Seriuh Laut Memanggil
Dan lautpun kembali memelukku
Membenamkan ingatannya yang pasang
di semenanjung karang
Jiwaku kembali berenang ke pulau-pulau
Menjenguk aromamu di pesisir
Membiarkan sunyi bercakap
Dan semua yang ada di dalam darahmu
yang belum habis kuminum
Kota-kota terpejam dalam arus
tak pernah selesai
Dan kaupun kembali melarungku
begitu asin
Aku yang rindu bakau
Tenggelam
menelan gelombangmu yang ikan
Kini
dengan apa lagi
mesti kujemput pertemuan?
Kotabaru-Batulicin, Juni 2006
Sumber: Nyanyian Pulau-Pulau (2010)
Analisis Puisi:
Puisi "Seriuh Laut Memanggil" karya Rahmatiah menciptakan gambaran yang intens dan mendalam tentang hubungan yang kompleks antara penyair dan lautan.
Laut sebagai Pemeluk dan Pengubur Kenangan: Puisi dibuka dengan gambaran laut yang memeluk penyair dan membenamkan ingatannya yang pasang di semenanjung karang. Ini menciptakan citra kasih sayang dan penguburan kenangan yang mendalam. Laut menjadi metafora untuk tempat penyimpanan ingatan yang kuat dan emosional.
Jiwa yang Berenang ke Pulau-Pulau dan Mengunjungi Aroma di Pesisir: Gaya bahasa yang digunakan menciptakan citra jiwa yang berenang ke pulau-pulau dan mencium aroma yang ditinggalkan di pesisir. Ini memberikan kesan bahwa jiwa penyair terhubung erat dengan alam dan memiliki kemampuan untuk "mengunjungi" kenangan yang terkait dengan pesisir.
Sunyi yang Bercakap dan Darah yang Belum Habis Kuminum: Penggunaan sunyi sebagai entitas yang dapat berbicara menunjukkan bahwa keheningan memiliki makna dan kehadiran sendiri. Darah yang belum habis diminum menciptakan gambaran keabadian dan kekekalan. Darah di sini mungkin melambangkan ikatan darah dan warisan emosional.
Kota-Kota Terpejam dalam Arus yang Tak Pernah Selesai: Citra kota-kota yang terpejam dalam arus yang tak pernah selesai memberikan gambaran tentang kesibukan dan perjalanan kehidupan yang terus berlanjut. Arus ini menciptakan suasana yang tidak pernah stabil dan selalu berubah.
Pertanyaan Terakhir tentang Pertemuan dan Pencarian Identitas: Puisi diakhiri dengan pertanyaan yang reflektif tentang cara penyair akan bertemu dengan laut lagi. Pertanyaan ini menciptakan perasaan pencarian dan keingintahuan akan identitas, tujuan, atau mungkin pertemuan dengan sesuatu yang lebih besar dan makro seperti kehidupan atau takdir.
Puisi "Seriuh Laut Memanggil" menciptakan gambaran yang kaya dan mendalam tentang hubungan manusia dengan laut dan alam. Melalui gaya bahasa yang kaya dan imaji yang kuat, pembaca diundang untuk merenungkan tentang kenangan, hubungan, dan pencarian identitas dalam konteks luas yang mencakup alam semesta dan keabadian.
Karya: Rahmatiah
Biodata Rahmatiah:
- Rahmatiah lahir pada tanggal 3 Juli 1979 di Nusa Tenggara Barat.
