Puisi: Selebihnya Sunyi (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Selebihnya Sunyi” karya Gunoto Saparie menyiratkan bahwa tidak semua makna hadir melalui kata-kata. Ada bahasa diam yang justru lebih dalam ...
Selebihnya Sunyi

selebihnya adalah sunyi
setelah gemuruh lautan di batin reda
selebihnya malam hening cuma
tak ada kata-kata, angin pun henti

ketika waktu pun lindap
detik-detik jam menikam kelam
isyarat apakah itu, kepak kelelawar hitam
menafsirkan bahasamu yang senyap

2021

Analisis Puisi:

Puisi “Selebihnya Sunyi” karya Gunoto Saparie menampilkan refleksi batin yang intens melalui bahasa yang minimalis dan sugestif. Dengan struktur yang ringkas, penyair menghadirkan pengalaman kesunyian sebagai ruang kontemplasi setelah gejolak emosi mereda. Puisi ini bergerak dari gemuruh menuju hening, dari dinamika menuju keheningan yang total.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesunyian dan perenungan batin. Puisi ini menyoroti momen setelah ledakan emosi atau pergolakan jiwa, ketika segala sesuatu mereda dan hanya tersisa sunyi.
Tema lain yang menyertainya adalah waktu, kefanaan, dan upaya memahami makna dalam diam.

Puisi ini bercerita tentang suasana batin setelah “gemuruh lautan di batin reda”. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa sebelumnya terdapat gejolak besar—emosi, konflik, atau pergumulan batin—yang kini telah surut.

“selebihnya adalah sunyi
setelah gemuruh lautan di batin reda”

Setelah gejolak itu, yang tersisa hanyalah malam yang hening:

“tak ada kata-kata, angin pun henti”

Keheningan ini diperkuat dengan hadirnya waktu yang terasa tajam dan mencekam:

“detik-detik jam menikam kelam”

Bagian akhir menghadirkan citraan simbolik:

“kepak kelelawar hitam
menafsirkan bahasamu yang senyap”

Ada upaya memahami sesuatu yang tak terucap—“bahasa yang senyap”—melalui tanda-tanda samar.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan dengan kesadaran eksistensial. Setelah kegaduhan hidup, manusia sering dihadapkan pada kesunyian yang justru membuka ruang refleksi mendalam.

“Gemuruh lautan di batin” melambangkan konflik atau emosi yang dahsyat. Ketika itu reda, muncul kehampaan yang mungkin terasa asing atau menakutkan. “Detik-detik jam menikam kelam” menyiratkan kesadaran akan waktu yang terus berjalan dan kefanaan manusia.

Kelelawar hitam dapat dimaknai sebagai simbol pertanda, ketakutan, atau intuisi yang mencoba menafsirkan makna di balik diam.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini hening, muram, dan kontemplatif. Ada kesan sunyi yang pekat, hampir mencekam. Tidak ada dialog atau pergerakan yang riuh; semuanya melambat dan membeku dalam kesadaran akan waktu dan kegelapan.

Nuansa reflektif terasa dominan, dengan sedikit sentuhan misterius pada citraan kelelawar hitam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai ajakan untuk berani menghadapi kesunyian. Dalam sunyi, manusia dapat menemukan pemahaman baru tentang dirinya sendiri. Puisi ini juga menyiratkan bahwa tidak semua makna hadir melalui kata-kata. Ada bahasa diam yang justru lebih dalam dan perlu ditafsirkan dengan kepekaan batin.

Puisi “Selebihnya Sunyi” karya Gunoto Saparie merupakan refleksi puitik tentang keheningan setelah gejolak batin. Puisi ini menegaskan bahwa dalam sunyi tersimpan kemungkinan pemahaman yang lebih dalam. Kesunyian bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan ruang untuk menafsirkan bahasa batin yang paling jujur.

Gunoto Saparie
Puisi: Selebihnya Sunyi
Karya: Gunoto Saparie

BIODATA GUNOTO SAPARIE

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Selain di bidang pers, ia pernah bekerja di bidang pendidikan, yaitu guru di SMP Yasbumi Cepiring, SMP PGRI Patebon, SMP Muhammadiyah Kendal, dan SMA Al-Farabi Pegandon. Ia pernah pula bekerja di CV Sido Luhur Kendal dan PT Aryacipta Adibrata Semarang.

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.

Gunoto Saparie juga sering diundang sebagai pembicara dalam kongres, simposium, dan seminar kesastraan. Ia pun sering membaca puisi di berbagai tempat dan juri lomba literasi yang diadakan lembaga pemerintah maupun swasta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.