Puisi: Que Sera-Sera (Karya Nenden Lilis Aisyah)

Puisi “Que Sera-Sera” karya Nenden Lilis Aisyah menghadirkan pengalaman emosional yang kompleks tentang pertemuan lintas budaya, kerinduan terhadap ..
Que Sera-Sera
- kepada para penyair Indo

pulang dari kotamu malam hari
di kereta yang melaju dalam angin keras musim dingin
masih terhirup uap anggur yang hangat
parfum tajam menyengat
dan semerbak dadamu dalam kota gemerlap

masih terasa kental bau pertemuan itu
dari tubuh kita tercium napas benua yang jauh
di matamu perahu-perahu nenek moyang berlabuh
mulutmu menjeritkan lagu keroncong tanah yang hilang
terpatah-patah mengeja syair
dari sebuah negeri yang ditelan mimpi

(di wajah kami seperti kau lihat kembali
bukit jelita, kebun lada, dan kerinduan itu
"aku pulang! aku pulang!"
tapi suaramu terpendam dataran yang diam)

akhirnya kami yang mesti pulang
di stasiun Utrecht kita saling melambai
ketika kau berlalu, kulihat kulit coklat
serta rambut hitammu disepuh bulan biru

1999

Sumber: Selendang Pelangi (Indonesia Tera, 2006)

Analisis Puisi:

Puisi “Que Sera-Sera” karya Nenden Lilis Aisyah menghadirkan pengalaman emosional yang kompleks tentang pertemuan lintas budaya, kerinduan terhadap tanah asal, serta penerimaan akan takdir. Dengan latar perjalanan dan suasana kota asing, puisi ini mengandung refleksi mendalam tentang identitas dan pulang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan terhadap tanah air, identitas diaspora, serta penerimaan terhadap takdir kehidupan.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang pulang dari sebuah kota di luar negeri setelah pertemuan yang hangat dan penuh kenangan. Dalam perjalanan malam menggunakan kereta, penyair masih merasakan jejak pertemuan tersebut—aroma, suasana, hingga kedekatan emosional yang terjalin.

Pertemuan itu tidak sekadar pertemuan biasa, tetapi juga menghadirkan kesadaran akan akar budaya dan identitas. Sosok yang ditemui digambarkan membawa jejak nenek moyang, lagu-lagu lama, dan kerinduan akan tanah asal yang seolah hilang.

Perpisahan di stasiun menjadi momen penting—sebuah simbol bahwa setiap pertemuan pada akhirnya harus berakhir, dan masing-masing kembali pada jalannya sendiri.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa identitas seseorang tidak pernah benar-benar lepas dari akar budaya dan sejarahnya, meskipun ia berada jauh dari tanah asal.

Selain itu, judul “Que Sera-Sera” (yang berarti “apa yang akan terjadi, terjadilah”) mengisyaratkan sikap pasrah terhadap takdir. Puisi ini menyiratkan bahwa pertemuan, perpisahan, dan perjalanan hidup adalah bagian dari alur yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa melankolis, hangat, sekaligus nostalgik, dengan nuansa rindu yang mendalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik adalah bahwa manusia perlu menerima perjalanan hidup dengan segala pertemuan dan perpisahannya, sambil tetap menjaga ingatan dan identitas asalnya.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, kenangan dan akar budaya akan selalu menjadi bagian dari dirinya.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji sensorik, antara lain:
  • Imaji penciuman: uap anggur, parfum, semerbak tubuh.
  • Imaji visual: kota gemerlap, bulan biru, stasiun, sosok yang melambai.
  • Imaji gerak: kereta yang melaju dalam angin musim dingin.
  • Imaji simbolik: perahu nenek moyang, lagu keroncong sebagai representasi budaya.
Imaji-imaji ini memperkuat kesan intim sekaligus memperdalam nuansa nostalgia.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini meliputi:
  • Metafora: “napas benua” sebagai simbol jarak budaya dan pengalaman.
  • Personifikasi: lagu yang “menjeritkan” kerinduan.
  • Simbolisme: kereta, stasiun, dan perjalanan sebagai lambang kehidupan.
  • Hiperbola: penggambaran emosi dan kenangan yang intens.
  • Repetisi: ungkapan “aku pulang!” untuk menegaskan kerinduan.
Puisi “Que Sera-Sera” karya Nenden Lilis Aisyah merupakan refleksi puitis tentang identitas, perantauan, dan kerinduan yang tak pernah selesai. Dengan bahasa yang kaya imaji dan simbol, puisi ini menggambarkan bahwa hidup adalah perjalanan penuh pertemuan dan perpisahan—dan pada akhirnya, manusia hanya bisa menerima: apa yang terjadi, akan terjadilah.

Nenden Lilis Aisyah
Puisi: Que Sera-Sera
Karya: Nenden Lilis Aisyah

Biodata Nenden Lilis Aisyah:
  • Nenden Lilis Aisyah lahir di Malangbong, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 26 September 1971.
© Sepenuhnya. All rights reserved.