Sang Waktu Pun Terbangun
1973
Sumber: Suara Kesunyian (1981)
Analisis Puisi:
Puisi “Sang Waktu Pun Terbangun” karya Korrie Layun Rampan menghadirkan gambaran dahsyat tentang tragedi, penderitaan kolektif, dan kesadaran sejarah. Dengan bahasa simbolik yang kuat dan citraan yang intens, penyair menempatkan “waktu” sebagai saksi sekaligus entitas yang bangkit di tengah peristiwa berdarah.
Tema
Tema puisi ini adalah tragedi kemanusiaan dan kesadaran sejarah atas peristiwa kekerasan yang mengguncang peradaban. Waktu digambarkan tidak lagi netral atau pasif, melainkan “terbangun” ketika darah tertumpah dan luka sejarah menganga. Puisi ini menyoroti relasi antara manusia, kekerasan, dan catatan takdir yang seolah tak terhindarkan.
Puisi ini bercerita tentang sebuah peristiwa besar yang sarat kekerasan—ditandai oleh metafora “100 matahari”, “liang-liang luka”, “nanah-nanah darah Semesta”, dan “29 anak panah”. Angka-angka tersebut bukan sekadar numerik, melainkan simbol intensitas dan jumlah korban atau kejadian yang luar biasa.
Kapal yang merapat di “dermaga luka” menggambarkan perjalanan menuju penderitaan. Sementara itu, bait terakhir menghadirkan gambaran eskatologis: “sebuah kitab terbuka siap dengan daftar nama-nama”, yang mengesankan pengadilan, pencatatan takdir, atau penghakiman sejarah.
Makna Tersirat
Puisi ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap kekerasan global maupun tragedi kemanusiaan tertentu yang mengguncang nurani. “Sang waktu pun terbangun” mengandung makna bahwa peristiwa besar tidak pernah benar-benar hilang; ia tercatat dalam sejarah dan kesadaran kolektif.
Frasa “ludah-ludah dunia yang amis” menyiratkan kemunafikan atau kebusukan moral dunia internasional. Sementara “29 anak panah merobek rahim jantung lukanya” dapat dimaknai sebagai simbol serangan atau tindakan destruktif yang melukai pusat kehidupan.
Puisi ini juga mengandung nuansa apokaliptik—seolah waktu sendiri bangkit sebagai saksi dan hakim atas dosa-dosa manusia.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini mencekam, tragis, dan penuh ketegangan. Imaji darah, nanah, luka, dan bahana menciptakan atmosfer kelam. Ada nuansa marah sekaligus getir, terutama dalam penggambaran “wajah-wajah kita yang terbakar” dan “dinding-dinding sukma semesta”.
Pada bagian akhir, suasana berubah menjadi lebih sunyi namun mengerikan—ketika “kitab terbuka siap dengan daftar nama-nama”. Ini menghadirkan kesan penghakiman yang tak terelakkan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa setiap kekerasan dan ketidakadilan akan tercatat dalam sejarah dan kesadaran waktu. Tidak ada tragedi yang benar-benar tersembunyi.
Puisi ini mengingatkan manusia untuk:
- Menyadari dampak kehancuran yang ditimbulkan oleh kekerasan.
- Tidak bersikap apatis terhadap penderitaan kolektif.
- Menginsafi bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi moral dan historis.
Waktu dalam puisi ini menjadi simbol pengingat bahwa sejarah tidak pernah tidur.
Puisi “Sang Waktu Pun Terbangun” merupakan puisi yang menggambarkan tragedi kemanusiaan dalam skala kosmik. Waktu tidak lagi menjadi latar pasif, melainkan saksi yang bangkit ketika darah tertumpah dan nurani terluka.
Dengan imaji yang tajam, simbolisme kuat, serta suasana mencekam, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan hubungan antara kekerasan, sejarah, dan tanggung jawab moral manusia. Pada akhirnya, waktu akan selalu “terbangun”—dan mencatat segalanya.
Karya: Korrie Layun Rampan
Biodata Korrie Layun Rampan:
- Korrie Layun Rampan adalah seorang penulis (penyair, cerpenis, novelis, penerjemah), editor, dan kritikus sastra Indonesia berdarah Dayak Benuaq.
- Korrie Layun Rampan lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur.
- Korrie Layun Rampan meninggal dunia pada tanggal 19 November 2015 di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat.
