Puisi: Suluk Cacing (Karya Aprinus Salam)

Puisi “Suluk Cacing” karya Aprinus Salam menegaskan bahwa dalam lendir dan kegelapan tanah, tersimpan nilai luhur yang menopang langkah manusia di ...
Suluk Cacing

Entah siapa yang berkenan jadi cacing
aku mau, dalam geliat tubuhku
aku rupa yang bejat
tak bermata dan bertelinga

Telah lebur apa pun dalam diriku
karena padaku kusimpan malu
Mengunyah sepanjang hayat
mengolah keras jadi kelembutan

Aku bisu di kebusukan dan lorong-lorong
juga perut dan kepala batu, dan darah
Aku bisa terbang ke mulutmu

Akulah dirimu yang licin
dalam lendir pasrah, untuk subur bumi
untuk jalan yang kau tempuh

Sumber: Suluk Bagimu Negeri (Gambang Buku Budaya, 2017)

Analisis Puisi:

Puisi “Suluk Cacing” karya Aprinus Salam menghadirkan refleksi spiritual melalui simbol makhluk yang sering dipandang hina: cacing. Dengan memanfaatkan bentuk “suluk”—yang dalam tradisi sastra Jawa merujuk pada ajaran atau laku spiritual—penyair membangun renungan tentang kerendahan hati, pengorbanan, dan peran tersembunyi dalam kehidupan.

Tema

Tema puisi ini adalah kerendahan diri dan makna pengabdian dalam siklus kehidupan. Penyair menyoroti bagaimana sesuatu yang dianggap remeh justru memiliki fungsi penting bagi keberlangsungan hidup.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah ajakan untuk melihat nilai dalam kerendahan. Cacing menjadi simbol laku spiritual: hidup tanpa pamrih, bekerja dalam diam, dan memberi manfaat tanpa pengakuan.

Frasa “mengolah keras jadi kelembutan” dapat dimaknai sebagai proses transformasi batin—bagaimana pengalaman pahit atau keras dalam hidup diolah menjadi kebijaksanaan.

Pernyataan “akulah dirimu” menunjukkan bahwa sisi rendah, rapuh, dan tersembunyi dalam diri manusia justru menjadi fondasi pertumbuhan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini kontemplatif dan reflektif. Ada nada pasrah, namun bukan dalam arti menyerah, melainkan menerima peran dengan kesadaran mendalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa kehidupan tidak selalu tentang kemuliaan yang tampak. Ada nilai luhur dalam kerja sunyi dan pengabdian tanpa sorotan. Puisi ini juga mengingatkan bahwa manusia seharusnya tidak meremehkan hal kecil atau hina, sebab justru dari situlah kesuburan dan jalan kehidupan tercipta.

Puisi “Suluk Cacing” karya Aprinus Salam adalah refleksi spiritual tentang kerendahan hati dan pengabdian. Melalui simbol cacing, penyair menunjukkan bahwa makna hidup tidak selalu terletak pada kemegahan, melainkan pada kerja sunyi yang memberi kehidupan bagi yang lain. Puisi ini menegaskan bahwa dalam lendir dan kegelapan tanah, tersimpan nilai luhur yang menopang langkah manusia di atasnya.

Aprinus Salam
Puisi: Suluk Cacing
Karya: Aprinus Salam
© Sepenuhnya. All rights reserved.