Puisi: Pertemuan (Karya Oka Rusmini)

Puisi “Pertemuan” karya Oka Rusmini menyiratkan pentingnya memahami pengalaman dengan bahasa sendiri—yakni dengan kesadaran personal, bukan dengan ...

Pertemuan

inilah kata terakhir yang kupunya
ketika pertemuan itu jadi tangis kanak-kanak

seharusnya kukembalikan kesepian
yang melahirkan potongan tubuh keindahan
lalu kupahami warna bunga
dengan bahasa sendiri

pernah kupinjam laut
juga buih, ombak dan pasir
untuk menyaring pertemuan itu
haruskah kusalahkan angin laut
yang melebur laut yang kugenggam

sering kusesali
pinjaman waktu pada hidup
yang memberi warna seragam pada percakapan kecil itu

pertemuan ini
harus kita kubur
dengan upacara kecil
kelak tanah dan laut
akan menceritakannya pada bumi

1993

Sumber: Warna Kita (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Pertemuan” karya Oka Rusmini merupakan sajak reflektif yang mengangkat pengalaman emosional tentang sebuah perjumpaan yang berakhir getir. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat simbol, penyair menggambarkan pertemuan bukan sebagai momen bahagia, melainkan peristiwa yang menyisakan tangis, penyesalan, dan keharusan untuk melepaskan.

Puisi ini memperlihatkan kecenderungan Oka Rusmini dalam mengeksplorasi relasi personal dengan kedalaman psikologis dan simbol alam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perpisahan dan penyesalan dalam sebuah pertemuan yang tidak berakhir sebagaimana diharapkan. Pertemuan di sini tidak dirayakan, melainkan dikuburkan—menandakan kegagalan atau ketidakselarasan. Selain itu, terdapat tema tentang kesadaran diri dan penerimaan atas kefanaan hubungan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk bertahan. Ada pertemuan yang justru mengajarkan tentang batas, kehilangan, dan keharusan melepaskan.

“Pinjaman waktu pada hidup” menyiratkan bahwa kebersamaan hanyalah sementara. Waktu tidak pernah benar-benar menjadi milik manusia.

Sementara itu, pernyataan bahwa “tanah dan laut akan menceritakannya pada bumi” menunjukkan bahwa setiap pengalaman, meski dikubur, tetap menjadi bagian dari semesta dan ingatan kolektif.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini sendu, reflektif, dan melankolis. Tidak ada ledakan emosi yang dramatis, melainkan kesedihan yang tenang dan matang.

Nada kontemplatif terasa kuat, terutama pada bagian ketika penyair menyadari bahwa pertemuan harus diakhiri dengan “upacara kecil”—sebuah metafora perpisahan yang khidmat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa manusia perlu belajar menerima batas dan melepaskan. Tidak semua hal dapat dipertahankan, dan tidak semua pertemuan berujung kebahagiaan. Puisi ini juga menyiratkan pentingnya memahami pengalaman dengan bahasa sendiri—yakni dengan kesadaran personal, bukan dengan menyalahkan keadaan atau pihak lain.

Puisi “Pertemuan” adalah puisi tentang kesadaran akan batas dan kefanaan hubungan. Oka Rusmini menghadirkan pertemuan bukan sebagai puncak kebahagiaan, melainkan sebagai proses yang mungkin harus dikuburkan demi ketenangan batin.

Dengan simbol laut, tanah, dan upacara kecil, puisi ini menegaskan bahwa setiap pertemuan—betapapun singkat—akan tetap menjadi bagian dari narasi kehidupan yang diceritakan semesta.

Oka Rusmini
Puisi: Pertemuan
Karya: Oka Rusmini

Biodata Oka Rusmini:
  • Oka Rusmini lahir di Jakarta pada tanggal 11 Juli 1967.
© Sepenuhnya. All rights reserved.