Puisi: Seribu Kunang-Kunang (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Seribu Kunang-Kunang” karya Gunoto Saparie menyiratkan bahwa di balik kesunyian, tersimpan cahaya-cahaya kecil yang menjaga ingatan dan ...
Seribu Kunang-Kunang

di bentangan persawahan sepi 
udara pun mendingin di malam hari
ada seribu kunang-kunang
ada seribu kerdip nyala bintang

lalu ada sejuta kisah di pematang
mencari katak dengan obor penerang
sampai kentongan subuh berbunyi
menggoreskan awal fajar sunyi

di bentangan persawahan sepi
aku pun berhenti sejenak, mencarimu
di antara rerumputan dan jerami
ketika kenangan serta rindu mengharu biru

2019

Analisis Puisi:

Puisi “Seribu Kunang-Kunang” karya Gunoto Saparie menghadirkan lanskap pedesaan pada malam hari dengan nuansa kontemplatif. Melalui gambaran persawahan, kunang-kunang, dan aktivitas sederhana di pematang, penyair membangun suasana hening yang sarat makna. Puisi ini bergerak dari deskripsi alam menuju refleksi personal tentang kenangan dan kerinduan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan pencarian dalam balutan kenangan masa lalu.

Puisi ini bercerita tentang suasana malam di bentangan persawahan yang sepi, dihiasi seribu kunang-kunang dan kerdip bintang. Di tengah lanskap tersebut, tersimpan “sejuta kisah” tentang kehidupan desa—mencari katak dengan obor hingga kentongan subuh berbunyi. Pada akhirnya, penyair berhenti sejenak untuk mencari sosok yang dirindukan di antara rerumputan dan jerami.

Tema alam dan kenangan berpadu menjadi ruang refleksi batin.

Makna Tersirat

Beberapa makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Kunang-kunang sebagai simbol harapan. Cahaya kecil di tengah gelap melambangkan kenangan atau cinta yang tetap menyala.
  • Persawahan sepi sebagai ruang kontemplasi. Kesunyian malam menjadi medium untuk merenung dan mengingat.
  • Aktivitas desa sebagai simbol kesederhanaan hidup. “Mencari katak dengan obor penerang” menggambarkan kehidupan yang bersahaja namun penuh cerita.
  • Pencarian sosok yang dirindu. Tindakan “mencarimu” menunjukkan bahwa kenangan dan rindu tidak pernah benar-benar hilang.
Puisi ini menyiratkan bahwa di balik kesunyian, tersimpan cahaya-cahaya kecil yang menjaga ingatan dan perasaan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa tenang, hening, dan melankolis. Udara yang mendingin, persawahan sepi, serta fajar yang datang perlahan membangun atmosfer reflektif. Pada bagian akhir, suasana berubah menjadi haru dan sendu ketika rindu menguat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai:
  • Hargailah kenangan dan kesederhanaan hidup.
  • Dalam kesunyian, kita dapat menemukan kembali makna dan perasaan terdalam.
  • Cahaya kecil harapan tetap ada, meski dalam gelap sekalipun.
Puisi ini mengajak pembaca untuk tidak melupakan akar kenangan yang membentuk diri.

Puisi “Seribu Kunang-Kunang” karya Gunoto Saparie memadukan lanskap alam pedesaan dengan refleksi batin yang lembut. Puisi ini menjadi potret keindahan sederhana yang menyimpan rindu mendalam.

Gunoto Saparie
Puisi: Seribu Kunang-Kunang
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri. Tinggal di Jalan Taman Karonsih 654, Ngaliyan, Semarang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.