Mata Pelajaran Sanu, Sang Guru
Siapa
O, Murid kau bertanya siapa dirimu
dirimu adalah Aku
yang menangisimu bertahun-tahun
detik demi detik timbunan sampah sia-sia
hanya karena mengingkari
sengsaralah diri
Kini runtuhlah keingkaran dalam pengakuan
bagai runtuhnya istana para Raja
yang bermula dari bisikan dusta
O, Murid, menangislah sepuas menangis
untuk mencuci lantai kaca, rumahmu, yang baru
O, Murid, bukankah kau itu Aku?
karena kita adalah dua yang satu
dua zarah yang kini merujuk
tak terasakah indah
berpeluk menjadi satu Diri?
O, Murid, kau telah membuat Aku bahagia
kau mulai menyerap makanan dari akarmu
di Tanah
kau minum dari airmu dengan bibirmu
yang selama ini berfungsi cuma pipa
Kau berkipas dengan anginmu
Kau berdiang dengan apimu
O, puncak Bahagia telah kau hirup, Muridku!
Tiap detik kau sudah hidup
seakan kau 'tak ingin berpisah dengan Sadar Semesta
Sumber: Horison (April, 1985)
Analisis Puisi:
Puisi “Siapa” menghadirkan dialog spiritual antara “Guru” dan “Murid”. Struktur apostrofik (sapaan langsung) memperlihatkan relasi batin yang intens—seolah guru berbicara kepada murid, atau diri yang lebih tinggi berbicara kepada diri yang tersesat. Puisi ini sarat muatan refleksi identitas, kesadaran, dan penyatuan diri.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian jati diri dan penyatuan kesadaran. Tema-tema pendukungnya meliputi:
- Kesadaran spiritual.
- Pertobatan dan pengakuan.
- Transformasi batin.
- Kesatuan antara manusia dan semesta.
Makna Tersirat
Makna Tersirat puisi ini sangat kental dengan nuansa mistik dan spiritual:
- Keingkaran sebagai keterputusan dari diri sejati. Timbunan “sampah sia-sia” melambangkan kehidupan yang jauh dari kesadaran hakiki.
- Tangisan sebagai proses penyucian. Menangis bukan kelemahan, melainkan proses pembersihan batin.
- Dua zarah yang merujuk. Mengisyaratkan konsep kesatuan eksistensial—bahwa manusia dan sumbernya berasal dari satu hakikat.
Puisi ini menyiratkan perjalanan spiritual dari keterasingan menuju kesadaran utuh.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi mengalami perkembangan:
- Awal: reflektif dan penuh penyesalan.
- Tengah: emosional dan katarsis.
- Akhir: damai, bahagia, dan penuh pencerahan.
Nada keseluruhannya bersifat spiritual dan transendental.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk mengenali diri sejati dan hidup dalam kesadaran penuh. Puisi ini menegaskan bahwa:
- Mengingkari diri sejati membawa penderitaan.
- Pengakuan dan penyadaran membawa kebahagiaan.
- Manusia akan menemukan makna hidup ketika menyatu dengan sumber keberadaannya.
Puisi “Siapa” karya Motinggo Boesje merupakan sajak reflektif yang mengangkat perjalanan spiritual menuju kesadaran diri. Melalui dialog antara “Aku” dan “Murid”, penyair menggambarkan proses kejatuhan, pertobatan, dan akhirnya penyatuan batin dengan kesadaran semesta.
Puisi ini tidak hanya berbicara tentang identitas, tetapi juga tentang transformasi—bahwa manusia akan menemukan kebahagiaan sejati ketika ia kembali pada hakikat dirinya.
Karya: Motinggo Boesje
Biodata Motinggo Boesje:
- Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
- Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
- Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.
