Rasa yang Terpendam
Mengapa hingga hari ini kamu tidak sadar
Ataukah kamu pura-pura tidak mengerti
Bahwa setiap untaian kata ditujukan kepadamu?
Ataukah kamu tidak percaya dengan ketulusan perkataanku
Dari lubuk hati yang paling dalam
Tidak ada dusta di antara setiap kata, kalimat dan ucapanku
Haruskah aku kabarkan ke dunia
Agar dunia menjadi saksi setiap perkataanku?
Semoga Allah memberikan kamu hidayah dan petunjuk
Agar kamu tahu arti sebuah kejujuran yang sejati
23 Oktober 2009
Analisis Puisi:
Puisi “Rasa yang Terpendam” karya Riyanto merupakan ungkapan lirih tentang perasaan yang tidak tersampaikan secara utuh kepada seseorang yang dituju. Dengan gaya bahasa langsung dan retoris, puisi ini menampilkan kegelisahan batin akibat ketidakpastian respons dari pihak yang dicintai.
Tema
Tema puisi ini adalah cinta yang terpendam dan keraguan terhadap penerimaan ketulusan perasaan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kerinduan akan pengakuan dan validasi atas ketulusan hati. Ketika seseorang merasa cintanya tidak dipercaya, muncul dorongan untuk membuktikan diri secara lebih luas.
Baris doa di akhir puisi—“Semoga Allah memberikan kamu hidayah dan petunjuk”—menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar romantik, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual dan moral. Kejujuran ditempatkan sebagai nilai yang luhur dan sakral.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini terasa sendu, penuh harap, dan sedikit getir. Ada nada memohon sekaligus mempertanyakan, tetapi tetap dalam kerangka kesantunan dan doa.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya memahami dan menghargai ketulusan seseorang, serta menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam hubungan. Puisi ini juga menyiratkan bahwa dalam menghadapi keraguan, seseorang sebaiknya tetap bersandar pada nilai spiritual dan doa.
Puisi “Rasa yang Terpendam” karya Riyanto menghadirkan potret kegelisahan hati yang mendambakan pengakuan atas cinta yang tulus. Melalui pertanyaan retoris dan nuansa spiritual, puisi ini menegaskan bahwa kejujuran adalah fondasi utama dalam hubungan. Ketika ketulusan tidak dipercaya, doa menjadi sandaran terakhir untuk memohon pemahaman dan hidayah.
Karya: Riyanto
Biodata Riyanto:
- Riyanto lahir pada tanggal 19 September 1977 di Jakarta.