Puisi: Sepasang Turis (Karya Frans Nadjira)

Puisi “Sepasang Turis” karya Frans Nadjira menunjukkan bahwa manusia membawa luka ke mana pun ia pergi—dan tanpa rekonsiliasi batin, keindahan ....
Sepasang Turis

Kepada isterinya ia berkata:
Di atas kursi dorong
telah kubagikan hidupku
sepotong-sepotong.

        (sebelum bersin
        tercium bau lumut
        mirip bau mesiu
        sewaktu naik pasang)

Kita tak menemukan yang beda, ternyata
Bunga-bunga seperti ini juga ada di Vietnam.
(ketika bersin, jahitan di lambung terasa nyeri)
Apa? Permainan nyawa?
Dewa-dewa di pulau ini tidak membenci sabung ayam.

Lututku. Mereka gemetar lagi.
Diamkan. Kita berhenti rindu mencari.

        (suara-suara anjing berebut
        isi perut seekor penyu
        merangkak dari gelap laut)

Teruslah mendongeng tentang dewata, Kau.
Negeri yang jauh. Hijau
tak ada ketakutan. Kelainan jiwa
dan bulan yang tak beringat karena
kutembakkan meriam ke arahnya.
Berahi yang percuma. Tak percaya.
Bulan di sini menciut
setiap naga melenggang ke arahnya.

Menjauh lampu-lampu kapal terbang
Terdengar suara mencebur
Roda kursi yang kosong
Terbenam dalam pasir.

Sumber: Horison (Oktober, 1978)

Analisis Puisi:

Puisi “Sepasang Turis” karya Frans Nadjira menghadirkan potret yang tidak lazim tentang perjalanan wisata. Alih-alih menggambarkan keindahan dan kegembiraan, puisi ini justru menyuguhkan pengalaman yang getir, penuh luka, dan refleksi traumatis. Dengan gaya fragmentaris dan simbolik, penyair membangun kontras antara citra “turis” dan kenyataan batin yang mereka bawa.

Tema

Tema utama puisi ini adalah trauma, penderitaan, dan ironi dalam pengalaman manusia. Puisi ini juga mengangkat tema tentang perjalanan yang tidak membawa pelarian dari luka masa lalu.

Puisi ini bercerita tentang sepasang turis—kemungkinan suami dan istri—yang sedang berada di suatu tempat (mungkin kawasan tropis atau pulau wisata). Namun, perjalanan mereka tidak dipenuhi kebahagiaan, melainkan percakapan yang mengandung rasa sakit fisik dan batin.

Sosok laki-laki tampak mengalami luka atau cacat (ditunjukkan dengan kursi dorong dan jahitan di lambung), yang mengisyaratkan pengalaman masa lalu, mungkin terkait perang. Referensi ke Vietnam dan bau mesiu memperkuat kemungkinan trauma tersebut.

Di tengah perjalanan, mereka menyaksikan berbagai adegan yang keras dan simbolik—anjing berebut bangkai, penyu dari laut, hingga gambaran mitologis seperti dewa dan naga. Semua ini memperlihatkan dunia yang tidak harmonis, bahkan cenderung brutal.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini mengarah pada ketidakmampuan manusia untuk melarikan diri dari trauma dan kekerasan masa lalu.

Wisata atau perjalanan yang seharusnya menjadi sarana pelarian justru tidak mampu menghapus luka batin.

Simbol-simbol seperti “kursi dorong”, “bau mesiu”, dan “meriam” menunjukkan bahwa kekerasan (terutama perang) meninggalkan jejak yang terus hidup dalam ingatan.

Selain itu, kehadiran unsur mitologi (dewa, naga) bisa dimaknai sebagai upaya manusia untuk mencari makna atau pelarian, namun tetap tidak mampu mengatasi kenyataan pahit.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa suram, tegang, dan mencekam. Ada nuansa ketidaknyamanan yang terus hadir, diperkuat oleh fragmen-fragmen visual yang keras dan tidak harmonis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan bahwa:
  • Luka masa lalu, terutama akibat kekerasan, tidak mudah dihapus meskipun seseorang berpindah tempat.
  • Realitas kehidupan sering kali jauh dari gambaran indah yang diharapkan.
  • Manusia perlu menghadapi traumanya, bukan sekadar mencoba melarikan diri darinya.

Imaji

Puisi ini sangat kaya imaji yang kuat dan kontras:
  • Imaji visual: “kursi dorong”, “anjing berebut isi perut penyu”, “roda kursi terbenam pasir”
  • Imaji auditif: “suara anjing”, “suara mencebur”
  • Imaji olfaktori (penciuman): “bau lumut mirip bau mesiu”
  • Imaji kinestetik: “lutut gemetar”, “penyu merangkak”
Imaji-imaji ini menciptakan pengalaman yang intens dan terkadang mengganggu.

Majas

Beberapa majas yang dominan dalam puisi ini:
  • Metafora: “membagikan hidup sepotong-sepotong”.
  • Simbolisme: kursi dorong sebagai lambang keterbatasan dan trauma, meriam sebagai simbol kekerasan.
  • Paradoks: wisata yang justru penuh penderitaan.
  • Hiperbola: “menembakkan meriam ke bulan” sebagai ekspresi emosi ekstrem.
Puisi “Sepasang Turis” adalah puisi yang membongkar ilusi perjalanan sebagai pelarian. Melalui gambaran yang tajam dan simbolik, puisi ini menunjukkan bahwa manusia membawa luka ke mana pun ia pergi—dan tanpa rekonsiliasi batin, keindahan dunia luar tidak akan mampu menghapus penderitaan yang ada di dalam dirinya.

Frans Nadjira
Puisi: Sepasang Turis
Karya: Frans Nadjira

Biodata Frans Nadjira:
  1. Frans Nadjira lahir pada tanggal 3 September 1942 di Makassar, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.