Puisi: Potret Diri Forugh Farrokhzad (Karya Nirwan Dewanto)

Puisi “Potret Diri Forugh Farrokhzad” karya Nirwan Dewanto merupakan monolog puitik yang menggabungkan sensualitas, politik, dan refleksi identitas ..
Potret Diri Forugh Farrokhzad
(untuk Shirin Neshat)

Dalam gelap sempurna ini hanya setitik nyala berpindah-pindah dari bibirmu ke bibirku. Kau tak dapat melihat wajahku, dan aku hanya berupaya membayangkan wajahmu. 

Mungkin aku adalah mempelaimu. Yang pasti, inilah jeda antar-persetubuhan. Sebatang rokok sudah kaunyalakan, dan kita menghisapnya bergantian sambil menanti kemesraan berikutnya, jika masih ada.

Kau tentu ingat anting-antingku adalah dua pasang buah ceri dan kuku tanganku terbungkus kelopak dahlia. Dalam upacara berlimpah cahaya itu, kau dan semua orang leluasa memandangku, sementara aku hanya runduk ke lantai menyigi sepasang kakimu. Kau segempal menara kaum Majusi tapi aku akan menebangmu, demikianlah aku berkata dalam hati di hadapan Tuan Kadi.

Sudah berapa lama kita di kamar ini? Berjam-jam barangkali, sebab masih terdengar langkah polisi rahasia sang Shah mencarimu nun di luar sana. Atau bertahun-tahun barangkali, sebab kita juga merasa bebas menghikmati hujah para mullah.

Biarkan saja gelap yang kian luas ini. Meski kau mendaki tubuhku, aku mau kau tetap tak mengenalku. Jika pun aku sungguh-sungguh telanjang, maka cobalah membayangkan wujudku di antara semua perempuan yang membungkus seluruh tubuh dengan kain hitam di jalanan. Siapa pemilik tubuh mereka, tubuh kami, sebenarnya?

Noktah nyala rokok yang beredar di antara kita sesekali mampu juga menerangi tubuhku. Tapi janganlah terpukau oleh dadaku, yang akan membuatmu dahaga belaka. Sepasang mata air di puncak busung dadaku yang kauhasratkan akan kusimpan hanya untuk anakmu kelak.

Sesekali kuhembuskan asap putih langsung ke tubuhmu untuk sedikit melunakkan gelap jenuh tak terperi. Percayalah, gelung asap ini mampu menghela ke mari bayangan khat dari Qum, Isfahan, atau Nishapur ke mataku, barangkali khat yang telah mengukuhkan kita sebagai pasangan suci. Maka bolehlah aku menghisap sungai di lidahmu dan menyadap getah di pangkal pahamu tanpa rasa berdosa.

Dan aku menumbangkanmu, membangkitkanmu kembali, merebut rokokmu, sementara mereka yang salih itu mengira aku sekadar makmummu, juru masakmu, ladang suburmu, pencuci bajumu.

Kautahu sudah berapa lama kita di sini? Betapa kita dengar kaum mahasiswa mulai gencar baris-berbaris di pelbagai plaza dan alun-alun. Mereka memanggili namamu. Mengajakmu menggulingkan sang Shah. Atau mengelu-elukan sang Ayatullah. Atau memerangi sang jelmaan Nebukhadnezzar.

Jika aku mulai hamil, pergilah mengendap-endap ke haribaan mereka. Tapi jangan lupa bawakan jendela dan sebagian matahari ke mari, agar aku leluasa melihat kaum perempuan berwarna hitam legam itu. Dan aku akan belajar bagaimana memahirkan mata pada lubang hijab seperti mereka.

Kini biarkan dulu bibir kita bertukar titik nyala dalam gelap ini. Naikkanlah. Turunkanlah. Sampai kemesraan berikutnya, jika masih ada. Jangan pernah mereka-reka wajahku.

Aku tahu puntung ini tengah mengeras oleh kerak noda merah. Darahmu. Atau cat bibirku. Sampai aku merubuhkanmu lagi. 

2009

Sumber: Buli-Buli Lima Kaki (2010)

Analisis Puisi:

Puisi ini merupakan monolog puitik yang menggabungkan sensualitas, politik, dan refleksi identitas perempuan dalam konteks sejarah Iran. Dengan menghadirkan sosok liris yang merujuk pada figur Forugh Farrokhzad, penyair membangun ruang gelap yang intim sekaligus politis, di mana tubuh, kekuasaan, dan kebebasan saling bertaut.

Tema

Tema puisi ini adalah identitas perempuan, tubuh sebagai ruang perlawanan, serta pertemuan antara cinta, kekuasaan, dan sejarah politik.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap sistem patriarki dan kekuasaan religio-politik yang mengatur tubuh dan identitas perempuan. Pertanyaan “Siapa pemilik tubuh mereka, tubuh kami, sebenarnya?” menjadi inti refleksi: tubuh perempuan sering diposisikan sebagai milik laki-laki, negara, atau agama.

Rokok yang berpindah dari bibir ke bibir dalam gelap melambangkan relasi setara sekaligus rapuh. Gelap bukan sekadar ruang fisik, melainkan simbol ketidakpastian identitas dan represi politik. Sementara itu, kehamilan, hijab, dan figur makmum memperlihatkan peran sosial yang dilekatkan pada perempuan—yang kemudian digugat melalui suara liris yang sadar dan memberontak.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung intim, gelap, tegang, dan kontemplatif, dengan latar ancaman politik yang terus terasa di luar kamar. Ada percampuran antara kemesraan dan kecemasan, antara gairah dan ketakutan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya kesadaran diri dan kedaulatan atas tubuh serta identitas, terutama bagi perempuan dalam sistem yang mengekang. Puisi ini juga menegaskan bahwa pengalaman personal (cinta, hasrat, kehamilan) tidak pernah benar-benar terpisah dari konteks sosial dan politik.

Puisi “Potret Diri Forugh Farrokhzad” karya Nirwan Dewanto adalah karya yang memadukan sensualitas dan kesadaran politik secara intens. Tubuh perempuan tampil bukan sekadar objek hasrat, melainkan ruang perlawanan dan refleksi identitas. Dalam gelap kamar yang intim, sejarah dan kekuasaan tetap hadir, menegaskan bahwa pengalaman personal tidak pernah lepas dari struktur sosial yang lebih luas.

Nirwan Dewanto
Puisi: Potret Diri Forugh Farrokhzad
Karya: Nirwan Dewanto

Biodata Nirwan Dewanto:
  • Nirwan Dewanto lahir pada tanggal 28 September 1961 di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.