Perian
Kusandang juga perian ini naik tebing dan lembahnya
Sebab kemarau berdatangan dengan wajah ungu
Bawalah aku kepada mata air beningmu di telaga
Dalam keadaan diriku waspada terhadap lintah-lintahmu.
Kubawa tembakau dan korekapi
Di kepulanganku tak terberita
Merajut buntut kuda berkepanjangan
Kami saling tanya. Engkau anak gelisah-resah selalu
1963
Sumber: Horison (Oktober, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi “Perian” karya Rusli Marzuki Saria menghadirkan perjalanan simbolik yang sarat makna eksistensial. Kata perian dalam khazanah bahasa Melayu merujuk pada wadah air (semacam kendi atau bejana). Dalam puisi ini, perian tidak hanya dimaknai sebagai benda, melainkan simbol beban, harapan, dan daya tahan manusia dalam menghadapi kemarau kehidupan.
Dengan lanskap tebing, lembah, telaga, dan mata air, penyair membangun dunia metaforis yang menempatkan manusia dalam perjalanan yang penuh kewaspadaan dan kegelisahan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjuangan dan ketabahan dalam menghadapi kekeringan hidup—baik secara harfiah maupun batiniah. Ada pula tema pencarian sumber kehidupan (mata air) dan kewaspadaan terhadap bahaya yang mengintai.
Kemarau menjadi metafora situasi sulit, sementara perian melambangkan kesiapan atau beban yang harus ditanggung.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyandang perian, menempuh tebing dan lembah, demi mencari mata air di tengah kemarau:
“Kusandang juga perian ini naik tebing dan lembahnyaSebab kemarau berdatangan dengan wajah ungu”
Kemarau digambarkan dengan “wajah ungu”, menghadirkan kesan muram dan keras. Dalam perjalanan itu, penyair meminta dibawa ke “mata air bening” di telaga, tetapi tetap waspada:
“Dalam keadaan diriku waspada terhadap lintah-lintahmu.”
Lintah menjadi simbol ancaman yang mengisap tenaga atau harapan.
Bagian akhir memperlihatkan suasana pulang yang sunyi dan tidak terberitakan:
“Di kepulanganku tak terberita...Engkau anak gelisah-resah selalu”
Terdapat dialog implisit antara penyair dan “engkau”, yang mungkin merupakan sosok lain atau representasi diri sendiri yang gelisah.
Makna Tersirat
Puisi ini berkaitan dengan perjalanan hidup manusia yang penuh tantangan. Perian dapat dimaknai sebagai tanggung jawab, cita-cita, atau beban eksistensial yang tetap harus dipikul meski medan berat.
Kemarau bukan sekadar musim kering, tetapi simbol kekosongan batin, krisis makna, atau kesulitan sosial. Mata air bening melambangkan harapan, kebenaran, atau ketenangan jiwa.
Lintah-lintah yang diwaspadai menyiratkan adanya godaan, pengkhianatan, atau situasi yang dapat menguras energi. Sementara “anak gelisah-resah selalu” mengandung makna kondisi manusia modern yang cenderung diliputi kecemasan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung reflektif, sunyi, dan sedikit muram. Ada keteguhan dalam langkah “kusandang juga”, tetapi juga terselip rasa lelah dan kewaspadaan.
Nada kontemplatif terasa kuat, terutama dalam bagian yang menyiratkan dialog dan kegelisahan batin.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa dalam menghadapi masa sulit, manusia harus tetap teguh memikul tanggung jawab dan terus mencari sumber kehidupan. Namun, dalam pencarian itu, kewaspadaan tetap diperlukan agar tidak terjerat oleh hal-hal yang merugikan. Puisi ini juga mengingatkan bahwa kegelisahan adalah bagian dari perjalanan, tetapi tidak boleh menghentikan langkah.
Puisi “Perian” karya Rusli Marzuki Saria merupakan refleksi puitik tentang perjalanan hidup di tengah kemarau batin. Puisi ini menghadirkan gambaran tentang keteguhan manusia menghadapi kegelisahan dan kekeringan hidup. Karya ini menegaskan bahwa harapan tetap ada, meski jalan yang ditempuh terjal dan penuh lintah.
Puisi: Perian
Karya: Rusli Marzuki Saria
Biodata Rusli Marzuki Saria:
- Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.