Senja di Bukit Tajur
— untuk Dwiasih
Ini kali lengang yang diantarkan senja
burung gereja balik ke sarangnya.
Dan senja yang hinggap di cabang pohonan. Awan yang terlambat
memasang arah angin dan bulan terbit
Bertolak atap gudang itu, lelangitan
rombongan kunang menerobos remang-remang
Penyabit tak berkilat parangnya
kerja dan menanti
Ini menanti mengasah gegaman
Pejalan petang yang tak mau surut
merampas alang-alang di hutan larangan
hutan buatan, hutan jati, hutan rajapala
mereguk akar dan batang yang getir
Berharap tandas telagamu
kerja dan menanti
Ini menanti penyabit tak berumput.
1972
Sumber: Horison (Desember, 1973)
Analisis Puisi:
Puisi “Senja di Bukit Tajur” karya Slamet Kuntohaditomo menghadirkan lanskap alam yang berpadu dengan refleksi sosial dan batin manusia. Dengan latar senja—waktu transisi antara terang dan gelap—penyair membangun suasana kontemplatif yang menyiratkan penantian, kerja, dan keteguhan dalam menghadapi realitas hidup.
Dedikasi “untuk Dwiasih” memberi kesan personal, namun isi puisi bergerak lebih luas, menyentuh dimensi eksistensial dan sosial.
Tema
Tema utama puisi ini adalah penantian dan kerja dalam situasi yang lengang dan penuh ketidakpastian. Senja menjadi simbol waktu peralihan—antara harapan dan kenyataan, antara kerja keras dan hasil yang belum tentu datang.
Puisi ini bercerita tentang suasana senja di Bukit Tajur, ketika burung kembali ke sarang, awan bergerak, kunang-kunang muncul, dan seorang penyabit (pekerja ladang) tetap bekerja atau menanti. Di balik gambaran alam tersebut, tersimpan kisah tentang manusia yang terus bertahan dalam siklus kerja dan harapan.
Makna Tersirat
Larik pembuka:
“Ini kali lengang yang diantarkan senjaburung gereja balik ke sarangnya.”
mengandung Makna Tersirat tentang kepulangan dan kesunyian. Ketika burung kembali ke sarang, manusia justru berada dalam fase “menanti”. Ada kontras antara alam yang selesai dengan ritmenya dan manusia yang belum selesai dengan pergulatannya.
Baris:
“Penyabit tak berkilat parangnyakerja dan menanti”
menunjukkan kerja yang sunyi, tanpa gemerlap atau pengakuan. Parang yang “tak berkilat” dapat dimaknai sebagai simbol kerja keras yang tidak mendapatkan sorotan.
Larik:
“Ini menanti penyabit tak berumput.”
menyiratkan ironi. Penyabit—yang pekerjaannya menyabit rumput—justru berada dalam kondisi tanpa rumput. Ini dapat ditafsirkan sebagai simbol kehilangan mata pencaharian, atau kerja yang kehilangan objek dan maknanya.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung lengang, hening, dan kontemplatif. Senja menghadirkan nuansa redup dan tenang, tetapi juga menyimpan kegelisahan yang samar. Ada kesan letih namun tetap teguh—sebuah ketahanan yang tidak meledak, melainkan diam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya ketekunan dan ketahanan dalam menghadapi masa-masa lengang. Kehidupan tidak selalu gemerlap; sering kali manusia harus bekerja dan menanti tanpa kepastian hasil. Puisi ini juga mengingatkan bahwa dalam keheningan dan kesunyian, manusia tetap harus memelihara harapan dan kesiapsiagaan—“mengasah gegaman”—agar tidak menyerah pada keadaan.
Puisi “Senja di Bukit Tajur” merupakan puisi reflektif yang memadukan keindahan alam dengan realitas sosial. Melalui simbol senja, penyabit, dan hutan, Slamet Kuntohaditomo menggambarkan siklus kerja dan penantian sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Lengang bukan akhir, melainkan ruang kontemplasi. Dalam kerja yang sunyi dan penantian yang panjang, tersimpan keteguhan yang diam-diam membentuk daya tahan manusia.