Puisi: Sore yang Lain (Karya Soni Farid Maulana)

Puisi “Sore yang Lain” karya Soni Farid Maulana menampilkan momen keseharian yang berubah menjadi ruang refleksi tentang cinta, luka, dan ingatan.
Sore yang Lain

Sore itu angin mengetuk
kaca jendela rumahku. Dan aku
saat itu tengah membaca
sejumlah surat yang kau kirim
lewat tengah malam.
"Apakah hidup sebahagia ini,
sebahagia pasangan kekasih
yang disandingkan tanpa luka?
Apakah luka sudah mengering
dalam hatimu?" kau bilang
dan aku masih tidak percaya
dengan apa yang kau tulis
dalam surat yang kau kirim
tengah malam.
Aku menarik napas dalam-dalam,
lalu aku hembuskan pelan-pelan,
sebelum meneguk kopi
dan kembali memandang
halaman rumah yang lengang,
yang mulai basah disiram hujan.
"Apakah aku masih hidup
dalam kisahmu?" kau bilang.
Aku tenggelam

2014

Sumber: Ranting patah (2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Sore yang Lain” karya Soni Farid Maulana menghadirkan suasana yang tenang namun sarat pergulatan batin. Dengan gaya naratif yang sederhana, puisi ini menampilkan momen keseharian yang berubah menjadi ruang refleksi tentang cinta, luka, dan ingatan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keraguan dalam hubungan dan bayang-bayang masa lalu. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang ingatan dan ketidakpastian perasaan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang membaca surat dari seseorang (kemungkinan kekasih di masa lalu) pada suatu sore. Surat tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan emosional: tentang kebahagiaan, luka, dan posisi penyair dalam kehidupan si pengirim.

Sambil membaca, penyair mengalami pergulatan batin—ia tidak sepenuhnya percaya pada isi surat tersebut. Aktivitas sederhana seperti menarik napas, meminum kopi, dan memandang halaman rumah yang diguyur hujan menjadi latar yang memperkuat suasana kontemplatif. Pada akhirnya, penyair tenggelam dalam pikirannya sendiri, tanpa jawaban yang pasti.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini terletak pada ketidakpastian dalam relasi emosional dan sulitnya melepaskan masa lalu.

Pertanyaan-pertanyaan dalam surat mencerminkan keraguan yang belum terselesaikan antara dua individu. Sementara itu, respons penyair yang ragu dan tenggelam menunjukkan bahwa luka atau kenangan lama mungkin belum benar-benar hilang.

Hujan yang mulai turun dapat dimaknai sebagai simbol emosi yang kembali mengalir—membangkitkan kenangan yang sebelumnya terpendam.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa hening, melankolis, dan reflektif. Ada kesunyian yang dalam, diperkuat oleh latar sore, hujan, dan aktivitas yang lambat serta penuh kesadaran.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan bahwa:
  • Hubungan emosional tidak selalu selesai meskipun waktu telah berlalu.
  • Luka dan kenangan membutuhkan proses panjang untuk benar-benar pulih.
  • Kejujuran perasaan sering kali lebih kompleks daripada yang tertulis atau terucap.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang sederhana namun kuat:
  • Imaji visual: “kaca jendela”, “halaman rumah yang lengang”, “hujan yang membasahi”.
  • Imaji auditif: “angin mengetuk kaca jendela”.
  • Imaji kinestetik: “menarik napas”, “meneguk kopi”.
Imaji-imaji ini memperkuat suasana keseharian yang intim dan kontemplatif.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
  • Personifikasi: “angin mengetuk kaca jendela”.
  • Metafora: “aku tenggelam” sebagai simbol larut dalam pikiran dan perasaan.
  • Repetisi: pengulangan frasa “kau bilang” yang menegaskan isi surat dan tekanan emosional.
  • Simbolisme: hujan sebagai lambang kesedihan atau kenangan yang kembali hadir.
Puisi “Sore yang Lain” adalah puisi yang menggambarkan bagaimana momen sederhana dapat membuka kembali ruang-ruang emosional yang belum selesai. Dengan pendekatan yang tenang dan reflektif, puisi ini menunjukkan bahwa dalam kesunyian, manusia sering kali berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan terdalam tentang cinta dan dirinya sendiri.

Soni Farid Maulana
Puisi: Sore yang Lain
Karya: Soni Farid Maulana

Biodata Soni Farid Maulana:
  • Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
  • Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.