka, dalih seorang serdadu.
Tapi bagi si penyair yang berpuluh tahun mengamatiku, aku
meniti titian kain panjang yang terpilin dari masa kanakku.
Aum harimau di belakangku. Dan kaum pengagum itu meng-
alirkan sebatang sungai bidang nun di bawah jejaring dan
berseru-seru, terjunlah segera, agar kami lebih bahagia,
lebih nyaring.
Tapi dari menara tertinggi si pemilik sirkus tetaplah hanya
meminati bayang-bayangku sambil mengipas kobaran api.
Ia juru peta yang kehilangan seluruh kampung halaman —
Ia kemarin penjinak binatang, kini hendak menyigi kitab suci —
Ia tak tahu bahwa kematiannya sudah tertera di koran pagi —
Kudengar bebisik itu seraya merapikan rambut dan gigi.
Barangkali sejam lagi--atau bahkan esok pagi — akan sampai
aku diseberang sana, dimana
seorang kekasih atau algojo yang terlalu lama menanti tak lagi
berani membimbing aku ke pesta kenduri atau tiang gantungan.
Karena laherku biru, terlalu biru.
2007
Sumber: Jantung Lebah Ratu (2008)
Analisis Puisi:
Puisi “Peniti Tali” karya Nirwan Dewanto menghadirkan lanskap simbolik yang kompleks dan teatrikal. Dengan latar metaforis berupa sirkus, titian, dan penonton, puisi ini menyuguhkan refleksi tentang identitas, eksistensi, kekuasaan, serta relasi antara individu dan kerumunan. Bahasa yang padat dan citraan yang kuat menjadikan puisi ini terbuka untuk berbagai tafsir.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan eksistensial seorang individu di tengah sorotan dan tuntutan publik. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang identitas, keterasingan, dan relasi kuasa antara pelaku, pengamat, dan pemilik otoritas.
Titian yang “terpilin dari masa kanakku” menandakan perjalanan hidup yang panjang dan rapuh. Sementara tepuk tangan dan sorakan penonton mencerminkan tekanan sosial yang kerap mengaburkan arah dan makna perjalanan tersebut.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang meniti semacam tali atau titian—yang dapat dimaknai sebagai perjalanan hidup atau pilihan eksistensial. Di sekelilingnya terdapat penonton yang bersorak, seorang nyonya yang mengomentari, seorang penyair yang mengamati, serta pemilik sirkus yang memerhatikan dari menara tertinggi.
Situasi ini menyerupai pertunjukan sirkus: ada risiko (“Aum harimau di belakangku”), ada tuntutan sensasi (“terjunlah segera, agar kami lebih bahagia”), dan ada kekuasaan yang mengendalikan dari atas (“si pemilik sirkus tetaplah hanya meminati bayang-bayangku”).
Pada bagian akhir, muncul bayangan tentang “kekasih atau algojo” yang menunggu di seberang sana, menghadirkan ambiguitas antara cinta dan kematian.
Makna Tersirat
Puisi ini dapat ditafsirkan sebagai kritik terhadap masyarakat tontonan (spectacle society), di mana kehidupan individu menjadi pertunjukan bagi orang banyak. Tepuk tangan yang “terlalu segera” justru memalingkan penyair dari “badai sandi”, seolah-olah apresiasi publik mengganggu proses pencarian makna yang lebih dalam.
Pemilik sirkus yang “meminati bayang-bayangku” menyiratkan kekuasaan yang tidak tertarik pada substansi, melainkan citra atau representasi. Hal ini dapat dimaknai sebagai sindiran terhadap sistem yang lebih menghargai simbol dan bayangan ketimbang kenyataan.
Larik “Karena laherku biru, terlalu biru” membuka tafsir mengenai identitas—mungkin tentang darah bangsawan, privilese, atau justru ironi terhadap status sosial yang membedakan penyair dari yang lain.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung tegang dan reflektif. Ketegangan muncul dari ancaman (“Aum harimau di belakangku”), tekanan publik, serta kemungkinan jatuh atau mati. Namun, ada pula nada kontemplatif ketika penyair mendengar bisik-bisik dan merapikan rambut dan gigi—seolah tetap menjaga martabat di tengah ancaman.
Pada bagian akhir, suasana berubah menjadi muram dan ambigu, terutama ketika kematian dan algojo disebutkan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya kesadaran diri di tengah tekanan sosial dan struktur kekuasaan. Puisi ini seakan mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar pertunjukan untuk memuaskan penonton. Selain itu, puisi ini juga mengandung pesan bahwa identitas dan pilihan hidup memiliki konsekuensi. Perjalanan menuju “seberang sana” tidak pernah bebas dari risiko, baik berupa cinta maupun hukuman.
Puisi "Peniti Tali" karya Nirwan Dewanto merupakan refleksi puitis tentang eksistensi manusia dalam ruang pertunjukan sosial. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan posisi individu di tengah sorotan, tuntutan, dan kekuasaan.
Penyair menghadirkan gambaran bahwa hidup adalah perjalanan berisiko yang terus diawasi—dan pada akhirnya, setiap individu harus meniti jalannya sendiri, meski di bawah gemuruh tepuk tangan dan ancaman yang mengintai.
Biodata Nirwan Dewanto:
- Nirwan Dewanto lahir pada tanggal 28 September 1961 di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
