Sumber: Impian Usai (2007)
Analisis Puisi:
Puisi “Perjalanan” karya Wayan Jengki Sunarta menghadirkan lanskap laut sebagai ruang metaforis bagi pengalaman batin manusia. Laut, ikan, nelayan, dan ubur-ubur tidak hanya berfungsi sebagai latar alam, tetapi juga sebagai simbol dinamika cinta, pencarian diri, dan pergulatan emosional. Bahasa yang digunakan cenderung sensual, simbolik, dan penuh imaji bawah sadar.
Tema
Tema puisi ini adalah perjalanan batin dalam pencarian cinta dan diri yang menyatu dengan alam bawah sadar, terutama melalui simbol laut sebagai ruang emosi yang dalam dan tak terjangkau.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang melakukan “perjalanan” batin untuk memburu sunyi di kedalaman “laut tubuhmu”. Tubuh “kau” diposisikan sebagai ruang samudera yang dalam, penuh misteri dan gelombang emosi.
Di dalamnya terdapat ikan-ikan gelisah yang berada dalam “percintaan di atas ranjang ubur-ubur”, menciptakan citra dunia yang cair, lembut, sekaligus asing.
Nelayan-nelayan yang menebarkan jala rindunya menjadi simbol upaya manusia menangkap makna atau cinta yang sulit dijangkau. Namun, pada akhirnya, “kau” justru mencumbu bayang-bayang perjalanan penyair, hingga kuda laut yang ditungganginya tersuruk dalam ceruk sunyi jiwa. Ini menunjukkan bahwa perjalanan itu tidak hanya eksternal, tetapi juga melibatkan kehancuran atau perendaman diri.
Makna Tersirat
Puisi ini berkaitan dengan ketidakmampuan manusia untuk sepenuhnya memahami cinta atau batin orang lain. “Laut tubuhmu” melambangkan kedalaman emosional yang tak terukur.
Ikan-ikan gelisah dan nelayan yang menebar jala menunjukkan usaha manusia untuk memahami perasaan, namun hasilnya selalu parsial dan tidak pasti.
Kuda laut yang tersuruk dalam “ceruk sunyi jiwa” dapat dimaknai sebagai simbol perjalanan yang justru membawa seseorang kembali ke kesunyian diri sendiri. Dengan demikian, perjalanan cinta dan pencarian makna sering kali berujung pada introspeksi yang sunyi.
Puisi “Perjalanan” karya Wayan Jengki Sunarta adalah eksplorasi metaforis tentang cinta dan pencarian diri melalui lanskap laut yang imajinatif. Dengan simbol-simbol biologis dan maritim, penyair menggambarkan bahwa perjalanan emosional manusia sering kali tidak membawa kepastian, melainkan justru menuntun pada kedalaman sunyi dalam diri sendiri.
Karya: Wayan Jengki Sunarta
Biodata Wayan Jengki Sunarta:
- Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
