Puisi: Perhitungan (Karya S.K. Insan Kamil)

Puisi “Perhitungan” karya S.K. Insan Kamil menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan, dan keterlambanan hanya akan memperpanjang ketertinggalan.
Perhitungan

Tanyakan, tanyakan kepada manusia babak seribu
yang kini hidup terus bermukim di tepi hutan
melanjutkan riwayat Adam dan Hawa;
Tanyakan, tanyakan, apa akan terus membiarkan
labah bersarang, rawa terbentang, rumah gubuk alang-alang?

Ini hidup tinggal sejengkal lagi
Gubuk itu telah apak dan usang.
Orang utas jangan tertawa puas
Tukang rumput jangan enak tidur pulas,
Tumpas hutan dan bangunkan gedung di tengah-tengahnya
sebelum manusia babak kemudian minta hidup

Tanyakan, tanyakan kepada manusia yang tidur seribu tahun
Tanyakan kepada pemimpin, tanyakan pada sendiri
kapan hutan akan ditumpas.
Itu gubuk alang-alang sudah apak dan usang
Matahari  bolak-balik sudah jemu
melalui atap ditutup tai kalong.
Bangun, bangun, lekas bangun!!!

Sumber: Zenith (Mei, 1951)

Analisis Puisi:

Puisi “Perhitungan” karya S.K. Insan Kamil merupakan sajak bernada kritik sosial yang kuat. Dengan repetisi seruan dan diksi yang lugas, penyair menyampaikan kegelisahan terhadap kondisi masyarakat yang stagnan, terbelakang, dan terjebak dalam ketertinggalan. Puisi ini tidak sekadar menggambarkan keadaan, tetapi juga mendesak perubahan.

Tema

Tema puisi ini adalah kesadaran sosial dan tuntutan perubahan terhadap kondisi kehidupan yang tertinggal dan stagnan.

Puisi ini bercerita tentang manusia yang hidup di tepi hutan dalam kondisi serba kekurangan, seolah-olah melanjutkan “riwayat Adam dan Hawa” — metafora bagi kehidupan yang sangat awal, primitif, dan belum berkembang.

Penyair mempertanyakan apakah manusia akan terus membiarkan kehidupan seperti itu: gubuk alang-alang yang apak, rawa terbentang, dan kemiskinan yang menetap. Ada dorongan untuk “menumpas hutan dan membangun gedung”, simbol pembangunan dan kemajuan. Seruan ini ditujukan kepada banyak pihak: manusia itu sendiri, pemimpin, bahkan kesadaran pribadi.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap keterlambanan pembangunan dan sikap pasif masyarakat serta pemimpin. “Manusia babak seribu” dan “manusia yang tidur seribu tahun” menyimbolkan generasi yang terlalu lama terlelap dalam ketertinggalan.

Hutan, gubuk alang-alang, dan rawa dapat dimaknai sebagai simbol keterbelakangan struktural. Sementara “gedung” melambangkan modernitas dan peradaban yang lebih maju. Puisi ini mengandung pertanyaan moral: sampai kapan stagnasi ini dibiarkan?

Judul “Perhitungan” sendiri mengisyaratkan adanya momen evaluasi—sebuah titik ketika manusia harus menghitung ulang langkah dan tanggung jawabnya terhadap masa depan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa mendesak, kritis, dan provokatif. Seruan berulang “Tanyakan, tanyakan” dan “Bangun, bangun” menciptakan tekanan emosional yang kuat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini antara lain:
  • Jangan terlena dalam keterbelakangan dan kemalasan.
  • Pemimpin dan masyarakat harus bertanggung jawab terhadap perubahan.
  • Kesadaran dan tindakan nyata diperlukan untuk keluar dari stagnasi.
Puisi ini mengajak pembaca untuk melakukan refleksi sekaligus aksi.

Imaji

  • Imaji visual: gubuk alang-alang yang apak, rawa terbentang, hutan lebat, atap tertutup kotoran kelelawar.
  • Imaji gerak: matahari “bolak-balik” melewati atap; seruan untuk bangun.
  • Imaji simbolik: hutan sebagai lambang keterbelakangan, gedung sebagai simbol kemajuan.

Majas

  • Repetisi: pengulangan “Tanyakan, tanyakan” dan “Bangun, bangun” untuk menegaskan urgensi.
  • Metafora: “manusia babak seribu” dan “tidur seribu tahun” sebagai simbol stagnasi panjang.
  • Hiperbola: gambaran tidur seribu tahun untuk memperkuat kesan kelalaian ekstrem.
  • Simbolisme: gubuk dan hutan sebagai lambang kemiskinan struktural.
Puisi “Perhitungan” karya S.K. Insan Kamil adalah kritik sosial yang tajam terhadap stagnasi dan keterbelakangan. Dengan bahasa yang retoris dan penuh desakan, penyair mendorong masyarakat dan pemimpin untuk segera bangkit, mengevaluasi diri, serta melakukan perubahan nyata. Puisi ini menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan, dan keterlambanan hanya akan memperpanjang ketertinggalan.

S.K. Insan Kamil
Puisi: Perhitungan
Karya: S.K. Insan Kamil

Biodata S.K. Insan Kamil:
  • S.K. Insan kamil (nama lengkapnya adalah Sirullah Kaelani Insankamil) lahir pada tanggal 22 Februari 1928 di Jatiseeng Ciledug, Cirebon.
  • S.K. Insan kamil meninggal dunia pada tanggal 3 Oktober 1990.
  • S.K. Insan kamil pernah menggunakan beberapa nama samaran: Sirullah, Sirullah Kaelani, Sirullah I.K, dan S.K. Kamil.
© Sepenuhnya. All rights reserved.