Sejarah
Siang dan malam yang telah diserahkan
sekali waktu akan kembali dirampasnya
Akhirnya kita awan-gemawan yang mengembarai alam
sepertinya. Tanpa tahu akhir perjalanan
sendiri. (Terasa ada suatu ancaman
yang membuat kita diam
menjalani tanpa sedikit gairah pun)
Apa arti warna dalam penglihatan
sia-sia dicari kelainannya. Perhentian
kita ditentukan tanpa memberi tahu lebih dulu
pada kita
Barang-barang pinjaman sekali waktu akan diminta
Akan kuserahkan ini semua, Kemana?
Dendamku memadat berjuta abad
pada adegan perpisahan
yang tak dapat dielakkan
Dunia mengutuknya pelan-pelan
Sumber: Horison (Desember, 1966)
Analisis Puisi:
Puisi "Sejarah" karya Arifin C. Noer adalah karya sastra yang mengeksplorasi tema sejarah, perjalanan waktu, dan ketidakpastian masa depan. Puisi ini menggambarkan perasaan ketidakpastian dan keterbatasan manusia dalam menghadapi arus sejarah dan waktu.
Waktu dan Ketidakpastian: Puisi ini mencerminkan pemahaman tentang sifat alamiah waktu, yang tidak dapat dihindari atau dihentikan. Penggunaan frasa "Siang dan malam yang telah diserahkan" dan "sekali waktu akan kembali dirampasnya" menunjukkan bahwa waktu adalah sesuatu yang selalu bergerak maju dan tidak dapat dihentikan.
Perjalanan Alam dan Manusia: Penyair menggunakan metafora "kita awan-gemawan yang mengembarai alam" untuk menggambarkan perjalanan manusia dalam menghadapi dunia dan sejarah. Kita seperti awan yang bergerak tanpa tujuan pasti, dan akhir dari perjalanan kita tidak dapat diprediksi.
Ancaman Ketidakberdayaan: Penyair merujuk pada adanya ancaman yang membuat kita diam dan tidak memiliki gairah dalam menjalani hidup. Ini mencerminkan perasaan ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi tantangan dan perubahan dalam sejarah.
Pencarian Makna dalam Kehidupan: Puisi ini menggambarkan upaya manusia untuk mencari makna dalam pengalaman dan peristiwa kehidupan. Penyair menanyakan "Apa arti warna dalam penglihatan / sia-sia dicari kelainannya," mencerminkan pencarian manusia untuk memahami dan memberi makna pada dunia di sekitarnya.
Ketidakpastian Masa Depan: Puisi ini menyuarakan perasaan ketidakpastian mengenai masa depan. "Perhentian / kita ditentukan tanpa memberi tahu lebih dulu / pada kita" menunjukkan bahwa manusia tidak selalu memiliki kontrol atas arah dan akhir dari perjalanan hidup.
Pemberian dan Pengambilan: Puisi ini menggambarkan siklus pemberian dan pengambilan dalam kehidupan. "Barang-barang pinjaman sekali waktu akan diminta / Akan kuserahkan ini semua, Kemana?" mencerminkan pemahaman tentang sifat sementara dan peralihan dalam hidup manusia.
Dendam dan Perpisahan: Puisi ini juga menggambarkan perasaan dendam dan perpisahan. "Dendamku memadat berjuta abad / pada adegan perpisahan / yang tak dapat dielakkan" mencerminkan perasaan kehilangan dan rasa sakit yang terkait dengan perpisahan.
Konklusi Pesimistis: Puisi ini berakhir dengan sebuah konklusi yang dapat diartikan sebagai pandangan pesimistis terhadap keterbatasan dan ketidakpastian manusia dalam menghadapi arus sejarah dan perjalanan waktu. "Dunia mengutuknya pelan-pelan" menciptakan atmosfer pesimistis mengenai masa depan dan peran manusia dalam sejarah.
Puisi "Sejarah" karya Arifin C. Noer adalah karya sastra yang menggambarkan kompleksitas perasaan manusia dalam menghadapi waktu, sejarah, dan masa depan. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan tentang ketidakpastian, pencarian makna, dan perasaan keterbatasan manusia dalam menghadapi tantangan hidup.
Karya: Arifin C. Noer
Biodata Arifin C. Noer:
- Arifin C. Noer (nama lengkapnya adalah Arifin Chairin Noer) lahir pada tanggal 10 Maret 1941 di kota Cirebon, Jawa Barat.
- Arifin C. Noer meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1995 di Jakarta.
- Arifin C. Noer adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.