Puisi: Percakapan (Karya Soni Farid Maulana)

Puisi “Percakapan” karya Soni Farid Maulana menghadirkan dialog yang tidak sekadar percakapan verbal, melainkan pertemuan batin antara subjek ...
Percakapan

Likat lumpur tubuh perempuan
Adalah kesepian yang tiada henti dibentuk
Sang pematung menurut citranya sendiri
Ditatap dan dibetulkan letak lekuk tubuhnya
Yang diolahnya itu. Sebuah tungku perapian
Lalu dinyalakan. Disiapkan pembakaran

Kau bagiku adalah ruang yang kerap
Mengekalkan impian-impianku,
Ujarnya. Malam alangkah lindap dan sunyi
Hanya desir rumputan, desir pepohonan
Mungkin denting dedaunan dipetik angin
Cahaya bulan juga suara cengkrik
Menandai batu-batu dan menari dalam diam
Dalam huruf-huruf alam yang berkilauan
Di semesta terbuka

Kau adalah ruang bagi imajiku, tanah
Bagi tetumbuhan benihku yang kutanam tanpa
Nafsu, lanjut si pematung sambil
Menghaluskan arsiran palet pada celah berbukit
Di dinding bayang-bayang kelambu bergeseran
Di halaman cahaya lampu dan bulan tampak
Bersilangan, berayun-ayun di antara
Ranting yang dimainkan angin dan lolong
Anjing kegelapan di situ

1996

Sumber: Horison (April, 2000)

Analisis Puisi:

Puisi “Percakapan” karya Soni Farid Maulana menghadirkan dialog yang tidak sekadar percakapan verbal, melainkan pertemuan batin antara subjek pencipta (pematung) dan objek yang diciptakannya (perempuan sebagai bentuk simbolik). Puisi ini kaya akan metafora artistik dan nuansa kontemplatif yang mengarah pada refleksi tentang penciptaan, kesepian, serta relasi antara imajinasi dan realitas.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penciptaan dan kesepian dalam relasi manusia. Sosok pematung menjadi representasi pencipta yang berusaha membentuk, menghidupkan, dan memberi makna pada sesuatu di luar dirinya, namun justru memperlihatkan kehampaan batin yang mendasarinya.

Puisi ini bercerita tentang seorang pematung yang menciptakan sosok perempuan dari lumpur. Proses kreatif tersebut digambarkan secara detail—mulai dari membentuk tubuh, memperbaiki lekuk, hingga “membakar” hasil ciptaannya. Dalam proses itu, muncul percakapan yang sebenarnya bersifat satu arah: sang pematung memaknai perempuan itu sebagai ruang bagi impian dan imajinasinya. Namun, percakapan ini terasa sunyi, seolah tidak ada respons nyata dari pihak yang diajak bicara.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini cukup kompleks. Di satu sisi, perempuan dapat dimaknai sebagai simbol karya, ide, atau imajinasi yang dibentuk oleh manusia. Di sisi lain, ia juga bisa merepresentasikan objek yang dikonstruksi oleh hasrat dan persepsi penciptanya.

Kesepian yang disebut di awal (“kesepian yang tiada henti dibentuk”) menunjukkan bahwa proses penciptaan tidak selalu menghadirkan kepenuhan, tetapi justru bisa memperdalam kehampaan. Ada ironi: semakin diciptakan, semakin terasa sepi.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi cenderung hening, kontemplatif, dan sedikit muram. Gambaran malam yang “lindap dan sunyi”, disertai suara alam seperti desir rumput, dedaunan, dan cengkerik, memperkuat nuansa kesunyian yang intim sekaligus melankolis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan bahwa:
  • Proses penciptaan sering kali berangkat dari kebutuhan batin yang dalam, termasuk kesepian.
  • Manusia kerap menciptakan sesuatu (atau seseorang dalam persepsi) sesuai kehendaknya sendiri, tanpa benar-benar memahami “yang diciptakan”.
  • Ada batas antara imajinasi dan realitas yang tidak selalu bisa dijembatani.

Imaji

Puisi ini sangat kaya imaji, terutama:
  • Imaji visual: “lekuk tubuh”, “cahaya bulan”, “ranting yang dimainkan angin”.
  • Imaji auditif: “desir rumputan”, “denting dedaunan”, “suara cengkrik”, “lolong anjing”.
  • Imaji taktil: “lumpur tubuh perempuan”, “menghaluskan arsiran”.
Imaji-imaji ini membangun suasana yang hidup namun tetap sunyi, seakan pembaca diajak masuk ke ruang batin sang pematung.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “perempuan sebagai ruang”, “tanah bagi tetumbuhan benih” → melambangkan wadah bagi imajinasi dan harapan.
  • Personifikasi: “dedaunan dipetik angin”, “ranting yang dimainkan angin”.
  • Simbolisme: lumpur, api, malam, dan cahaya bulan sebagai simbol proses penciptaan, transformasi, dan kesunyian.
Puisi “Percakapan” bukan sekadar dialog biasa, melainkan refleksi filosofis tentang bagaimana manusia mencipta, memaknai, dan pada akhirnya berhadapan dengan kesepiannya sendiri dalam proses tersebut.

Soni Farid Maulana
Puisi: Percakapan
Karya: Soni Farid Maulana

Biodata Soni Farid Maulana:
  • Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
  • Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.