Puisi: Rumah untuk Bapak (Karya Oka Rusmini)

Puisi “Rumah untuk Bapak” karya Oka Rusmini membangun narasi tentang kebanggaan, trauma, kehilangan, hingga kekecewaan terhadap sistem yang ...
Rumah untuk Bapak
- Kenangan di Cijantung

kau masih ingat baret merah yang menggulung kepala
dengan kostum pertunjukan hijau loreng
kau sering berkata padaku:
inilah warna kebesaran resimen
kesejatian dan kejantanan
terbentuk di baju, ransel
dan kopel ini

aku mengangguk penuh harga
sambil menggayungkan pisau kecil
yang kaulipat di pinggang
kaunamakan pisau komando
cantik dan kejam menurutku
pisau yang teramat runcing dan aneh bentuknya
aku menggigil setiap menyentuh kulit tubuhnya
pada setiap guratan tubuhnya tercium bau darah dan nyawa
kau mengusap kepalaku
membelai kuncir
yang menggulung rambutku ke atas
dengan pita merah-putih

pada usia lima tahun
aku bangga jadi anakmu
kata orang
kita manusia yang ditakuti
kata orang
kita penjual roh untuk kebesaran seorang maharaja

aku makin besar
dengan beratus dongeng kebesaran dan kekuasaan
peristiwa terus datang tanpa mengetuk pintu
satu-satu temanmu mati
masa itu jadi api yang membakar wujudku
istri-istri meraung, anak-anak kehilangan bapaknya
mereka ditelan peluru Timtim, Aceh, Kalimantan, DC 9 Woyla
kataku:
bapak, hari ini kita kehilangan om baharudin,
om rahman dan yang lain
kita juga kehilangan om ahmad kirang
kau hanya diam
dan kembali membelaiku
sekarang giliranmu untuk berangkat ke medan perang
berlaga dengan kopel, pisau komando
dan ransel yang kaubanggakan

sinar matahari menjadi biru
tembus di ubun-ubunmu
aku tak lagi melihat kebanggaan
aku justru mencium urat kematian
komunitasku dingin tanpa lelaki

lalu kita pindah dan barak kumuh di atas Ciliwung
dengan segulung rasa takut
barak murah kita rubuh, bapak
dibenamkan mayat-mayat kering
yang harus kita tinggalkan
masuk barak baru untuk mencuci otak kita
tak ada bau busuk Ciliwung
juga suara anak-anak kampung

aku yakin kau pasti pulang dari berlaga
hijaulah ketandusan
terbayarlah tumbal kaliku
tujuh temanku mati!

kau masih ingat kejantananmu?

kau tidak lagi mau menjawabnya
juga tak kauceritakan perjalanan panjangmu
sampai tak lagi kukenali wajahmu
orang-orang di depanmu naik pangkat
kau tetap diam

bapak, di luar hujan, rumah kita bocor
bapak, rumah kita ambruk
bapak, aku dingin dan lapar
bapak, mintalah pada mereka rumah yang layak
bapak, katakan kau telah jual nyawamu untuknya

aku akan perbaiki rumahku
tulangku jadi tiang
darahku jadi cat
kulitku jadi atap
kita masih bisa hidup
kau bisa makan dagingku

bapak mengusap rambutku yang mulai ditumbuhi toga
menggeser pita merah-putih kanak-kanakku.

1990

Sumber: Warna Kita (2007)

Analisis Puisi:

Puisi ini merupakan refleksi personal sekaligus sosial tentang relasi anak dan ayah dalam konteks militerisme dan kekuasaan. Melalui suara liris seorang anak perempuan, Oka Rusmini membangun narasi tentang kebanggaan, trauma, kehilangan, hingga kekecewaan terhadap sistem yang menjanjikan kehormatan namun meninggalkan luka.

Tema

Tema puisi ini adalah militerisme, relasi ayah-anak, pengorbanan, serta runtuhnya kebanggaan di tengah kekuasaan dan kekerasan.

Puisi ini bercerita tentang kenangan seorang anak terhadap ayahnya yang seorang tentara—dengan simbol baret merah, pisau komando, dan ransel—yang semula dibanggakan, namun perlahan berubah menjadi sumber trauma dan kesadaran pahit tentang kematian, perang, dan ketidakadilan.

Seiring waktu, kebanggaan masa kecil bergeser menjadi kegelisahan ketika teman-teman sang ayah gugur di berbagai konflik (Timtim, Aceh, Kalimantan, pembajakan DC-9 Woyla). Rumah mereka pun menjadi simbol keterpurukan: bocor, ambruk, dan penuh ketidakpastian.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap ideologi militeristik yang menjanjikan kehormatan dan kejantanan, tetapi meninggalkan keluarga dalam ketakutan dan kemiskinan. “Rumah” menjadi simbol kesejahteraan dan perlindungan yang justru tidak terpenuhi, meskipun sang ayah telah “menjual nyawanya” untuk negara.

Puisi ini juga menyiratkan pertanyaan mendalam tentang maskulinitas (“kau masih ingat kejantananmu?”) yang dipertentangkan dengan kenyataan pahit: kematian, trauma, dan ketidakberdayaan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi bergerak dari bangga dan heroik pada awalnya, kemudian berubah menjadi muram, getir, dan penuh luka batin. Pada bagian akhir, suasana menjadi tragis sekaligus ironis ketika anak bersedia “membangun rumah” dari tubuhnya sendiri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya mempertanyakan makna pengorbanan dan kekuasaan yang tidak berpihak pada kemanusiaan. Puisi ini juga menyuarakan bahwa kebesaran simbolik tidak berarti jika kebutuhan dasar—rumah, kehangatan, keamanan—tidak terpenuhi.

Puisi “Rumah untuk Bapak” karya Oka Rusmini adalah potret getir tentang dampak militerisme terhadap kehidupan keluarga. Melalui perspektif anak, puisi ini menggugat makna kebesaran, kejantanan, dan pengorbanan yang dibangun oleh kekuasaan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru menjadi simbol kerapuhan—menegaskan bahwa kemuliaan simbolik tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan nyata.

Oka Rusmini
Puisi: Rumah untuk Bapak
Karya: Oka Rusmini

Biodata Oka Rusmini:
  • Oka Rusmini lahir di Jakarta pada tanggal 11 Juli 1967.
© Sepenuhnya. All rights reserved.