Puisi: Ronggeng Sumba (Karya Umbu Landu Paranggi)

Puisi “Ronggeng Sumba” karya Umbu Landu Paranggi menyiratkan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari kesunyian dan kefanaan, namun melalui ...
Ronggeng Sumba (1)

Tambur tua, ditabuh dewa
menujum sunyiku, di mulut kemarau
sirih pinang tembakau, membaun angin cendana
duh sarungkan pedangmu, dendam budak biru
gulung rokok daun lontar, kumurkan mantra pengantar
api pediangan menanti, siraman darah lelaki

Ronggeng Sumba (2)

Gong gong purba, meningkah bertalu talu
duh restu dewata, menjaring bulan buangan
lima perawan saringan, menghambur dalam arena
terjurai melindas baying, kain dan selendang pilihan
tenunan datu, kayu dan batu
anyaman pelangi, menyambar nyambar dukaku

Ronggeng Sumba (3)

gemerincing giring-giring di kaki, mabuk berburu sorak sorai
bulu ayam di kepala meronta, surai kuda di jari melambai
melipat malam lupa berbusa, hai patah tambur buat rajamu
(hingga lepas urat-urat tangan), gong-gong nyaring dan tajamkan
(bahkan hingga putus napas tarian), mari…hanya kesepianku
panggang di bara cemar, sampai subuh berlinangan
embun, pijaran riap embun, yang meramu cintaku

Ronggeng Sumba (4)

rawa rawa, paya paya, duka cintaku mengibas telaga senja
rawa rawa, paya paya, di punggung sunyi hariku busur cakrawala
rawa rawa, paya paya, baris cemara meriap gerimis nyawaku
rawa rawa, paya paya, pelaminan kemarau, nyanyi fana nyanyi baka

Sumber: Suara Pancaran Sastra (Yayasan Arus, 1984)

Analisis Puisi:

Puisi “Ronggeng Sumba” karya Umbu Landu Paranggi merupakan sajak yang kuat dalam nuansa etnik, ritualistik, dan magis. Mengambil latar kultural Sumba, puisi ini menghadirkan tarian ronggeng bukan sekadar sebagai pertunjukan seni, melainkan sebagai ritus yang menyatu dengan alam, leluhur, dan pengalaman batin penyair.

Struktur puisi yang terbagi menjadi empat bagian memperlihatkan perkembangan suasana: dari pemanggilan sakral, ledakan energi kolektif, klimaks tarian, hingga perenungan sunyi yang eksistensial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ritual, kesunyian batin, dan pertemuan antara eros (cinta/hasrat) dan kematian dalam bingkai budaya Sumba. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema identitas kultural dan spiritualitas tradisional yang berpadu dengan pengalaman personal penyair. Tarian ronggeng menjadi simbol perayaan sekaligus pergulatan batin.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa di balik keramaian ritual dan gemuruh tarian, terdapat kesepian eksistensial. Ronggeng menjadi medium untuk membakar duka, mengolah cinta, dan merayakan sekaligus meratapi kehidupan.

Ungkapan:

“mari…hanya kesepianku
panggang di bara cemar”

menunjukkan bahwa tarian dan musik adalah cara penyair menghadapi luka batin. Ritual kolektif menjadi katarsis personal.

Repetisi “rawa rawa, paya paya” menyiratkan kondisi batin yang gamang—antara fana dan baka, antara cinta dan kehilangan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini berubah-ubah:
  • Sakral dan magis pada bagian awal (pemanggilan dewa, mantra, darah lelaki).
  • Riuh dan penuh energi pada bagian tengah (gong, sorak-sorai, tarian).
  • Melankolis dan reflektif pada bagian akhir (rawa, senja, kemarau, nyanyi fana).
Perubahan suasana ini mencerminkan perjalanan emosi dari ekstase menuju kontemplasi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini dapat ditafsirkan sebagai ajakan untuk memahami bahwa seni tradisi bukan sekadar bentuk hiburan, melainkan ruang penyucian dan pengolahan batin. Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari kesunyian dan kefanaan, namun melalui seni dan ritual, duka dapat ditransformasikan menjadi makna.

Puisi “Ronggeng Sumba” adalah puisi yang menghadirkan perpaduan antara ritus adat, energi tarian, dan kesunyian batin. Umbu Landu Paranggi memanfaatkan kekayaan simbol budaya Sumba untuk mengungkap pergulatan cinta, duka, dan kefanaan.

Melalui bunyi gong, giring-giring, dan repetisi mantra, puisi ini menegaskan bahwa dalam riuhnya kehidupan, manusia tetap membawa kesepian yang harus diolah—dipanggang di bara pengalaman—hingga menjadi nyanyi fana dan nyanyi baka.

Umbu Landu Paranggi dan Emha Ainun Nadjib
Puisi: Ronggeng Sumba
Karya: Umbu Landu Paranggi

Biodata Umbu Landu Paranggi:
  • Umbu Landu Paranggi lahir pada tanggal 10 Agustus 1943 di Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur.
  • Umbu Landu Paranggi meninggal dunia pada tanggal 6 April 2021, pukul 03.55 WITA, di RS Bali Mandara.
© Sepenuhnya. All rights reserved.