Puisi: Sang Waktu Pun Terbangun (Karya Korrie Layun Rampan)

Puisi “Sang Waktu Pun Terbangun” karya Korrie Layun Rampan menghadirkan gambaran dahsyat tentang tragedi, penderitaan kolektif, dan kesadaran sejarah.

Sang Waktu Pun Terbangun

Sang waktu pun terbangun dengan 100 matahari
Dan kucuran darah dari nganga liang-liang luka
Ketika ludah-ludah dunia yang amis
Jatuh rimis pada wajah-wajah kita yang terbakar

Sang waktu pun terbangun dalam angin runcing
Dalam suara gaib lorong-lorong hampa dan bahana cahaya
Ketika kapal-kapal kita pun merapat di dermaga luka
Dari suatu petang entah di mana

Sang waktu pun terbangun dengan 1000 bianglala
Dan nanah-nanah darah Semesta
Karena 29 anak panah
Merobek rahim jantung lukanya

Sang waktu pun terbangun dalam erangan ombak-ombak dunia
Dalam bayang bulan hitam ketika mega jatuh senja
Sang waktu pun terbangun dalam rabu dan nyali kita
Ketika bahana terakhir menikam dinding-dinding sukma semesta
Ketika di meja sebuah kitab terbuka siap dengan daftar nama-nama

1973

Sumber: Suara Kesunyian (1981)

Analisis Puisi:

Puisi “Sang Waktu Pun Terbangun” karya Korrie Layun Rampan menghadirkan gambaran dahsyat tentang tragedi, penderitaan kolektif, dan kesadaran sejarah. Dengan bahasa simbolik yang kuat dan citraan yang intens, penyair menempatkan “waktu” sebagai saksi sekaligus entitas yang bangkit di tengah peristiwa berdarah.

Tema

Tema puisi ini adalah tragedi kemanusiaan dan kesadaran sejarah atas peristiwa kekerasan yang mengguncang peradaban. Waktu digambarkan tidak lagi netral atau pasif, melainkan “terbangun” ketika darah tertumpah dan luka sejarah menganga. Puisi ini menyoroti relasi antara manusia, kekerasan, dan catatan takdir yang seolah tak terhindarkan.

Puisi ini bercerita tentang sebuah peristiwa besar yang sarat kekerasan—ditandai oleh metafora “100 matahari”, “liang-liang luka”, “nanah-nanah darah Semesta”, dan “29 anak panah”. Angka-angka tersebut bukan sekadar numerik, melainkan simbol intensitas dan jumlah korban atau kejadian yang luar biasa.

Kapal yang merapat di “dermaga luka” menggambarkan perjalanan menuju penderitaan. Sementara itu, bait terakhir menghadirkan gambaran eskatologis: “sebuah kitab terbuka siap dengan daftar nama-nama”, yang mengesankan pengadilan, pencatatan takdir, atau penghakiman sejarah.

Makna Tersirat

Puisi ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap kekerasan global maupun tragedi kemanusiaan tertentu yang mengguncang nurani. “Sang waktu pun terbangun” mengandung makna bahwa peristiwa besar tidak pernah benar-benar hilang; ia tercatat dalam sejarah dan kesadaran kolektif.

Frasa “ludah-ludah dunia yang amis” menyiratkan kemunafikan atau kebusukan moral dunia internasional. Sementara “29 anak panah merobek rahim jantung lukanya” dapat dimaknai sebagai simbol serangan atau tindakan destruktif yang melukai pusat kehidupan.

Puisi ini juga mengandung nuansa apokaliptik—seolah waktu sendiri bangkit sebagai saksi dan hakim atas dosa-dosa manusia.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini mencekam, tragis, dan penuh ketegangan. Imaji darah, nanah, luka, dan bahana menciptakan atmosfer kelam. Ada nuansa marah sekaligus getir, terutama dalam penggambaran “wajah-wajah kita yang terbakar” dan “dinding-dinding sukma semesta”.

Pada bagian akhir, suasana berubah menjadi lebih sunyi namun mengerikan—ketika “kitab terbuka siap dengan daftar nama-nama”. Ini menghadirkan kesan penghakiman yang tak terelakkan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa setiap kekerasan dan ketidakadilan akan tercatat dalam sejarah dan kesadaran waktu. Tidak ada tragedi yang benar-benar tersembunyi.

Puisi ini mengingatkan manusia untuk:
  • Menyadari dampak kehancuran yang ditimbulkan oleh kekerasan.
  • Tidak bersikap apatis terhadap penderitaan kolektif.
  • Menginsafi bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi moral dan historis.
Waktu dalam puisi ini menjadi simbol pengingat bahwa sejarah tidak pernah tidur.

Puisi “Sang Waktu Pun Terbangun” merupakan puisi yang menggambarkan tragedi kemanusiaan dalam skala kosmik. Waktu tidak lagi menjadi latar pasif, melainkan saksi yang bangkit ketika darah tertumpah dan nurani terluka.

Dengan imaji yang tajam, simbolisme kuat, serta suasana mencekam, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan hubungan antara kekerasan, sejarah, dan tanggung jawab moral manusia. Pada akhirnya, waktu akan selalu “terbangun”—dan mencatat segalanya.

Korrie Layun Rampan
Puisi: Sang Waktu Pun Terbangun
Karya: Korrie Layun Rampan

Biodata Korrie Layun Rampan:
  • Korrie Layun Rampan adalah seorang penulis (penyair, cerpenis, novelis, penerjemah), editor, dan kritikus sastra Indonesia berdarah Dayak Benuaq.
  • Korrie Layun Rampan lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur.
  • Korrie Layun Rampan meninggal dunia pada tanggal 19 November 2015 di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.